News

/

Artikel, Latest News

Hipertensi Menghantui Perempuan Menopause: Apa yang Sesungguhnya Terjadi di Balik Lonjakan Tekanan Darah?

Tubuh perempuan berubah drastis saat memasuki masa menopause. Hormon estrogen yang selama puluhan tahun menjaga kelenturan pembuluh darah perlahan surut, meninggalkan sistem kardiovaskular dalam kondisi yang jauh lebih rentan. Tekanan darah naik. Risiko hipertensi melonjak. Dan bagi jutaan perempuan paruh baya di Indonesia, ancaman itu kerap datang tanpa tanda yang jelas.

Inilah yang mendorong Prof. drg. Heni Susilowati, M.Kes., Ph.D., PBO, peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, menyelami pertanyaan yang tampaknya sederhana namun menyimpan kerumitan: faktor apa saja yang paling berpengaruh terhadap kejadian hipertensi pada perempuan menopause?

Menopause Bukan Sekadar Berhentinya Siklus Haid

Menopause adalah penanda biologis penting. Secara klinis, kondisi ini ditetapkan setelah seorang perempuan tidak mengalami menstruasi selama dua belas bulan berturut-turut. Namun dampaknya jauh melampaui urusan reproduksi.

Ketika kadar estrogen menurun, tubuh kehilangan salah satu pelindung alami sistem jantung dan pembuluh darah. Estrogen dikenal memiliki efek vasodilatasi, yakni kemampuan melebarkan pembuluh darah sehingga tekanan darah tetap terkendali. Begitu hormon ini berkurang, pembuluh darah menjadi lebih kaku, dan jantung harus bekerja lebih keras memompa darah ke seluruh tubuh.

Kondisi ini tidak berdiri sendiri. Penelitian Prof. Heni mengidentifikasi sejumlah faktor yang saling berkelindan: usia, indeks massa tubuh, riwayat keluarga dengan hipertensi, pola makan tinggi garam, kebiasaan olahraga, tingkat stres, hingga konsumsi kopi dan alkohol. Setiap faktor membawa kontribusinya masing-masing, dan kombinasinya bisa menjadi bom waktu bagi kesehatan perempuan di usia pertengahan.

Gaya Hidup Sebagai Penentu Utama

Data yang dihimpun dalam penelitian ini menunjukkan pola yang konsisten: perempuan menopause dengan indeks massa tubuh di atas normal memiliki risiko hipertensi yang lebih tinggi. Lemak tubuh berlebih, terutama yang menumpuk di area perut, berkontribusi langsung pada peningkatan resistensi insulin dan peradangan sistemik, dua kondisi yang memperparah tekanan darah.

Pola makan pun menjadi variabel krusial. Konsumsi natrium berlebih dari makanan asin dan olahan memaksa ginjal bekerja lebih keras, meningkatkan volume darah, dan pada akhirnya mendorong tekanan darah ke angka yang berbahaya. Ini bukan temuan baru secara global, tetapi relevansinya terhadap populasi perempuan menopause di Indonesia perlu mendapat perhatian lebih serius.

“Faktor risiko hipertensi pada perempuan menopause bersifat multifaktorial. Tidak bisa dilihat dari satu sisi saja — gaya hidup, genetik, dan perubahan hormonal semuanya berperan dan saling memengaruhi.”

Stres kronis juga masuk dalam daftar faktor risiko yang signifikan. Tekanan psikologis memicu pelepasan hormon kortisol dan adrenalin, yang secara langsung meningkatkan denyut jantung dan menyempitkan pembuluh darah. Bagi perempuan yang memasuki fase menopause di tengah tanggung jawab keluarga dan pekerjaan yang padat, beban stres ini sering kali tersembunyi dan tidak tertangani.

Riwayat Keluarga: Warisan yang Tak Bisa Diabaikan

Salah satu temuan yang menarik perhatian adalah kuatnya pengaruh riwayat keluarga. Perempuan dengan orang tua atau saudara kandung yang menderita hipertensi memiliki probabilitas lebih besar untuk mengalami kondisi serupa, terlebih saat memasuki menopause. Faktor genetik ini bekerja bersama perubahan hormonal, menciptakan kombinasi risiko yang berlipat ganda.

Namun penelitian ini tidak berhenti pada identifikasi risiko. Pesan yang lebih penting justru terletak pada implikasinya: karena sebagian besar faktor risiko bersifat modifiable atau dapat diubah, intervensi yang tepat waktu bisa membuat perbedaan nyata. Perubahan pola makan, peningkatan aktivitas fisik, manajemen stres, dan pemantauan tekanan darah secara rutin adalah langkah-langkah konkret yang dapat ditempuh sebelum hipertensi benar-benar mencengkeram.

Dari Laboratorium ke Kesadaran Publik

Penelitian ini relevan melampaui batas disiplin ilmu. Bagi kalangan kedokteran gigi, temuan ini memperkuat pemahaman bahwa kondisi sistemik seperti hipertensi memiliki manifestasi di rongga mulut, dan sebaliknya. Kesehatan mulut dan kesehatan umum adalah dua sisi mata uang yang sama.

Yang lebih penting, penelitian Prof. Heni mengingatkan kita bahwa menopause bukanlah akhir dari kewaspadaan kesehatan, melainkan justru awal dari fase yang membutuhkan perhatian lebih besar. Perempuan yang memasuki fase ini layak mendapatkan informasi yang memadai, akses pemeriksaan yang mudah, dan dukungan lingkungan yang mendorong gaya hidup sehat.

Tekanan darah adalah angka. Tapi di balik angka itu, ada kehidupan yang sedang berjuang untuk tetap seimbang.

Sumber DOI : https://doi.org/10.25047/j-kes.v5i3.24

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
16 July 2026

Mahasiswa Dental Summer Course 2026 Paparkan Sikat Gigi dari Limbah Sekam Padi

16 July 2026

Tumor Langka di Rahang: CBCT Ungkap Sementoblastoma Tahap Awal yang Nyaris Terlewat

16 July 2026

Akar yang Kembali Tumbuh: Revaskularisasi Selamatkan Gigi Molar Anak 12 Tahun

en_US