Sepotong informasi kecil tentang kalsium ternyata menyimpan implikasi besar bagi pembentukan gigi anak. Ketika seorang ibu hamil kekurangan kalsium, bukan hanya tulang yang terdampak — jaringan keras gigi yang sedang terbentuk di dalam rahim pun ikut menanggung akibatnya.
Itulah premis yang mendorong drg. Heriati Sitosari, M.D.Sc., Ph.D bersama tim penelitinya untuk menggali lebih jauh soal suplementasi kalsium selama kehamilan. Hasilnya dipublikasikan dalam Malaysian Journal of Medicine & Health Sciences edisi November 2019, dan kini terindeks di EBSCO Academic Search Complete — penanda bahwa riset ini telah melewati serangkaian penilaian ilmiah yang ketat.
Ketika Gigi Terbentuk Sebelum Lahir
Banyak orang tidak menyadari bahwa gigi anak mulai berkembang jauh sebelum bayi menghirup udara pertamanya. Proses amelogenesis dan dentinogenesis — pembentukan enamel dan dentin — berlangsung aktif di dalam kandungan, dan keduanya membutuhkan pasokan kalsium yang memadai.
Kalsium nano hadir sebagai jawaban atas keterbatasan kalsium konvensional. Ukurannya yang lebih kecil secara signifikan membuat partikel ini lebih reaktif secara kimiawi dan memiliki bioavailabilitas yang lebih tinggi dibanding kalsium mikro biasa. Pertanyaannya: apakah keunggulan ini benar-benar berdampak pada kualitas mineralisasi gigi yang sedang berkembang?
Empat Kelompok Tikus, Satu Pertanyaan Besar
Untuk menjawab pertanyaan itu, tim peneliti — yang melibatkan Finsa Tisna Sari, Alma L. Jonarta, Tetiana Haniastuti, dan Hirohiko Okamura — merancang eksperimen menggunakan tikus Sprague Dawley bunting. Hewan model ini dipilih karena siklus kehamilannya yang singkat dan kemiripan fisiologisnya dengan mamalia lain dalam konteks penelitian gigi.
Tikus-tikus bunting dibagi ke dalam empat kelompok perlakuan: kelompok yang mendapat kalsium nano ditambah vitamin D, kalsium mikro ditambah vitamin D, vitamin D saja, dan air suling sebagai kontrol. Perlakuan diberikan sejak hari pertama kehamilan hingga satu hari setelah kelahiran anak tikus.
Evaluasi dilakukan pada molar pertama mandibula anak tikus menggunakan tiga metode: pewarnaan Alizarin Red untuk melihat area deposisi kalsium, pemeriksaan ekspresi mRNA dentin sialophosphoprotein (Dspp), serta pengukuran kadar kalsium pada insisor yang telah erupsi.
Deposisi Lebih Luas, Ekspresi Gen Lebih Aktif
Hasilnya berbicara cukup tegas. Pewarnaan Alizarin Red pada benih gigi molar tahap bell stage menunjukkan bahwa area deposisi kalsium pada kelompok kalsium nano dan vitamin D lebih luas dibanding kelompok lain, dengan perbedaan yang bermakna secara statistik (p<0,05).
“Nano calcium supplementation during pregnancy on Sprague Dawley affects mineral deposition during tooth development.” — Heriati Sitosari dkk., Malaysian Journal of Medicine & Health Sciences, 2019
Ekspresi mRNA Dspp — penanda molekuler penting dalam proses dentinogenesis — juga menunjukkan perbedaan signifikan antar kelompok (p<0,05). Dspp adalah protein yang memainkan peran kunci dalam mineralisasi dentin; ekspresinya yang lebih tinggi mengindikasikan aktivitas pembentukan jaringan keras yang lebih intens.
Menariknya, meski deposisi mineral selama perkembangan lebih besar pada kelompok nano kalsium, kadar kalsium akhir pada gigi yang sudah erupsi tidak menunjukkan perbedaan signifikan antar kelompok (p>0,05). Temuan ini membuka pertanyaan lanjutan: apakah ada mekanisme kompensasi biologis yang bekerja setelah gigi erupsi, ataukah dampak terbesar suplementasi memang terjadi justru pada fase perkembangan awal?
Dari Kandang Tikus ke Pertanyaan Klinis
Penelitian ini belum menjawab segalanya — dan para peneliti tampaknya menyadari itu. Perbedaan pada fase perkembangan yang tidak berlanjut ke komposisi mineral gigi erupsi memberi ruang bagi penelitian lanjutan: apakah pola yang sama akan muncul pada manusia, dan apakah ada dosis optimal kalsium nano yang memberikan manfaat maksimal tanpa risiko?
Yang jelas, riset ini menegaskan bahwa jendela waktu kehamilan bukan sekadar periode kritis bagi pertumbuhan tulang janin — ia juga menentukan fondasi pertama kesehatan gigi anak. Sebuah fondasi yang, sekali terbentuk, tidak mudah diperbaiki setelah lahir.
Sumber DOI : –
Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pixels