Suasana hangat dan penuh keterbukaan mewarnai pembukaan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Program Studi Spesialis Kedokteran Gigi Anak (Sp-KGA) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM). Kegiatan yang dibuka pada Selasa, 4 Agustus 2026, ini menghadirkan jajaran pimpinan fakultas serta tim asesor dari Kolegium Kedokteran Gigi Anak Indonesia. Monev ini tidak hanya menjadi tolok ukur mutu akademis, tetapi juga ajang unjuk inovasi di tengah tantangan krisis tenaga pengajar spesialis secara nasional.
Keterbukaan Strategis dan Lonjakan Lulusan
Dekan FKG UGM, Prof. Suryono, S.H., M.M., Ph.D., menekankan pentingnya transparansi dalam proses evaluasi. Berbeda dari pola asesmen konvensional yang cenderung menyembunyikan kekurangan, FKG UGM memilih untuk membuka ruang temuan secara gamblang demi perbaikan tata kelola, ketersediaan SDM, hingga sarana prasarana.
“Kalau di tempat lain saat diassessment mungkin ditutup-tutupi, kalau di FKG UGM malah dikasih tahu dan dititipi masukan. Jika ada dasarnya dari rekomendasi asesor, kami punya alasan kuat untuk mengajukan penambahan dosen baru maupun pengembangan fasilitas ke tingkat universitas,” ujar Prof. Suryono, S.H., M.M., Ph.D.
Prof. Suryono, S.H., M.M., Ph.D., juga mengapresiasi efisiensi kelulusan peserta didik Sp-KGA UGM yang mengalami peningkatan signifikan. Jika beberapa tahun lalu jumlah lulusan sempat tersendat hingga memicu perhatian kolegium, kini rasio kelulusan melesat imbang dengan jumlah mahasiswa baru. Saat ini, penerimaan mahasiswa berada pada rasio selektif 1:5 (10 mahasiswa diterima dari 50 pendaftar), dengan angka kelulusan mencapai 100% atau 12 lulusan per periode.

Krisis Dosen Nasional & Kemitraan Evaluatif
Merespons hal tersebut, tim asesor Kolegium Kedokteran Gigi Anak, Prof. Dr.drg. Margaretha Suharsini, SU, SpKGA, Subsp.AIBK(K)–UI & Dr.drg. Risti Saptarini Primarily, SpKGA.Subsp.KKfA(K)-Unpad, menegaskan bahwa kedatangan mereka bertujuan sebagai mitra pendamping, bukan sekadar penilai. Drg. Risti menggarisbawahi bahwa masalah regenerasi dan kelangkaan dosen spesialis KGA merupakan isu kritis yang dihadapi oleh hampir seluruh institusi pendidikan kedokteran gigi di Indonesia, termasuk UI dan Unpad.
“Isu ketersediaan dosen baru ini terjadi di seluruh Indonesia. Mendapatkan dosen spesialis saat ini sangat sulit. Temuan dan rekomendasi dari Monev ini diharapkan dapat menjadi daya tawar strategis bagi kepemimpinan fakultas ke depan untuk merumuskan formulasi perekrutan SDM,” ungkap Dr. drg. Risti Saptarini Primarti, Sp.KGA., Subsp. KKfA(K)
Ia juga memuji rekam jejak Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) FKG UGM yang telah menjadi rujukan (benchmarking) institusi luar sejak 15 tahun lalu.
Transformasi Kurikulum dan Peta Jalan Oral Habit Center
Dalam pemaparannya, Ketua Program Studi Sp-KGA UGM, Prof. drg. Sri Kuswandari, M.S., Ph.D., Sp.KGA., Subsp. KKfA(K), memaparkan rekam jejak operasional prodi yang telah berjalan selama 31 tahun sejak 1995. Untuk menjawab kebutuhan masyarakat modern, Sp-KGA UGM kini mengusung kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) sebanyak 49 SKS yang terbagi dalam 6 semester.
Fokus keunggulan prodi diarahkan pada Pediatric Orofacial Habits: Early Detection and Treatment Strategies. Riset komprehensif prodi pada kurun waktu 2023–2024 menunjukkan tingginya prevalensi kebiasaan buruk oral (oral habit) pada anak-anak di Yogyakarta yang berdampak langsung pada struktur kraniofasial dan jalur napas (airway).
Sebagai solusi konkret, Sp-KGA UGM merancang pembentukan Oral Habit Center pada tahun 2026. Fasilitas rujukan nasional ini mengintegrasikan layanan multidisiplin yang melibatkan RSGM Prof. Soedomo, Penjagaan Rehabilitasi Medik RSUP Dr. Sardjito, hingga Spesialis THT RSA UGM. Di sisi lain, integrasi teknologi juga dilakukan melalui pengandalan aplikasi kecerdasan buatan (MyoQuanCare) untuk pemindaian dini oral habit berbasis ponsel cerdas.
Program pengabdian masyarakat tematik selama satu tahun penuh turut dijalankan berkelanjutan di berbagai Sekolah Luar Biasa (SLB) dan panti asuhan guna memberikan perawatan inklusif serta membentuk kader mandiri.

Langkah FKG UGM dalam mengawinkan transparansi tata kelola dengan inovasi klinis menjadi angin segar bagi dunia pendidikan kedokteran gigi. Kendati dihadapkan pada dualisme regulasi pemerintah serta tantangan regenerasi dosen senior, pembentukan pusat unggulan Oral Habit Center serta jejaring publikasi internasional terindeks Scopus (Q1/Q2) membuktikan komitmen prodi dalam menjaga daya saing global. Dengan memosisikan diri sebagai pusat rujukan yang inklusif dan berbasis bukti (evidence-based), Sp-KGA UGM menegaskan peran strategisnya dalam meningkatkan kualitas hidup dan tumbuh kembang anak Indonesia.
(Reporter: Andri Wicaksono, Any. Foto: Fajar Budi Harsakti)