Abses gigi yang tampak sepele bisa berubah menjadi ancaman jiwa dalam hitungan hari. Infeksi odontogenik, yang berawal dari karies, periodontitis, atau perikoronitis, mampu menyebar melalui aliran darah, memicu sepsis, dan berujung pada kegagalan organ. Persoalannya, dokter selama ini mengandalkan pemeriksaan yang lambat dan tidak selalu akurat untuk mendeteksi seberapa jauh infeksi telah berkembang. Sebuah tinjauan literatur terbaru dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG UGM menawarkan jawaban yang selama ini luput dari perhatian: procalcitonin, sebuah biomarker yang bekerja jauh lebih cepat dan spesifik dibandingkan tes konvensional.
Artikel berjudul Procalcitonin in Odontogenic Infection: An Emerging Tool for Clinical Decision-Making ditulis oleh drg. Muhammad Reza Pahlevi, Sp.BM bersama Hamzah Sukma Anggoro, Didit Istadi, dan Pingky Krisna Arindra. Dipublikasikan di Insisiva Dental Journal edisi Mei 2026, tinjauan ini menjadi salah satu upaya sistematis pertama untuk memetakan peran procalcitonin khusus dalam konteks infeksi odontogenik.
Ketika Tes Standar Tidak Cukup Cepat
Selama ini, standar emas diagnosis sepsis adalah kultur darah. Namun prosedur ini membutuhkan waktu lama dan memiliki sensitivitas yang rendah. Dua penanda lain yang lazim dipakai, yaitu C-reactive protein (CRP) dan jumlah sel darah putih (WBC), juga bermasalah: keduanya meningkat pada hampir semua jenis infeksi dan peradangan, termasuk setelah prosedur bedah, sehingga tidak cukup akurat untuk membedakan infeksi bakteri dari penyebab lain.
Procalcitonin bekerja dengan mekanisme yang berbeda. Senyawa ini adalah prekursor hormon kalsitonin yang diproduksi oleh sel C tiroid. Dalam kondisi normal, hampir tidak terdeteksi dalam sirkulasi darah. Namun ketika tubuh diserang bakteri, lipopolisakarida dan toksin bakteri memicu ekspresi gen CALC-1 di berbagai organ seperti hati, limpa, kelenjar adrenal, dan usus. Organ-organ ini memproduksi procalcitonin dalam jumlah besar, tetapi tidak mampu mengonversinya menjadi kalsitonin, sehingga procalcitonin membanjiri aliran darah.
Yang membuatnya istimewa: infeksi virus justru menekan respons ini. Interferon-gamma yang diproduksi saat infeksi virus cenderung menghambat peningkatan procalcitonin. Artinya, kadar procalcitonin yang tinggi hampir secara eksklusif menunjuk pada infeksi bakteri. Senyawa ini terdeteksi dalam darah hanya 3-4 jam setelah infeksi, dan mencapai puncaknya dalam 6-12 jam.
Dari Abses hingga Syok Septik: Apa Kata Data
Tinjauan ini menganalisis tujuh studi klinis yang mencakup ratusan pasien dengan berbagai kondisi, mulai dari selulitis fasial, abses odontogenik, infeksi leher dalam, hingga infeksi ruang maksilofasial yang parah. Hasilnya konsisten: procalcitonin terbukti berguna dalam mayoritas kondisi tersebut.
Salah satu temuan paling kritis datang dari studi Lin et al. (2022) yang mengamati 163 pasien dengan infeksi ruang maksilofasial berat. Pada kelompok pasien yang selamat, kadar procalcitonin meningkat tajam di hari pertama, lalu turun signifikan pada hari ketiga. Sementara pada kelompok yang meninggal, kadar procalcitonin terus meningkat melampaui hari ketiga. Hari ketiga, dengan demikian, menjadi titik kritis untuk memprediksi prognosis.
“Pemantauan dinamis kadar procalcitonin serum bermanfaat untuk menilai prognosis pada pasien dengan infeksi oral dan maksilofasial yang parah, khususnya pada hari ketiga setelah masuk rumah sakit. Berdasarkan pemantauan ini, rencana pengobatan dapat segera disesuaikan untuk meningkatkan angka keselamatan.” — Lin et al., 2022, dikutip dalam tinjauan Pahlevi dkk.
Studi lain oleh Kim et al. (2021) pada 60 pasien menemukan bahwa kadar procalcitonin pada pasien sepsis jauh lebih tinggi dibandingkan pasien non-sepsis, dengan nilai cut-off 0,87 ng/mL sebagai ambang kecurigaan sepsis. Sementara Yankov dan Bocheva (2023) pada populasi pasien abses menemukan cut-off yang lebih rendah, yakni 0,225 ng/mL.
Senjata Baru Melawan Resistensi Antibiotik
Salah satu implikasi terpenting dari tinjauan ini melampaui diagnosis: procalcitonin berpotensi menjadi alat antibiotic stewardship, yakni upaya penggunaan antibiotik secara bijak untuk mencegah resistensi.
Logikanya sederhana namun kuat. Karena procalcitonin spesifik terhadap infeksi bakteri, dokter bisa menggunakannya sebagai panduan kapan antibiotik benar-benar diperlukan, kapan harus ditingkatkan, dan kapan bisa dihentikan. Kadar di bawah 0,25 ng/mL dengan tidak adanya tanda infeksi memungkinkan penundaan pemberian antibiotik. Sebaliknya, kadar 0,5-2 ng/mL mengindikasikan sepsis, sedangkan kadar 10 ng/mL ke atas mengarah pada syok septik yang membutuhkan perawatan ICU segera.
Pasien yang kadar procalcitoninnya gagal turun dalam pemeriksaan serial memiliki angka kematian lebih tinggi dan mungkin membutuhkan eskalasi ke antibiotik spektrum lebih luas. Panduan berbasis biomarker ini, jika diterapkan secara konsisten, bisa mempersingkat durasi pemberian antibiotik sekaligus meningkatkan angka keselamatan pasien.
Potensial, tapi Bukan Tanpa Batas
Para penulis juga jujur tentang keterbatasan procalcitonin. Biomarker ini tidak dapat diandalkan pada pasien dengan gagal ginjal atau yang menjalani hemodialisis, karena dialisis memengaruhi eliminasinya dari tubuh. Procalcitonin juga kurang berguna untuk menilai infeksi kronis seperti endokarditis.
Tantangan terbesar saat ini adalah belum adanya konsensus tentang nilai cut-off optimal, terutama untuk membedakan infeksi odontogenik yang terlokalisasi dari yang telah melibatkan sistem, menyebar ke leher dalam, atau berkembang menjadi sepsis. Penelitian lanjutan lintas populasi dan kondisi klinis yang lebih beragam sangat dibutuhkan.
Sebuah infeksi yang bermula dari gigi berlubang semestinya tidak harus berakhir di unit perawatan intensif. Dengan alat deteksi yang lebih tajam dan panduan terapi yang lebih presisi, celah antara “terlambat mendeteksi” dan “tepat waktu bertindak” bisa dipersempit, satu pengukuran darah setiap kali.
Sumber DOI : http://10.18196/di.v15i1.29622
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels