News

/

Artikel, Latest News, SDG 10, SDG 11, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Ketika Gigi yang Belum Lahir Harus Diselamatkan

Bocah 2,5 tahun itu datang ke IGD RSUD Temanggung dengan wajah berlumuran darah. Tiga puluh menit sebelumnya, sepeda motor yang ia tumpangi bersama kakeknya — ia duduk di depan pengemudi, tanpa helm — menghantam truk tronton yang sedang berhenti. Rahang bawahnya retak. Gigi susunya copot. Dan jauh di dalam tulang yang belum sempurna itu, tersembunyi benih-benih gigi permanen yang belum pernah sekalipun menyentuh cahaya.

Inilah tantangan yang dihadapi oleh tim bedah mulut dan maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada: menyelamatkan rahang seorang balita tanpa mengorbankan masa depan giginya.

Fraktur yang Lebih dari Sekadar Tulang Retak

Pemeriksaan klinis memperlihatkan gambaran yang serius. Wajah anak itu tampak asimetris. Di dalam mulutnya, terdapat laserasi di antara gigi 71 dan 81, satu gigi sulung avulsi, diskontinuitas mandibula dengan segmen kanan bergeser ke arah lingual dan superior, serta hematom sublingual yang menggembung. CT scan tiga dimensi mengonfirmasi: fraktur simfisis mandibula dengan perpindahan fragmen yang signifikan.

Pada orang dewasa, penanganan seperti ini relatif lebih lugas. Tetapi pada anak usia 30 bulan, dokter berhadapan dengan anatomi yang sama sekali berbeda. Tulang kortikal anak lebih tipis dan rapuh. Gigi sulung memiliki mahkota pendek dengan konveksitas maksimum di sepertiga gingiva, membuat kawat fiksasi mudah tergelincir. Dan yang paling krusial: di sepanjang garis fraktur, tersimpan benih gigi insisivus dan kaninus permanen yang sedang dalam tahap aposisi — fase kritis pembentukan mahkota dan akar.

Menurut penelitian Alqahtani dkk. (2010), pada usia 2,5 tahun, benih gigi insisivus dan kaninus permanen mandibula telah mencapai tahap aposisi. Trauma iatrogenik pada fase ini dapat menghambat erupsi gigi permanen, bahkan menyempitkan prosesus alveolaris dan lengkung rahang seumur hidup.

Splint yang Lahir di Meja Operasi

Tim yang terdiri dari drg. Lina Mariana selaku residen, drg. Bramasto Purbo Sejati, Sp.BMM, dan Prof. drg. Poerwati Soetji Rahajoe, Sp.BMM(K) memutuskan untuk tidak mengambil jalur konvensional. Reduksi terbuka dengan pelat titanium ditolak karena risiko kerusakan pada benih gigi. Fiksasi arch bar tidak memungkinkan karena mahkota gigi sulung terlalu pendek. Intermaxillary fixation (IMF) juga dihindari, sebab pembatasan makan pada pasien pediatrik berisiko menyebabkan defisit nutrisi dan penurunan berat badan yang signifikan.

Pilihan jatuh pada thermoformed splint — alat yang biasanya dikenal sebagai pelindung gigi untuk pasien bruxism atau bleaching tray — namun kali ini difabrikasi langsung di meja operasi, saat pasien sudah dalam anestesi umum.

Prosesnya dimulai dengan pencetakan rahang menggunakan bahan alginat dan dental stone. Fragmen fraktur dipisahkan dan direduksi secara manual pada model gips untuk mensimulasikan posisi yang akan dicapai secara klinis. Lembaran termoplastik transparan setebal 1 mm kemudian ditekan pada cetakan menggunakan vacuum-forming machine. Tepi splint dipotong hingga 2 mm di bawah margin gingiva bebas untuk retensi mekanis tambahan.

