News

/

Artikel, Latest News

Ketika-Kontrasepsi-Hormonal-Mengubah-Lapisan-Mulut-Temuan-Peneliti-FKG-UGM-dari Desa Magelang

Empat puluh perempuan dari Kampung KB di Desa Banyurojo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, mungkin tidak membayangkan bahwa usap kecil di langit-langit mulut mereka akan menjadi bagian dari sebuah publikasi ilmiah internasional. Namun itulah yang terjadi — dan hasilnya mengungkap sesuatu yang selama ini luput dari perhatian: kontrasepsi hormonal tidak hanya bekerja di rahim, tetapi juga meninggalkan jejak yang terukur di mukosa mulut.

Dari Cytobrush hingga Jurnal Internasional

Penelitian ini dipimpin oleh Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO, guru besar Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, bersama dua mahasiswa program studi kedokteran gigi, Urfa Tabtila dan Swastiana Eka Yunita. Hasil kerja mereka diterbitkan dalam Journal of International Dental and Medical Research pada tahun 2021, di bawah judul “Effect of Contraception on the Expression of Cytokeratin 1 in Epithelial Cells of the Palatal Mucosa and Salivary Estrogen.”

Desain penelitiannya tergolong cermat. Empat puluh peserta dibagi merata ke dalam empat kelompok: pengguna pil kontrasepsi, pengguna suntik, pengguna alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR/IUD), dan kelompok kontrol tanpa kontrasepsi. Masing-masing kelompok beranggotakan sepuluh perempuan berusia 20 hingga 35 tahun yang memenuhi kriteria kesehatan umum dan higiene mulut yang memadai.

Pengambilan sampel dilakukan dengan cara yang tidak lazim dibayangkan orang awam. Sel-sel epitel dari palatum — langit-langit keras mulut — diambil menggunakan cytobrush yang dibasahi larutan NaCl 0,09%, lalu dioleskan pada kaca objek khusus untuk proses pewarnaan imunohistokimia. Sampel saliva dikumpulkan dengan metode unstimulated antara pukul 15.00 hingga 17.00, kemudian diukur kadar estrogennya menggunakan kit ELISA. Seluruh prosedur telah mendapat persetujuan komite etik FKG UGM.

Estrogen di Saliva, Keratin di Sel

Protein yang menjadi fokus penelitian ini adalah Cytokeratin 1 (CK1), sebuah protein struktural yang diekspresikan oleh sel-sel epitel berkeratin di lapisan suprabasal mukosa mulut. Keratinisasi — proses pematangan sel epitel menjadi lapisan pelindung yang keras — diketahui dipengaruhi oleh hormon seks, termasuk estrogen. Pertanyaan yang diajukan tim peneliti sederhana namun tajam: apakah penggunaan kontrasepsi, khususnya yang bersifat hormonal, mengubah pola ekspresi CK1 dan kadar estrogen saliva secara bermakna?

Jawaban yang diperoleh cukup mengejutkan dalam hal kekuatan korelasinya.

“Hormonal contraception could increase the keratinization of epithelial cells by increasing CK1 expression and correlate with increasing salivary estrogen.” — Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO, dan tim, dalam simpulan penelitian

Analisis ANOVA menunjukkan perbedaan bermakna antara kelompok dalam hal ekspresi CK1 dan kadar estrogen saliva (p < 0,05). Uji post hoc Games-Howell mempertegas bahwa perbedaan signifikan terdapat antara kelompok kontrol, pil, dan suntik — sementara kelompok IUD tidak berbeda bermakna dari kelompok kontrol. Hal ini masuk akal secara biologis: pil mengandung ethinyl estradiol, suntik mengandung estradiol cypionate, sementara IUD bekerja dengan komponen progesteron (progestin) tanpa kadar estrogen tambahan yang signifikan.

