Syawalan keluarga besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada tahun 2026 menjadi lebih dari sekadar tradisi tahunan. Syawalan FKG UGM pada 31 Maret 2026 menjelma menjadi ruang perenungan bersama tentang ilmu, akhlak, dan arah masa depan akademik.
Tidak ada yang benar-benar tergesa di ruangan itu, satu per satu sapaan dilontarkan, tangan-tangan saling berjabat berbalut sepotong kalimat khas “mohon maaf lahir dan batin” menemukan maknanya yang paling sederhana sekaligus paling dalam: pengakuan akan keterbatasan manusia.
Namun, di balik kehangatan itu, terselip kegelisahan yang diutarakan Prof. drg. Suryono, SH, MM., Ph.D Dekan FKG UGM, tidak sekadar menyampaikan sambutan seremonial, ia mengajak hadirin menembus lapisan paling dasar dari kehidupan akademik: kemampuan membaca, memahami, dan menjalankan nilai kehidupan. Ia menyebut sebuah ironi yang mengusik tentang rendahnya literasi, tentang mudahnya masyarakat terjebak dalam informasi yang menyesatkan.
“Bacalah,” demikian pesan yang diangkatnya, merujuk pada fondasi paling awal peradaban. Tetapi membaca, diingatkan kembali, bukan sekadar melafalkan. Ada tingkatan yang lebih tinggi: memahami, dan puncaknya adalah mengamalkan. Di sinilah Syawalan menemukan relevansinya di ruang akademik.

Antara Tradisi dan Tantangan Zaman
Syawalan yang sering dipahami sebagai tradisi pasca Idulfitri, di tangan sivitas akademika berubah menjadi medium refleksi kolektif. Ia bukan hanya tentang saling memaafkan, melainkan tentang memperbarui komitmen terhadap nilai personal yang dsinergikan dengan nilai institusi.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kampus tidak lagi hanya menjadi ruang produksi ilmu, tetapi juga benteng nalar. Fakultas Kedokteran Gigi UGM, sebagaimana disampaikan dalam forum itu, diharapkan tidak sekadar mencetak lulusan yang cerdas secara teknis, tetapi juga tangguh secara intelektual dan etis.
Ada kegelisahan yang disampaikan dengan nada setengah bercanda, tetapi menyimpan makna serius: betapa mudahnya masyarakat mempercayai informasi tanpa verifikasi. Dalam konteks ini, literasi bukan lagi keterampilan tambahan, melainkan kebutuhan mendesak dan dinamis.
“Jangan hanya berhenti pada mengetahui,” demikian pesan yang mengemuka. “Nilai harus hidup dalam praktik.”

Kampus sebagai Ruang Memanusiakan Manusia
Di tengah refleksi itu, muncul satu gagasan klasik yang kembali dihidupkan: manusia sebagai makhluk sosial. Sebuah kutipan dari Aristoteles disinggung bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang hidup dalam masyarakat.
Namun, refleksi itu tidak berhenti pada teori. Ia diarahkan pada realitas sehari-hari: apakah manusia sudah benar-benar memanusiakan sesamanya?
Pertanyaan itu menggantung di udara, mengundang setiap individu untuk menjawab dalam diam.
Dalam dunia akademik yang sering diwarnai kompetisi, capaian, dan angka, Syawalan mengingatkan kembali dimensi yang kerap terpinggirkan: empati. Bahwa keberhasilan institusi tidak hanya diukur dari peringkat global atau jumlah publikasi, tetapi juga dari kualitas relasi antar manusia di dalamnya. Syawalan menjadi penyeimbang. Ia mengingatkan bahwa di atas segala pencapaian, manusia tetaplah makhluk yang bisa salah—dan karenanya, membutuhkan ruang untuk saling memaafkan.
Iman, Ilmu, dan Kebersihan
Dalam refleksi yang lebih praktis, nilai-nilai agama juga ditarik ke ranah keseharian. Tidak dalam bentuk doktrin yang kaku, melainkan dalam tindakan sederhana: menjaga kebersihan, membangun kepercayaan, dan menciptakan lingkungan yang sehat.
“Agama tidak berhenti pada pengetahuan,” menjadi benang merah yang terasa kuat. Ia harus hadir dalam tindakan nyata di ruang kelas, di laboratorium, hingga dalam interaksi sehari-hari.
Bahkan hal sederhana seperti pengelolaan sampah disebut sebagai cerminan nilai. Sebuah pengingat bahwa etika tidak selalu hadir dalam hal besar, tetapi justru dalam kebiasaan kecil yang konsisten.

Doa, Perjalanan, dan Keikhlasan
Di antara refleksi kolektif, terselip suatu perjalanan yang akan ditempuh ke Tanah Suci, untuk menunaikan ibadah Haji oleh drg. Nunuk Purwanti, M.Kes., Ph.D beserta keluarga. drg. Nunuk begitu akrab disapa menyampaikan pamit untuk menunaikan ibadah, memohon doa agar perjalanan berjalan lancar, selamat dan kembali berkiprah di FKG UGM.
Syawalan sebagai Titik Berangkat
Syawalan bukanlah titik akhir dari rangkaian perayaan Idulfitri. Ia justru menjadi titik berangkat.
Berangkat untuk menjadi lebih jujur dalam berpikir. Lebih hati-hati dalam menerima informasi. Lebih bijak dalam bersikap. Dan lebih tulus dalam memanusiakan manusia.
Di lingkungan akademik seperti Fakultas Kedokteran Gigi UGM, pesan itu menemukan relevansinya yang paling nyata. Bahwa di tengah tuntutan menjadi unggul, ada kewajiban yang tidak kalah penting adalah tetap menjadi manusia. Dan mungkin, di situlah makna terdalam Syawalan bukan sekadar saling memaafkan, tetapi saling mengingatkan: bahwa ilmu tanpa akhlak hanya akan kehilangan arah.
(Reporter & Fotografi : Andri Wicaksono)