News

/

Artikel, Latest News, SDG 10, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Rumus Barat Tak Cocok untuk Gigi Anak Jawa: Temuan Prof. Sri Kuswandari dari Yogyakarta

Bayangkan seorang dokter gigi anak sedang merencanakan perawatan ortodontik untuk pasien berusia 12 tahun. Ia mengukur gigi seri bawah, memasukkan angka ke dalam tabel prediksi standar internasional, lalu memutuskan apakah ada cukup ruang di rahang untuk gigi taring dan premolar yang belum tumbuh. Keputusan itu menentukan apakah gigi perlu dicabut atau tidak. Masalahnya: tabel yang ia gunakan dibuat berdasarkan data gigi anak-anak Amerika berkulit putih. Bukan anak Jawa.

Itulah persoalan yang mendorong Prof. drg. Sri Kuswandari, MS., Sp.KGA., Ph.D., dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, bersama tim peneliti dari Universitas Tokushima Jepang, untuk menggali data dari 285 anak sekolah di Yogyakarta. Hasilnya, yang dipublikasikan dalam Pediatric Dental Journal pada 2006, membuktikan bahwa dua metode prediksi paling populer di dunia, yakni metode Moyers dan Tanaka-Johnston, secara konsisten meleset saat diterapkan pada anak-anak Jawa.

Mengapa Prediksi Gigi Itu Krusial

Periode gigi bercampur, saat gigi susu dan gigi permanen hadir bersamaan dalam satu rahang, adalah jendela kritis dalam tumbuh kembang oklusi anak. Di sinilah dokter gigi anak harus menentukan apakah ruang yang tersedia di lengkung rahang cukup untuk menampung gigi taring, premolar pertama, dan premolar kedua yang masih bersembunyi di dalam tulang.

Metode Moyers dan Tanaka-Johnston selama ini menjadi andalan karena sederhana: cukup mengukur lebar mesiodistal empat gigi seri bawah, lalu cocokkan dengan tabel probabilitas. Tidak butuh foto rontgen, tidak butuh alat khusus. Praktis dan cepat.

Namun kepraktisan itu menyimpan jebakan. Kedua metode dikembangkan dari data populasi Amerika berkulit putih, yang ukuran giginya terbukti lebih kecil dibanding gigi anak Jawa. Ketika Prof. Kuswandari dan timnya membandingkan prediksi kedua metode itu dengan ukuran gigi aktual dari 285 model gigi anak Yogyakarta, berusia 11 hingga 14 tahun, hasilnya mengkhawatirkan: kedua metode secara konsisten underestimate, atau meremehkan ukuran segmen kaninus-premolar, khususnya pada anak laki-laki.

Gigi Seri Bawah Bukan Prediktor Terbaik untuk Anak Jawa

Temuan yang paling mengejutkan bukan sekadar konfirmasi bahwa metode Barat itu tidak cocok. Yang lebih penting adalah mengapa, dan apa penggantinya.

Pada populasi lain, korelasi antara jumlah lebar gigi seri rahang bawah dan ukuran segmen kaninus-premolar cukup kuat, berkisar 0,63 hingga 0,79 pada anak Tionghoa Hong Kong, misalnya. Pada anak Jawa, korelasi itu hanya mencapai 0,56 hingga 0,66. Artinya, gigi seri bawah bukan penjelas yang andal untuk memprediksi ukuran gigi taring dan premolar pada populasi ini.

Tim peneliti kemudian menguji berbagai kombinasi kelompok gigi lain sebagai variabel prediktor. Hasilnya menemukan bahwa kombinasi molar pertama rahang atas dan gigi seri lateral rahang bawah memberikan korelasi yang lebih tinggi, mencapai 0,67 hingga 0,73, melampaui kombinasi gigi seri yang selama ini menjadi standar. Molar pertama atas terbukti menjadi gigi paling stabil secara dimensional di antara semua elemen gigi yang diteliti.

Dari temuan itu, Prof. Kuswandari mengembangkan persamaan regresi linier baru yang spesifik untuk anak Jawa, lengkap dengan tabel probabilitas klinis yang siap pakai. Akurasi persamaan baru ini, diukur dari nilai koefisien determinasi dan standar error estimasi, secara konsisten lebih baik dibanding persamaan Tanaka-Johnston maupun persamaan berbasis gigi seri bawah.

Angka yang Berbicara tentang Identitas Biologis

Data deskriptif dalam penelitian ini juga membuka mata. Rata-rata lebar segmen kaninus-premolar rahang atas pada anak laki-laki Jawa adalah 23,05 mm, sementara perempuan 22,34 mm. Angka ini secara konsisten lebih besar dari nilai yang diprediksi oleh metode Moyers maupun Tanaka-Johnston, yang hanya memperkirakan 22,14 mm dan 22,61 mm untuk laki-laki.

Perbedaan yang tampak kecil itu, kurang dari satu milimeter, bisa terasa sepele. Tetapi dalam konteks perencanaan ortodontik, selisih tersebut bisa menjadi perbedaan antara keputusan mencabut gigi atau tidak.

“Tooth size differences among races are an important variable that must be concerned in a prediction equation.”

Kalimat itu, yang tertulis dalam diskusi penelitian, bukan sekadar pernyataan ilmiah. Ia adalah pengingat bahwa data biologis memiliki identitas etnisnya sendiri, dan bahwa standar yang lahir dari satu populasi tidak bisa begitu saja diekspor ke populasi lain tanpa verifikasi.

Warisan Data untuk Generasi Klinisi

Penelitian ini mengumpulkan data dari 3.832 anak di 16 sekolah menengah pertama dan 5 sekolah dasar di Yogyakarta selama 2000-2001, sebuah upaya lapangan yang tidak kecil. Cetakan gigi diambil dari tiap subjek, dituang dalam gips keras, dan setiap gigi diukur dua kali pada waktu berbeda dengan kaliper berketepatan 0,05 mm.

Hasilnya bukan hanya sebuah paper. Tabel probabilitas yang dihasilkan dari persamaan regresi baru itu dirancang langsung untuk digunakan di klinik, menggantikan tabel Moyers yang selama bertahun-tahun terpajang di meja kerja dokter gigi anak Indonesia.

Lebih dari dua dekade sejak data itu dikumpulkan, pertanyaan yang diajukan penelitian ini tetap relevan: seberapa banyak panduan klinis yang kita gunakan sehari-hari sesungguhnya dibangun di atas data populasi kita sendiri? Untuk anak-anak Jawa yang duduk di kursi periksa dengan gigi campurannya, jawabannya kini sedikit lebih jelas.

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : https://fkg.ugm.ac.id/wp-content/uploads/sites/30/2024/10/Dok-Sri-Kuswandari.jpg

Tags

Share News

Related News
15 July 2026

Nifedipin dan Gusi yang Membengkak: Apa Peran Protein p53 di Baliknya?

15 July 2026

Daun Stevia Terbukti Seefektif Obat Kumur Klorheksidin dalam Menghambat Bakteri Plak Gigi

15 July 2026

Racun Ular Kobra di Balik Penyembuhan Luka: Riset Prof. Tetiana Membuka Jalan Baru Terapi Mukosa Mulut

en_US