Yang paling mencolok adalah kekuatan korelasi antara estrogen saliva dan ekspresi CK1: nilai r Pearson mencapai 0,880 — tergolong korelasi kuat. Semakin tinggi kadar estrogen dalam saliva, semakin banyak sel palatum yang mengekspresikan CK1.

Palatum sebagai Cermin Hormonal

Temuan ini memiliki implikasi yang melampaui sekadar data laboratorium. Mukosa palatum ternyata bukan sekadar lapisan pasif di atap mulut. Ia sensitif terhadap fluktuasi hormonal, dan perubahan pola keratinisasinya bisa menjadi penanda awal kondisi yang lebih serius.

Penelitian ini memperkuat pemahaman bahwa estrogen berperan dalam regulasi homeostasis jaringan epitel skuamosa berlapis — tipe yang sama ditemukan di mukosa vagina. Reseptor estrogen, khususnya Estrogen Receptor β (ERβ), diekspresikan di epitel mukosa mulut dan diduga memediasi pengaruh estrogen dalam proses keratinisasi. Ketika ekspresi reseptor ini terganggu — seperti pada kasus Recurrent Aphthous Stomatitis (RAS) — mukosa menjadi lebih rentan terhadap lesi.

Lebih jauh, perubahan pola diferensiasi sel epitel berpotensi menjadi indikator awal premalignitas. Artinya, pemeriksaan sitologi mukosa mulut bisa suatu hari menjadi alat skrining yang murah dan noninvasif untuk mendeteksi risiko perubahan sel bahkan sebelum gejala klinis muncul.

Penelitian ini juga menyentuh pertanyaan yang masih diperdebatkan: apakah kontrasepsi hormonal berkontribusi pada penyakit periodontal seperti gingivitis? Temuan sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan kontrasepsi memengaruhi kondisi gingiva dan kehilangan perlekatan gingival. Hasil penelitian ini memberi satu keping tambahan dalam teka-teki itu — bahwa jalur mekanismenya kemungkinan melewati peningkatan kadar estrogen saliva yang mendorong perubahan keratinisasi epitel.

Desa Banyurojo dan Sains yang Membumi

Ada sesuatu yang patut dicatat dari penelitian ini: data dikumpulkan bukan dari klinik rumah sakit besar, melainkan dari komunitas nyata di Kampung KB sebuah desa di Magelang. Pendekatan ini memberi penelitian konteks yang hidup — peserta adalah perempuan yang menjalani rutinitas KB dalam kehidupan sehari-hari, bukan subjek rekrutmen klinis yang terseleksi ketat.

Penelitian yang didanai hibah internal FKG UGM ini juga merupakan bagian dari rangkaian panjang kerja Prof. Juni Handajani dalam mengurai hubungan antara hormon, saliva, dan epitel mulut — dari studi pH saliva pada pengguna pil (2010), kadar α-amilase (2014), ekspresi CK19 pada paparan azo (2018), hingga korelasi estrogen saliva dengan CK5 (2020). Setiap publikasi meletakkan satu bata lagi dalam bangunan pemahaman yang masih terus dibangun.

Bagi jutaan perempuan Indonesia yang menggunakan kontrasepsi hormonal, temuan seperti ini mengingatkan bahwa tubuh adalah sistem yang terhubung — dan mulut, yang sering diabaikan dalam percakapan kesehatan reproduksi, ternyata ikut merekam apa yang terjadi jauh di dalam sistem hormonal kita.

Sumber DOI : https://doi.org/10.5281/zenodo.20719795

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Tags

Share News

Related News
14 July 2026

Cara Menyinar Resin Komposit Ternyata Menentukan Kuat Lemahnya Tambalan Gigi

14 July 2026

Instrumen Banyak File Terbukti Lebih Bersih Bersihkan Ujung Akar Gigi

14 July 2026

Dari Yogyakarta ke Chennai: Ilmuwan FKG UGM Bicara di Panggung Bioseramik Asia

en_US