Peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada membuktikan sesuatu yang selama ini masih diperdebatkan di dunia kedokteran gigi: sistem instrumen banyak file (multiple file) terbukti lebih efektif membersihkan sepertiga apikal saluran akar dibandingkan sistem satu file (single file). Temuan ini dipublikasikan dalam prosiding 1st Aceh International Dental Meeting (AIDEM 2019) oleh tim peneliti yang terdiri atas Cahyani, Dr. drg. Wignyo Hadriyanto, M.S., Sp.KG(K), dan Dayinah dari Departemen Ilmu Konservasi Gigi FKG UGM, Yogyakarta. Penelitian ini menjawab pertanyaan penting dalam praktik perawatan saluran akar: instrumen mana yang lebih bersih membersihkan area paling sulit dijangkau di dalam akar gigi, terutama di bagian ujung akar yang sempit dan berkelok?
Perawatan saluran akar, atau yang dalam istilah kedokteran gigi disebut root canal treatment, bukan sekadar mencabut saraf gigi. Ada tiga tahap utama, pembersihan dan pembentukan saluran akar (cleaning and shaping), sterilisasi, lalu pengisian (obturation). Keberhasilan seluruh rangkaian ini sangat bergantung pada seberapa bersih saluran akar bisa dibersihkan, khususnya di bagian sepertiga apikal, yaitu area ujung akar yang paling dekat dengan tulang rahang.
Di sinilah tantangan sesungguhnya. Sepertiga apikal memiliki anatomi yang kompleks, lebih sempit, sering berkelok, dan kerap bercabang. Bakteri dan jaringan mati cenderung bersembunyi di area ini, terlindungi oleh lapisan yang disebut smear layer, yaitu lapisan amorf yang terdiri dari campuran protein, sisa jaringan pulpa, sel darah, dan dinding saluran akar yang terinfeksi bakteri serta jamur.
Smear layer yang tersisa bisa menjadi masalah besar. Jika lapisan ini tidak terangkat sempurna, larutan irigasi tidak bisa menembus tubulus dentin dengan baik, semen sealer tidak mengalir mengisi celah secara optimal, dan ikatan antara material pengisi dengan dinding saluran akar pun melemah. Hasilnya, perawatan gagal, infeksi kambuh.
Maka dari itu, tim peneliti menggunakan 12 gigi premolar rahang bawah yang baru saja dicabut untuk keperluan ortodontik. Gigi-gigi ini dipilih dengan kriteria ketat, akar lurus, saluran akar tunggal, pembentukan akar sempurna, dan diameter awal K-file nomor 15.
Dua belas spesimen dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama disiapkan menggunakan sistem satu file, yaitu One Curve (Micro Mega), dengan teknik crown down pada kecepatan 300 rpm dan torsi 2,5 Ncm. Kelompok kedua menggunakan sistem banyak file, yaitu ProTaper Next (Dentsply), dengan dua file: X1 (17/.04) dan X2 (25/.06), pada kecepatan dan torsi yang sama.
Setiap prosedur menggunakan pelumas gel EDTA 15%, diikuti irigasi dengan larutan NaOCl, akuades steril, dan EDTA 17%. Setelah preparasi, setiap gigi dibelah secara memanjang, dilapisi platinum, lalu diamati menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) dengan perbesaran 2.000 dan 5.000 kali di area sepertiga apikal.
Penilaian dilakukan berdasarkan skor 1 hingga 4: skor 1 berarti tidak ada smear layer dan lebih dari 75% tubulus dentin terbuka, skor 4 berarti seluruh permukaan dentin tertutup smear layer homogen dan tubulus dentin tidak terlihat sama sekali. Semakin rendah skor, semakin bersih saluran akar.
Uji statistik Mann-Whitney U menunjukkan perbedaan yang signifikan antara dua kelompok, dengan nilai p = 0,036 (p < 0,05). Mean rank sistem banyak file tercatat 4,42, sedangkan sistem satu file mencapai 8,58. Artinya, kelompok multiple file memperoleh skor kebersihan rata-rata yang lebih rendah, yang dalam penelitian ini justru berarti lebih bersih.
“Kebersihan sepertiga apikal saluran akar setelah preparasi menggunakan instrumen sistem banyak file lebih baik dibandingkan sistem satu file.” -Cahyani, Hadriyanto W., dan Dayinah, FKG UGM
Mengapa bisa begitu? Penjelasannya ada pada desain fisik instrumen. Sistem banyak file yang digunakan dalam penelitian ini memiliki empat sisi mata potong dengan empat alur (flute) dan sudut helix 18,5 derajat. Desain penampang melintang persegi panjang ini menghasilkan daya potong lebih besar. Ketika instrumen berputar, mata potong yang menjauhi sumbu putar sekaligus memperluas ruang dan memudahkan pengeluaran debris dari saluran akar.
Sistem satu file, sebaliknya, memiliki geometri yang menggabungkan penampang segitiga di ujung (D0) dan penampang-S di bagian tengah ke arah koronal, dengan tiga alur pada masing-masing sisi mata potong dan pitch bervariasi. Meskipun lebih efisien dari segi waktu, sekitar 40% lebih cepat, kemampuan potongnya di area apikal terbukti kurang optimal dalam penelitian ini.
Temuan ini bukan berarti sistem satu file tidak berguna. Instrumen satu file tetap memiliki keunggulan, yaitu lebih hemat waktu, mengurangi jumlah instrumen yang dipakai, dan meminimalkan risiko kontaminasi silang. Dalam kondisi tertentu, misalnya saluran akar yang lebih lurus dengan anatomi sederhana, sistem ini bisa menjadi pilihan yang praktis.
Namun untuk kasus dengan anatomi kompleks, di mana kebersihan sepertiga apikal menjadi kunci keberhasilan perawatan, penelitian ini menegaskan bahwa sistem banyak file dengan gerakan rotasi kontinu memberikan hasil yang lebih bisa diandalkan. Tim peneliti bahkan memberikan saran konkret: jika sistem satu file tetap ingin digunakan, waktu preparasi perlu diperpanjang dan irigasi harus dilakukan sebanyak mungkin.
Penulis : drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes & Annisa Dwi Noviyanti
Foto : FreePik