Suasana haru, bangga, sekaligus penuh kehangatan menyelimuti yudisium profesi dokter gigi FKG UGM periode Mei 2026 (25/05/2026). Sebanyak 47 mahasiswa profesi dokter gigi resmi dinyatakan lulus dan siap mengemban amanah sebagai dokter gigi baru, membawa mimpi, perjuangan panjang, dan cerita inspiratif yang tak sekadar soal akademik.

Wakil Dekan Bidang Akademik FKG UGM, Prof. drg. Rosa Amalia, M.Kes, Ph.D dalam sambutannya menegaskan, capaian para lulusan tahun ini merupakan prestasi membanggakan. Dari 47 lulusan, sebanyak 22 mahasiswa berhasil meraih predikat cumlaude. Sementara capaian masa studi tercepat diraih oleh Maulinda Zaidatul dengan waktu studi profesi hanya 1 tahun 11 bulan & IPK tertinggi dengan nilai 4.00 diraih oleh Putri Khalista Nugraha.
“Ini merupakan capaian yang luar biasa dari adik-adik. Harapan kami, lulusan FKG UGM tidak hanya tepat waktu, tetapi juga memiliki kompetensi yang benar-benar memenuhi standar,” ujar Prof. Rosa.
Tak hanya itu, prestasi akademik juga ditunjukkan melalui capaian nilai nasional. Nurulita berhasil mencatatkan nilai 96,67 dan menempati jajaran terbaik nasional, disusul Haidar Amalia dan Intan Zahabia dengan nilai 95.

Namun, lebih dari sekadar angka dan indeks prestasi, yudisium kali ini juga menghadirkan kisah kemanusiaan yang menyentuh dan teristimewa berasal dari negeri sebrang, Malaysia.
Kisah itu datang dari Amanjot Kaur A/P Harvinder Singh, mahasiswa profesi kedokteran gigi asal Kuala Lumpur, Malaysia, yang memilih menempuh pendidikan dokter gigi di FKG UGM setelah menghadapi ketatnya persaingan masuk universitas negeri asalnya. Ia mengaku memilih FKG UGM karena reputasinya yang kuat di kawasan Asia Tenggara.
Aman, begitu akrab disapa memulai pendidikan sejak 2018 dan harus melewati berbagai tantangan, termasuk masa pandemi Covid-19 yang membuat dua rekannya memilih kembali ke Malaysia. Ia menjadi mahasiswa terakhir dari kelompok awalnya yang bertahan hingga lulus di FKG UGM.
Meski demikian, pengalaman belajar di Indonesia justru memberinya banyak pelajaran berharga. Ia menilai sistem pendidikan profesi dokter gigi di Indonesia memberikan pengalaman klinis yang jauh lebih intensif dibandingkan di negaranya.
“Kalau di sini kita cari pasien sendiri, requirements kasus juga banyak. Skill yang didapat jadi lebih banyak,” katanya.
Pernyataannya menggambarkan realitas pendidikan profesi dokter gigi yang tidak mudah. Para mahasiswa bukan hanya dituntut memahami teori dan keterampilan klinis, tetapi juga harus aktif mencari pasien, beradaptasi dengan lingkungan sosial, hingga menghadapi kendala bahasa dan budaya.
Aman bahkan mengaku sering mendapatkan pasien dari interaksi sehari-hari, termasuk saat menggunakan transportasi daring. “Kadang dari naik transportasi daring bisa dapat pasien,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Kehidupan multikultural di Yogyakarta juga menjadi pengalaman tersendiri baginya. Ia memilih tinggal bersama teman-teman lintas daerah dan budaya agar lebih mudah beradaptasi. Selama studi, ia aktif dalam Persatuan Pelajar Malaysia di Indonesia dan beberapa kegiatan kemahasiswaan lain.
Dalam perjalanan akademiknya, Aman mengaku banyak terinspirasi oleh para dosen pembimbing di FKG UGM, terutama di bidang bedah mulut.
“Mungkin dokter Yusti, selaku pembimbing saya. Beliau sering kasih nasihat dan materi kalau kasusnya spesifik,” ungkapnya.

Sementara itu, para dosen juga memberikan pesan emosional dan reflektif kepada lulusan. Salah seorang dosen mengingatkan bahwa dunia kerja setelah kampus akan jauh lebih keras dibanding masa pendidikan.
“Seenggak-enaknya di UGM, itu jauh lebih manusiawi daripada dunia luar nanti,” ujarnya disambut tawa dan tepuk tangan peserta yudisium.
Pesan lain yang berulang disampaikan dalam forum tersebut adalah pentingnya menjaga nama baik almamater serta mengedepankan pengabdian kepada masyarakat dibanding orientasi material semata.
“Jangan mencari uang dari pasien sebesar-besarnya,” pesan drg. Cahya Yustisia Hasan, Sp.BM
kepada para lulusan.

Di akhir yudisium, suasana berubah menjadi penuh haru ketika perwakilan mahasiswa menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh dosen dan tenaga kependidikan yang telah mendampingi perjuangan mereka.
“Kami mohon maaf apabila ada kesalahan selama pendidikan. Semoga ilmu yang dokter sampaikan dapat kami amalkan dan menjadikan kami dokter gigi yang kompeten dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujar perwakilan lulusan.

Yudisium Mei 2026 ini menjadi penanda lahirnya generasi baru dokter gigi FKG UGM yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga ditempa oleh pengalaman sosial, budaya, dan kemanusiaan yang kuat. Dari ruang klinik rumah sakit pendidikan, hingga perjuangan mencari pasien di sudut-sudut Kota Yogyakarta, mereka kini melangkah menuju dunia pengabdian yang sesungguhnya.
Bagi FKG UGM, keberhasilan 47 lulusan ini bukan sekadar statistik akademik. Hal ini adalah cerminan dari proses panjang pendidikan yang melahirkan tenaga kesehatan dengan daya juang, empati, dan kompetensi.
(Reporter: Andri Wicaksono, Photographer: Fajar Budi Harsakti)