News

/

Artikel, Latest News, SDG 10, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Benjolan Tujuh Tahun di Bibir Atas: Saat Tumor Langka Menyamar Sebagai Lipoma

Selama tujuh tahun, seorang remaja perempuan berusia 16 tahun hidup dengan benjolan di bibir atas kirinya. Tidak nyeri, tidak mengganggu aktivitas sehari-hari, dan warnanya pun sama dengan jaringan di sekitarnya. Tidak ada yang tampak mencurigakan. Sampai akhirnya ia datang ke Klinik Bedah Mulut Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof. Soedomo Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan pemeriksaan histopatologi mengungkap sesuatu yang jarang sekali dijumpai: schwannoma pada bibir atas.

Kasus ini kemudian dipublikasikan dalam International Journal of Surgery Case Reports pada Februari 2024, ditulis oleh tim dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG UGM, termasuk drg. Muhammad Reza Pahlevi, Sp.BM, bersama Rizqan Maulana, drg. Yosaphat Bayu Rosanto, drg. Bramasto Purbo Sejati, dan drg. Cahya Yustisia Hasan sebagai penulis korespondensi.

Tumor yang Hampir Tak Pernah Ada di Bibir

Schwannoma, atau neurilemmoma, adalah tumor jinak yang berasal dari sel Schwann, yakni sel glial yang membentuk selubung mielin di sekitar akson saraf. Tumor ini tumbuh lambat, soliter, tidak nyeri, dan terbungkus kapsul. Sekitar 25 hingga 40 persen schwannoma ditemukan di area kepala dan leher, namun hanya satu persen di antaranya terlokasi di rongga mulut.

Yang membuat kasus ini luar biasa: dari seluruh laporan yang pernah tercatat, baru dua belas kasus schwannoma pada bibir atas yang terdokumentasi di seluruh dunia. Hanya empat di antaranya terjadi pada pasien di bawah usia 20 tahun. Bibir, secara anatomis, tersusun dari jaringan ikat, lemak, kulit, dan kelenjar saliva minor sehingga lesi yang lazim ditemukan di sana adalah lipoma, mukokel, dan fibroma. Bukan schwannoma.

Karena itulah diagnosis awal pasien ini pun mengarah ke lipoma. Benjolan berukuran 1,5 kali 3 sentimeter itu terasa lunak, mudah digerakkan, tidak nyeri, dan hasil biopsi aspirasi jarum halus hanya menunjukkan eritrosit, limfosit, dan makrofag tanpa tanda keganasan.

Tanda Khas yang Tersembunyi di Bawah Mikroskop

Kebenaran baru terungkap setelah pasien menjalani eksisi bedah di bawah anestesi umum dan jaringan tumor diperiksa secara histopatologi dengan pewarnaan hematoxylin-eosin. Gambaran mikroskopis memperlihatkan dua pola khas: area hiperseluler dengan susunan inti sel berbentuk palisade (Antoni A) dan area hiposelular dengan sel bulat kecil dalam stroma miksoid (Antoni B). Di antara keduanya, tampak struktur yang disebut Verocay bodies, atau “tiger skin appearance”, pola palisade yang menjadi ciri khas histopatologis schwannoma.

Untuk memastikan diagnosis, tim melakukan pemeriksaan imunohistokimia menggunakan penanda protein S100. Hasilnya tegas: seluruh sitoplasma sel tumor terwarnai positif dengan intensitas kuat, lebih dominan pada pola Antoni A. Gambaran ini mengonfirmasi bahwa tumor tersebut adalah schwannoma tipe klasik.

“Upper lip schwannoma is a very rare tumor, and this type of tumor cannot be distinguished from other benign soft tissue tumors based on clinical findings. Immunohistochemical analysis is the gold standard for histopathological examination, to confirm rare cases of schwannoma on the upper lip.” — Maulana et al., International Journal of Surgery Case Reports, 2024

Tim juga menduga tumor ini berasal dari nervus maxillaris, cabang nervus trigeminus, yang berkembang dari nervus superior labialis di regio bibir atas.

Eksisi Tuntas, Pemulihan Tanpa Jejak

Penanganan schwannoma pada dasarnya sederhana namun harus presisi: eksisi hingga dasar kapsul tumor. Jika pengangkatan tidak tuntas, risiko rekurensi tetap ada. Dari dua belas kasus yang pernah dilaporkan, hanya satu yang mengalami kekambuhan, yakni setelah tiga tahun tindak lanjut.

Pada kasus pasien remaja ini, evaluasi hari ketujuh pascaoperasi menunjukkan tidak ada dehisensi luka, tidak ada tanda infeksi, dan hanya pembengkakan minimal. Seluruh jahitan mukosa dan bibir dilepas. Satu tahun kemudian, luka sembuh sempurna dan tidak ada tanda-tanda rekurensi, dengan hasil estetis yang memuaskan.

Perawatan pasien ini pun didukung pembiayaan melalui BPJS Kesehatan, menegaskan bahwa penanganan kasus bedah mulut kompleks sekalipun dapat diakses melalui skema jaminan kesehatan nasional.

Pelajaran dari Satu Kasus yang Nyaris Terlewat

Kasus ini memberi pelajaran penting bagi klinisi: benjolan di bibir yang tampak jinak secara klinis belum tentu merupakan lipoma atau mukokel. Schwannoma perlu masuk dalam daftar diagnosis banding, terutama jika benjolan bersifat sesil, sewarna dengan mukosa sekitar, tidak nyeri, dan mudah digerakkan.

Pemeriksaan imunohistokimia terbukti menjadi penentu diagnosis akhir yang tidak dapat digantikan oleh temuan klinis semata. Dalam dunia kedokteran gigi, di mana lesi rongga mulut seringkali tampak serupa satu sama lain, ketelitian membaca gambaran histologis dan keberanian mempertimbangkan diagnosis yang tidak lazim bisa menjadi pembeda antara penanganan yang tepat dan yang terlewat.

Tujuh tahun benjolan itu diam di bibir sang pasien. Satu prosedur eksisi mengakhirinya, dan satu laporan kasus menjadikannya pengetahuan bagi komunitas medis global.

Sumber DOI : https://doi.org/10.1016/j.ijscr.2024.109445

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
15 July 2026

Minyak Kencur di Bawah Mikroskop: Saat Tanaman Dapur Meredam Penjaga Imun Tubuh

15 July 2026

Tanda Bahaya dari Dalam Mulut: Riset Periodontitis FKG UGM Ungkap Jejak Sitokin di Darah

15 July 2026

Alat Kecil, Dampak Besar: Saat Otot Bibir Anak Dilatih Sejak Dini

en_US