News

/

Artikel, Latest News, SDG 10, SDG 17, SDG 3

Ketika Warga Ngaglik Baru Tahu Cara Sikat Gigi yang Benar

Lebih dari separuh peserta datang dengan skor pengetahuan kesehatan gigi di bawah 70. Angka itu bukan anomali, melainkan cermin dari kenyataan yang sudah lama diabaikan: di Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, edukasi kesehatan gigi dan mulut belum pernah sekalipun menyentuh warga di lingkungan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) setempat.

Kondisi itu mendorong tim peneliti lintas institusi, termasuk drg. Indra Bramanti dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, untuk turun langsung ke lapangan. Bersama kolega dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, mereka merancang program pengabdian masyarakat yang hasilnya kemudian dipresentasikan dalam sebuah prosiding konferensi internasional.

Angka yang Berbicara Lebih Keras dari Keluhan

Data latar belakangnya cukup mengejutkan. Riset Kesehatan Dasar 2018 mencatat angka kejadian penyakit gigi dan mulut di Indonesia mencapai 88,8 persen. Di Kabupaten Sleman saja, tercatat 41.235 kasus karies gigi, dan penyakit ini masuk dalam daftar 10 penyakit terbanyak di kabupaten tersebut pada 2019. Ironisnya, sebagian besar warga baru mendatangi dokter gigi ketika sudah merasakan nyeri, bukan sebagai langkah pencegahan.

Program ini menyasar 30 warga Ngaglik dengan dua tahap: koordinasi dengan pengurus PCM, lalu sesi penyuluhan yang diawali pretest dan diakhiri posttest. Lima pertanyaan sederhana tentang menyikat gigi, karies, dan kebersihan mulut menjadi alat ukurnya.

Hasilnya tajam. Kelompok usia di atas 60 tahun mencatat lonjakan skor tertinggi, dari rata-rata 55 menjadi 95. Peserta perempuan naik dari 62,5 ke 95,83, sementara peserta laki-laki bahkan mencapai skor sempurna 100 setelah penyuluhan. Uji statistik paired sample t-test menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan nilai p sebesar 0,000.

Pengetahuan Sebagai Titik Masuk Perubahan Perilaku

Yang menarik dari temuan ini bukan sekadar naiknya angka, melainkan apa yang tersembunyi di baliknya. Pengurus PCM Ngaglik sendiri mengakui bahwa belum pernah ada kegiatan edukasi kesehatan gigi dan mulut di lingkungan mereka sebelumnya. Artinya, selama ini bukan warganya yang tidak peduli, tapi akses terhadap informasi yang memang tidak pernah hadir.

Penelitian ini menegaskan bahwa pengetahuan adalah fondasi. Sikap terhadap penyakit dan perilaku pencegahannya sangat berkorelasi dengan tingkat pemahaman seseorang. Dalam konteks kesehatan gigi anak, peran orang tua menjadi krusial: pemahaman ibu dan ayah soal gigi sulung, misalnya, langsung memengaruhi tumbuh-kembang gigi permanen anak di usia sekolah dasar.

Program ini merekomendasikan agar kegiatan serupa dijadikan agenda rutin PCM Ngaglik, bukan sekadar intervensi sekali jalan. Satu sesi penyuluhan memang bisa mengubah skor pretest ke posttest dalam hitungan jam. Tapi kebiasaan menyikat gigi yang benar, dua kali sehari setelah makan pagi dan sebelum tidur, butuh pengingat yang jauh lebih panjang dari sebuah prosiding.

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto :ChtGPT

Tags

Share News

Related News
2 July 2026

Ketika Rahang Patah, Tulang Mana yang Lebih Cepat Pulih?

2 July 2026

Temu Putih Melawan Radang: Bukti dari Laboratorium FKG UGM

2 July 2026

Minyak Temu Putih Turunkan Gula Darah Sekaligus Atasi Gingivitis pada Tikus Hiperglikemia

en_US