News

/

Artikel, Latest News, SDG 10, SDG 16, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Ketika Gigi Anak Bisa Bercerita Tentang Usianya

Seorang anak datang ke klinik tanpa membawa dokumen apa pun. Tidak ada akta kelahiran, tidak ada catatan medis. Yang ada hanya satu hal: gigi-giginya yang sedang tumbuh bergantian. Bagi dokter gigi anak yang terlatih, itu sudah cukup untuk memulai analisis.

Itulah premis yang mendasari penelitian Prof. drg. Sri Kuswandari, MS., Sp.KGA., Ph.D. dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. Studinya mengkaji seberapa erat hubungan antara maturasi gigi, erupsi gigi permanen, dan usia kronologis pada anak-anak yang sedang berada di periode gigi bercampur, yakni fase transisi ketika gigi susu satu per satu digantikan oleh gigi permanen.

Hasilnya menarik sekaligus menggugah pertanyaan lanjutan.

Panoramik Sebagai Jendela Tumbuh Kembang

Penelitian ini melibatkan 77 anak usia 5,98 hingga 11,90 tahun, terdiri dari 38 anak laki-laki dan 39 anak perempuan, seluruhnya pasien Klinik Ilmu Kedokteran Gigi Anak RSGM Prof. Soedomo FKG UGM. Data dikumpulkan antara Agustus hingga Oktober 2013.

Ada dua pendekatan yang dipadukan. Pertama, pemeriksaan klinis langsung untuk menghitung jumlah gigi permanen yang sudah muncul di rongga mulut. Kedua, foto radiografi orthopantomograf (OPG) digital untuk menilai tingkat kalsifikasi gigi menggunakan metode Dermijian, sebuah sistem penilaian yang membagi perkembangan gigi ke dalam delapan tahap, dari awal tanda kalsifikasi (grade A) hingga penutupan apeks akar (grade H). Skor dihitung dari tujuh gigi permanen rahang bawah kiri.

Metode Dermijian dipilih bukan tanpa alasan. Dibandingkan metode lain, metode ini dinilai memiliki reliabilitas tinggi karena menggunakan kriteria deskripsi paling detail dengan mempertimbangkan panjang relatif mahkota dan akar gigi.

Perempuan Lebih Dulu Matang, Tapi Tidak Selalu Lebih Banyak Giginya

Salah satu temuan yang paling menonjol: anak perempuan secara konsisten menunjukkan skor maturasi gigi lebih tinggi dibanding anak laki-laki di setiap kelompok umur. Perbedaan ini bermakna secara statistik pada kelompok usia tujuh, delapan, dan sebelas tahun.

Namun, ketika yang dihitung adalah jumlah gigi permanen yang sudah benar-benar muncul di mulut, perbedaan antara laki-laki dan perempuan tidak signifikan. Mengapa?

Prof. Sri Kuswandari menjelaskan bahwa erupsi gigi tidak hanya ditentukan oleh maturasi biologis semata. Faktor lingkungan, terutama kehilangan gigi susu terlalu dini akibat karies atau pencabutan, juga ikut campur. Gigi permanen bisa erupsi lebih awal dari seharusnya bila tulang di atasnya sudah tergerus oleh infeksi, meskipun pembentukan akar baru mencapai kurang dari 50%.

Ini menunjukkan bahwa maturasi gigi dan erupsi gigi adalah dua hal yang berkaitan erat, tapi tidak identik.

Metode Dermijian: Andal, Tapi Perlu Disesuaikan

Korelasi antara erupsi gigi, maturasi gigi, dan usia kronologis terbukti kuat, dengan koefisien korelasi berkisar 0,75 hingga 0,86. Usia kronologis dan maturasi gigi bersama-sama mampu menjelaskan 58 hingga 73,6 persen variasi dalam jumlah gigi yang erupsi.

Namun ada catatan penting: metode Dermijian secara konsisten memprediksi usia lebih tua dari yang sebenarnya. Rata-rata selisihnya mencapai 0,71 tahun pada anak laki-laki dan 0,95 tahun pada anak perempuan, dengan total rata-rata 0,83 tahun.

“Metode Dermijian bisa diandalkan untuk digunakan prediksi umur pasien di klinik Kedokteran Gigi Anak, namun perlu adanya modifikasi atau penyesuaian bila digunakan untuk populasi anak-anak Indonesia.”

Overestimasi ini bukan fenomena lokal. Studi pada anak-anak di Hong Kong menunjukkan selisih 0,62 tahun untuk laki-laki dan 0,36 tahun untuk perempuan. Pada anak-anak Iran, selisihnya lebih kecil, sekitar 0,15 hingga 0,21 tahun. Penyebab utamanya adalah asal-usul metode ini sendiri: Dermijian dikembangkan berdasarkan data anak-anak Kanada keturunan Prancis sebelum tahun 1971, lebih dari lima dekade silam dan dari populasi yang sama sekali berbeda.

Satu faktor lain yang patut dicermati adalah akselerasi maturasi lintas generasi. Penelitian Nadler menunjukkan bahwa anak-anak era 1990-an mengalami maturasi gigi rata-rata 1,40 tahun lebih awal dibanding anak-anak era 1970-an. Fenomena serupa juga terjadi pada tanda-tanda pubertas. Artinya, standar lama bisa jadi tidak lagi mencerminkan kondisi anak-anak masa kini.

Implikasi Klinis yang Lebih Luas

Bagi dokter gigi anak, temuan ini bukan sekadar angka di atas kertas. Penilaian usia gigi atau dental age memiliki implikasi praktis yang nyata: menentukan waktu tepat memulai perawatan ortodontik, merencanakan pencabutan gigi susu, hingga membantu identifikasi forensik pada kasus anak yang tidak diketahui identitasnya.

Penelitian Prof. Sri Kuswandari menegaskan bahwa hubungan antara ketiga variabel itu cukup kuat untuk dijadikan prediktor klinis. Tapi ia juga memberi peringatan halus: standar yang dibangun dari populasi lain, di era yang berbeda, harus selalu dikalibrasi ulang sebelum diterapkan.

Gigi memang bisa bercerita tentang usia seorang anak. Pertanyaannya adalah, apakah kita sudah mendengarkan dalam bahasa yang tepat?

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
15 July 2026

Lubang di Lantai Kamar Pulpa: Perawatan Gigi Justru Menciptakan Masalah Baru

15 July 2026

Biji Ketumbar Melawan Radang Gusi: Ketika Bumbu Dapur Menantang Standar Emas Kedokteran Gigi

15 July 2026

Wajah yang Bercerita: Membaca Tanda Talasemia dari Profil Lateral Anak Jawa

en_US