Pagi itu, langkah-langkah kecil penuh antusias memasuki gedung Dental Learning Center FKG UGM. Mereka adalah rombongan dari Prodi Kedokteran Gigi Universitas Negeri Padang (UNP) datang membawa misi besar: belajar, menyerap, dan menyiapkan pondasi bagi lahirnya Program Studi Kedokteran Gigi yang baru di Kampus Bukittinggi, Sumatera Barat.
Di antara rombongan itu, drg. Syadira Putri Janna, yang akrab disapa drg. Dira, berdiri dengan mata berbinar. Bagi alumnus FKG Universitas Jember ini, Yogyakarta bukan tempat asing, karena kerap kali berkegiatan di Yogyakarta. Namun, setiap kunjungan ke kampus yang telah lama dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan kedokteran gigi terkemuka di Indonesia itu selalu menghadirkan paradigma baru.
“Kami datang bukan hanya untuk belajar, tapi untuk benar-benar menyerap & memahami,” ujarnya.
Magang Akademik: Belajar dari yang Telah Mapan
Selama lima hari, 17-21 Februari 2026 4 calon dosen dan 4 laboran dari UNP mengikuti rangkaian workshop, observasi laboratorium, hingga diskusi kurikulum. Kegiatan ini merupakan bagian dari pembinaan pembukaan Prodi Kedokteran Gigi UNP di bawah supervisi FKG UGM.
Bagi drg. Dira, pengalaman paling berkesan bukan hanya soal kecanggihan teknologi, melainkan budaya akademik yang terus bertumbuh.
“Yang paling fundamental itu satu: tidak pernah puas. Bahkan institusi sebesar UGM pun masih studi banding, masih belajar. Itu pelajaran terbesar buat kami,” katanya.
Digitalisasi sistem pembelajaran, kerapian SOP, hingga manajemen jadwal praktikum menjadi catatan penting. Hal-hal yang tampak administratif, seperti penjadwalan skills lab atau detail modul praktikum, justru menjadi titik krusial dalam memastikan proses pendidikan berjalan efektif.
“Kami baru sadar, di balik satu jadwal itu ada sistem yang terstruktur dan teruji. Ini bukan hanya soal mengajar, tapi membangun ekosistem pendidikan,” tambahnya.

Teknologi dan Etika Keterampilan Klinis
Di lantai atas gedung skills lab, rombongan UNP diperkenalkan pada dental unit modern dengan phantom anestesi blok yang mampu memberikan respons suara saat prosedur dilakukan tepat.
Bagi drg. Dira, pengalaman ini menghadirkan refleksi personal.
“Dulu kami belajar anestesi langsung ke teman. Sekarang ada teknologi yang memungkinkan mahasiswa berlatih tanpa risiko. Ini bukan hanya soal alat, tapi soal keselamatan dan etika pendidikan,” ungkapnya.
Menurutnya, prodi baru tidak boleh sekadar mengejar standar minimum. Justru harus berlari lebih cepat, karena tantangan akreditasi dan ekspektasi publik menanti di depan.
Meretas Mimpi Spesialis Bedah Mulut di Bukittinggi
Di sela-sela diskusi akademik, terselip cita-cita pribadi yang menguatkan langkahnya. drg. Dira menaruh minat besar pada bidang bedah mulut. Bukittinggi, katanya, hingga kini belum memiliki spesialis bedah mulut yang menetap.
“Harapannya, kalau nanti saya bisa melanjutkan pendidikan spesialis, saya ingin kembali dan mengabdi. Jangan sampai masyarakat harus selalu dirujuk ke kota lain,” ujarnya pelan.
Lebih jauh, ia bahkan membayangkan suatu hari hadirnya cleft center di Sumatera Barat pusat layanan terpadu untuk kasus celah bibir dan langit-langit. Sebuah mimpi yang lahir dari kebutuhan nyata masyarakat.

Dari Biologi ke Dunia Kedokteran Gigi
Di sisi lain, Annisa Indah Rahman, S.Si laboran berlatar belakang akademik Biologi dari UNP, juga merasakan transformasi pengetahuan yang tak kalah dalam. Selama ini ia akrab dengan dunia mikrobiologi dan kultur jaringan. Namun memasuki ranah kedokteran gigi menghadirkan pengalaman baru.
“Melihat kadaver secara langsung itu pengalaman pertama bagi saya,” katanya. “Lalu membuat resin, alginat, gips itu benar-benar dunia baru bagi saya.”, tandasnya
Meski demikian, ia tidak melihatnya sebagai kendala. Justru sebagai ruang belajar yang menantang.
“Lima hari itu terasa singkat. Informasinya banyak, serba baru. Tapi ini jadi bekal penting untuk menghadapi visitasi akreditasi minggu depan,” ujarnya.
Bagi Indah, tantangan terbesar bukan pada alat yang sebagian masih familiar, melainkan pada cara berpikir klinis yang harus dibangun. Sebagai laboran, ia menyadari perannya bukan sekadar teknis, tetapi juga edukatif.
“Kalau mahasiswa tidak paham, kami harus lebih dulu paham. Itu tanggung jawab kami,” tegasnya.

Pendidikan sebagai Tanggung Jawab Sosial
Kisah kunjungan ini bukan sekadar tentang magang akademik. Ia adalah cerita tentang semangat membangun dari nol, tentang keberanian belajar dari yang lebih dulu memulai, dan tentang kesadaran bahwa pendidikan kedokteran gigi bukan hanya mencetak dokter, melainkan menghadirkan layanan kesehatan yang lebih merata.
Di balik modul, jadwal, dan alat-alat canggih, ada harapan bagi masyarakat Sumatera Barat yang kelak tak perlu lagi menempuh perjalanan jauh demi perawatan spesialistik.
Membangun institusi bukan soal menjadi besar seketika, melainkan tentang konsistensi untuk terus belajar tanpa pernah merasa cukup.
Reporter: Andri Wicaksono, Photographer: Fajar Budi Harsakti