News

/

Artikel, Latest News

Bahan Tambal Tulang Baru Lolos Uji Keamanan Jaringan Lunak

Sebuah penelitian yang dilakukan di laboratorium Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada mengungkap temuan penting: kombinasi gipsum dengan karbonat hidroksiapatit (CHA) terbukti aman bagi jaringan lunak tubuh. Penelitian yang dipimpin oleh dr. Dyah Listyarifah, M.Sc., D.Med.Sci. bersama tim dari Laboratorium Biomedika FKG UGM dan Laboratorium Histologi Fakultas Kedokteran UGM ini menjawab pertanyaan mendasar yang selama ini belum banyak diteliti: bagaimana reaksi jaringan lunak terhadap bahan pengganti tulang sintetis, sebelum bahan tersebut digunakan pada pasien di klinik?

Mengapa Jaringan Lunak Perlu Diuji Terlebih Dahulu

Kerusakan tulang akibat cedera, infeksi, atau penyakit bisa berujung pada kecacatan jangka panjang. Pada kasus kerusakan yang luas, tulang tidak bisa pulih sendiri sehingga dokter membutuhkan bahan pengganti, atau yang dikenal sebagai bone substitute.

Selama ini, bahan pengganti tulang bisa diambil dari tubuh pasien sendiri (autograft), dari donor manusia lain (allograft), atau dari hewan (xenograft). Namun ketiganya punya kelemahan: risiko penolakan tubuh, penularan penyakit, hingga trauma pada area pengambilan jaringan donor. Itulah mengapa bahan sintetis seperti gipsum dan CHA menjadi pilihan yang semakin banyak diteliti.

Gipsum mudah mengisi rongga tulang yang tidak beraturan dan hanya memicu respons peradangan minimal. Sayangnya, gipsum terserap tubuh terlalu cepat sebelum tulang baru sempat terbentuk. CHA, di sisi lain, memiliki kemampuan memandu pertumbuhan tulang baru yang baik dengan laju penyerapan yang lebih lambat. Menggabungkan keduanya, secara logis, diharapkan menghasilkan bahan yang lebih ideal.

Namun sebelum kombinasi ini bisa digunakan pada manusia, ada satu pertanyaan kritis yang harus dijawab: apakah bahan ini aman bagi jaringan lunak yang turut bersentuhan saat pemasangan implan? Jaringan lunak, berbeda dengan tulang, diketahui memberikan respons peradangan yang jauh lebih keras terhadap benda asing.

Tikus, Implan, dan Dua Puluh Satu Hari Pengamatan

Untuk menjawab pertanyaan itu, tim peneliti menanamkan cakram kecil berdiameter 6 mm dari dua jenis bahan, yaitu gipsum murni dan kombinasi gipsum-CHA, ke dalam jaringan subkutan (di bawah kulit) punggung 25 ekor tikus Wistar jantan. Implan berbentuk cakram tipis setebal 0,8 mm ini ditanam di area paravertebral kanan dan kiri, lalu diamati pada hari ke-0, 5, 7, 14, dan 21 setelah penanaman.

Potongan jaringan tipis diwarnai dengan pewarna Hematoksilin Eosin, lalu diperiksa di bawah mikroskop oleh dua pengamat independen. Setiap preparat dinilai berdasarkan skala histologi baku untuk implan jaringan lunak, mencakup ketebalan kapsul fibrosa yang terbentuk di sekitar implan, kualitas kapsul tersebut, serta kualitas antarmuka antara implan dan jaringan sekitarnya.

Hasilnya cukup mengejutkan dalam artian yang baik. Secara statistik, tidak ditemukan perbedaan bermakna antara kedua kelompok implan dalam seluruh periode pengamatan.

“Gipsum dan kombinasi gipsum-CHA mempunyai tingkat histokompatibilitas yang sama pada jaringan lunak sampai pada hari ke-21 setelah implantasi.” — dr. Dyah Listyarifah, M.Sc., D.Med.Sci., peneliti utama

Peradangan yang Wajar dan Terkendali

Bukan berarti tidak ada reaksi sama sekali. Tubuh memang bereaksi terhadap benda asing, dan itu normal.

Pada hari ke-0 hingga ke-7, sel-sel inflamasi akut seperti leukosit polimorfonuklear (sel darah putih yang menjadi “pasukan pertama” saat ada benda asing) muncul di sekitar kedua implan. Jumlahnya hampir sama antara kelompok gipsum dan gipsum-CHA. Memasuki hari ke-14 dan ke-21, respons beralih ke fase kronis yang ditandai dengan munculnya makrofag, sel raksasa benda asing, dan limfosit.

Makrofag adalah sel “pembersih” tubuh yang bertugas menelan sisa-sisa material dan debris sel. Pada implan gipsum, jumlah makrofag berangsur berkurang seiring waktu karena gipsum lebih cepat terserap habis. Sementara pada implan gipsum-CHA, makrofag tetap aktif hingga hari ke-21 karena partikel CHA yang lebih lambat terurai terus memberikan stimulasi ringan.

Satu detail menarik: kapsul fibrosa yang terbentuk di sekitar gipsum murni pada hari ke-7 tercatat lebih tebal dibanding kapsul di sekitar gipsum-CHA. Namun secara keseluruhan, perbedaan ini tidak signifikan secara statistik. Kedua bahan juga terbukti tidak toksik karena sel-sel fibroblast jaringan sekitar mampu menempel dan tumbuh masuk ke dalam pori-pori implan tanpa ada celah yang menandakan penolakan.

Langkah Kecil Menuju Klinik

Penelitian ini bukan akhir dari perjalanan panjang validasi bahan bone substitute. Tim peneliti sendiri menegaskan bahwa uji lanjutan masih diperlukan, mencakup uji sitotoksisitas (keamanan pada sel), uji hemokompatibilitas (keamanan terhadap sel darah), serta pengamatan dengan periode implantasi yang lebih panjang.

Namun hasil ini meletakkan fondasi penting. Kombinasi gipsum-CHA yang sebelumnya sudah diketahui mampu meningkatkan proses penyembuhan tulang, kini juga terbukti tidak menimbulkan reaksi berbahaya pada jaringan lunak di sekitarnya. Ini adalah syarat minimum yang harus dipenuhi sebelum sebuah bahan medis layak diuji lebih jauh pada manusia.

Bagi dunia kedokteran gigi dan ortopedi, temuan ini membuka satu pintu lebih lebar: ada harapan bahwa suatu hari nanti, pasien dengan kerusakan tulang rahang atau tulang lainnya bisa mendapatkan penanganan yang lebih aman, lebih terjangkau, dan bebas dari risiko penolakan yang kerap menghantui prosedur transplantasi konvensional.

Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam

Photo: Freepik

Tags

Share News

Related News
16 July 2026

Pemanfaatan Cangkang Udang untuk Tingkatkan Keberhasilan Perawatan Saluran Akar

16 July 2026

Kulit Bawang Merah Melawan Bakteri Mulut: Temuan Menarik dari Laboratorium FKG UGM

16 July 2026

Gigi Susu Rontok, Lidah Pun Bergeser: Temuan Mengejutkan dari TK-TK di Kulon Progo

en_US