News

/

Artikel, Latest News, SDG 10, SDG 11, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 5, SDG 9

Implan Gigi untuk Warga Terban: Saat Kehilangan Gigi Menjadi Krisis Kesehatan yang Tersembunyi

Dari 70 warga Kelurahan Terban yang hadir dalam sesi penyuluhan di balai desa, hampir semuanya tidak tahu bahwa gigi yang hilang bisa memicu depresi. Mereka datang karena penasaran — ada yang diantar tetangga, ada yang sekadar lewat. Tapi data yang dikumpulkan tim FKG UGM justru membuka gambaran yang jauh lebih berat dari sekadar masalah estetika.

Ketika Gigi yang Hilang Menggerogoti Lebih dari Sekadar Senyum

Kelurahan Terban bukan desa terpencil. Lokasinya justru berdekatan dengan pusat pendidikan dan layanan kesehatan di Yogyakarta. Namun ironi itu nyata: indeks DMF-T (Decayed, Missing, Filled Teeth) warganya mencapai 9,125 pada pemeriksaan awal Desember 2022 — jauh melampaui ambang batas WHO. Artinya, rata-rata setiap warga memiliki lebih dari sembilan gigi yang rusak, hilang, atau ditambal.

Penelitian yang dipimpin drg. Yosaphat Bayu Rosanto, MDSc, Sp.BMM dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG UGM, bersama drg. Dyah Listyarifah dan drg. Hanni Handayani Budi Nagari, menjawab persoalan ini lewat program pengabdian masyarakat yang diterbitkan dalam Indonesian Journal of Community Engagement (Vol. 10, No. 1, Maret 2024). Program ini tidak berhenti pada penyuluhan — lima warga terpilih mendapatkan pemasangan implan gigi secara gratis.

Pemeriksaan terhadap 74 warga menghasilkan temuan yang mengkhawatirkan. Sebanyak 46 orang masuk kategori kelebihan berat badan dan obesitas. Dari kelompok ini, 35 orang (76 persen) menunjukkan tekanan darah di atas normal. Hubungannya dengan gigi bukan kebetulan: kehilangan gigi belakang membuat kemampuan mengunyah turun drastis, memaksa penderitanya beralih ke makanan lunak dan tinggi karbohidrat sederhana — pola makan yang mendorong penambahan berat badan dan memperburuk risiko hipertensi.

Angka yang Berbicara Lebih Keras dari Keluhan

Dua instrumen psikologis digunakan tim untuk mengukur dampak kehilangan gigi terhadap kesehatan jiwa: GHQ-12 (General Health Questionnaire) dan HUI3 (Health Utilities Index Mark 3).

Hasilnya mengejutkan. Dari 57 responden yang mengisi GHQ-12, rata-rata skor individual mencapai 17,28 — jauh melampaui batas 12 yang menjadi ambang risiko gangguan mental. Hanya empat orang yang skornya di bawah 12. Artinya, mayoritas warga yang kehilangan gigi berada dalam kondisi rentan secara psikologis: kehilangan kepercayaan diri, merasa tidak berguna, hingga berisiko mengalami depresi.

Skor HUI3 juga menunjukkan penurunan fungsi yang nyata, terutama pada aspek penglihatan (1,80), daya ingat (1,82), dan rasa nyeri (1,82) — lebih tinggi dari temuan serupa pada populasi di Jepang yang diteliti Takemae et al. (2012), di mana seluruh kelompok usia mencatat skor di bawah 1.

“Kehilangan gigi dapat berdampak psikologis yang signifikan pada kehidupan seseorang, terlepas dari sikap dan kondisi sosial ekonomi mereka.”

Kutipan itu bukan sekadar klaim — ia didukung data lapangan dari warga Terban sendiri.

Lima Pasien, Lima Titanium, Satu Harapan Baru

Dari 70 peserta penyuluhan, lima warga memenuhi kriteria klinis untuk pemasangan implan: kondisi edentulous tunggal, lebar alveolar lebih dari 6,5 mm, ruang interokusal lebih dari 7 mm, dan kebersihan mulut yang memadai. Kelima pasien adalah perempuan, berusia antara 29 hingga 49 tahun.

Sebelum tindakan, masing-masing menjalani pemeriksaan menyeluruh — darah lengkap, radiologi konvensional, hingga Cone-Beam Computed Tomography (CBCT) untuk memetakan kepadatan tulang secara tiga dimensi dan menghindari kerusakan pada saraf atau pembuluh darah di sekitar area implan. Prosedur pemasangan menggunakan teknik one-stage surgical dengan sistem Taper Kit (Osstem, Korea).

Kepadatan tulang keempat pasien tercatat D4, sementara satu pasien (LK, 29 tahun) memiliki kepadatan D3 — kondisi yang lebih padat dan ideal untuk oseointegasi. Implan berdiameter 3,5 mm hingga 5 mm dipasang di area gigi yang hilang, mulai dari gigi seri hingga molar.

Salah satu tantangan yang dihadapi tim bukan soal teknis, melainkan psikologis. Meyakinkan warga bahwa prosedur bedah ini aman membutuhkan pendekatan tersendiri. Meski tindakan dilakukan oleh residen bedah mulut dan maksilofasial, seluruh prosedur berada di bawah supervisi ketat dokter spesialis konsultan implan.

Terban sebagai Cermin, Implan sebagai Jembatan

Indeks DMF-T Terban yang tercatat 7,47 dalam pemeriksaan program ini — turun dari 9,125 pada survei awal — menunjukkan bahwa intervensi bertahap memberi hasil. Indeks debris 0,87 masuk kategori baik, meski indeks kalkulus 1,95 masih memerlukan perawatan lanjutan.

Program ini bukan sekadar layanan gigi gratis. Ia adalah model kolaborasi: FKG UGM, Puskesmas Gondokusuman I dan II, alumni, dosen, mahasiswa, dan warga Terban bekerja dalam satu jaringan. Pemeriksaan penyakit tidak menular dari puskesmas diintegrasikan dalam satu kunjungan yang sama, sehingga warga mendapat manfaat berlapis.

Evaluasi pasca-pemasangan dijadwalkan satu tahun setelah tindakan. Hasilnya akan menjadi data pembanding untuk program serupa berikutnya — sebuah penelitian longitudinal yang lahir dari pengabdian, bukan dari laboratorium steril.

Kelurahan Terban ada di jantung kota, tapi warganya hidup dengan beban kesehatan yang selama ini luput dari perhatian. Gigi yang hilang bukan cuma soal penampilan — ia adalah pintu masuk menuju malnutrisi, hipertensi, isolasi sosial, dan depresi. Implan titanium yang kini tertanam di rahang lima perempuan Terban itu mungkin kecil ukurannya. Tapi beratnya, bagi mereka, jauh lebih dari sekadar gram.

Sumber DOI : http://doi.org/10.22146/jpkm.90557

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
15 July 2026

Biji Kelor Melawan Bakteri Pembandel di Saluran Akar Gigi

15 July 2026

Ketika Gigi Anak Bisa Bercerita Tentang Usianya

15 July 2026

Lubang di Lantai Kamar Pulpa: Perawatan Gigi Justru Menciptakan Masalah Baru

en_US