Setelah fragmen fraktur direduksi secara bidigital di ruang operasi, splint dipasang dan difiksasi menggunakan empat buah circummandibular wiring dari kawat stainless steel 0,5 mm — dua di kanan dan dua di kiri garis fraktur.

“Perawatan fraktur mandibula pediatrik dengan thermoformed splint yang difiksasi dengan circummandibular wiring memberikan hasil yang baik, efektif, minimal invasif untuk mencegah cedera iatrogenik pada struktur anatomi di sekitar garis fraktur.” — Lina Mariana, Bramasto Purbo Sejati, Poerwati Soetji Rahajoe, dalam prosiding Dental Seminar 7 Universitas Muhammadiyah Surakarta

Dua Bulan, Satu Tahun, dan Sebuah Rahang yang Pulih

Tujuh hari setelah operasi, edema ekstraoral masih terlihat, tetapi anak itu tampak tenang. Tidak ada nyeri, tidak ada tanda infeksi. Mulutnya bisa membuka dan menutup dengan normal — detail penting untuk mencegah ankilosis sendi temporomandibular, komplikasi serius yang bisa mengunci rahang secara permanen.

Pada evaluasi dua minggu, tiga minggu, satu bulan, dan dua bulan pascaoperasi, kondisi terus membaik. Splint terfiksasi dengan baik. Oklusi normal. Setelah dua bulan, splint dan kawat dilepas di bawah anestesi umum. CT scan tiga dimensi pascaoperasi memperlihatkan gambaran yang menggembirakan: fragmen fraktur tereduksi sempurna, alignment tepi bawah mandibula terkoreksi, dan — yang paling ditunggu — tampak osteointegrasi di regio simfisis mandibula.

Evaluasi enam bulan dan satu tahun pascaoperasi menunjukkan kondisi ekstraoral dalam batas normal. Tidak ada nyeri, tidak ada infeksi, tidak ada hambatan gerakan rahang. Oklusi tetap normal.

Keunggulan utama metode ini, sebagaimana dianalisis dalam laporan kasus tersebut, terletak pada ketebalan splint yang merata. Tidak ada kontak prematur yang mengganggu gigitan. Transparansi materialnya memungkinkan dokter memantau adaptasi gigi dari luar. Dan fleksibilitas tiga dimensinya membolehkan mobilitas gigi secara fisiologis tanpa mentransfer gaya ortodontik yang tidak diinginkan ke gigi-gigi yang sedang tumbuh.

Ketika Kecelakaan Bisa Dicegah

Laporan kasus ini bukan hanya tentang teknik bedah. Ada kalimat yang muncul di bagian akhir makalah, hampir seperti catatan kaki, namun sesungguhnya adalah inti dari segalanya: edukasi kepada masyarakat diperlukan untuk melengkapi perlindungan kepala yang optimal bagi pengguna jalan, termasuk anak-anak, serta menempatkan mereka di area yang lebih aman saat berkendara sepeda motor.

Bocah 30 bulan itu duduk di depan pengemudi, tanpa helm, di jalanan yang sama dengan truk-truk besar. Fraktur simfisis mandibula dengan pergeseran fragmen signifikan adalah konsekuensi dari sebuah kelalaian yang sangat umum di Indonesia — dan yang bisa dicegah.

Benih gigi permanennya, untuk saat ini, selamat. Tetapi berapa banyak anak lain yang tidak seberuntung dia, dan tidak ditangani oleh tim yang cukup terlatih untuk memilih metode yang tepat?

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Freepik

Tags

Share News

Related News
13 July 2026

Dharma Wanita Persatuan FKG UGM Salurkan Bantuan untuk Panti Asuhan di Prambanan

13 July 2026

Buah Mahkota Dewa Terbukti Hambat Bakteri Penyebab Karies pada Tambalan Gigi

13 July 2026

Ketika-Bubble-Tea-Masuk-Laboratorium-Penelitian-FKG-UGM-Ungkap-Manfaat-Mutiara Tapioka bagi Kualitas Saliva

en_US