News

/

Latest News

Kedokteran Gigi Presisi lewat Citra 3 Dimensi

Kemajuan teknologi terbaru saat ini mengubah cara dokter memeriksa dan merawat pasien, termasuk di bidang kedokteran gigi. Pemeriksaan yang dulunya memakan waktu lama, kini jadi jauh lebih cepat dan berkat bantuan rontgen digital.

Dokter gigi dituntut untuk bekerja dengan presisi. Melihat permukaan gigi saja tidak cukup, karena banyak masalah sering kali bersembunyi di bawah gusi, tulang rahang, atau di dekat saraf. Itulah sebabnya, kemampuan melihat bagian dalam gigi dengan jelas menjadi sangat penting sebelum dokter mulai melakukan tindakan.

Kehadiran teknologi 3D Cone Beam Computed Tomography (CBCT) dinilai dapat menjawab kebutuhan tersebut. Teknologi ini mampu memberikan gambaran tiga dimensi (3D) yang utuh mulai dari struktur gigi, rahang, hingga letak saraf. Gambaran ini nantinya menjadi panduan bagi dokter untuk mengetahui kondisi pasien dengan tepat dan merancang perawatan yang paling aman.

Dalam praktik kedokteran gigi modern, dokter gigi spesialis radiologi kedokteran gigi (Sp.RKG) tidak hanya bertugas membaca hasil rontgen, tetapi berperan sebagai perancang arah perawatan gigi. Analisis radiologi tiga dimensi menjadi panduan dasar bagi klinisi dari bidang lain dalam melakukan tindakan kompleks agar lebih aman dan presisi.

Misalnya pada penanganan kasus implan gigi memerlukan kolaborasi lintas disiplin ilmu yang melibatkan dokter gigi spesialis Bedah Mulut dan Maksilofasial, Prostodonsia, Periodonsia, bahkan Konservasi Gigi.

“dokter Sp.RKG dalam kesehariannya sering menerima rujukan analisis data Cone Beam Computed Tomography (CBCT) untuk menyimulasikan pemasangan implan gigi. Melalui data tersebut, dokter dapat menentukan arah pengeboran, mengukur ketebalan dan densitas tulang, hingga memperkirakan hasil akhir struktur rahang setelah pemasangan implan,” kata drg. Isti Rahayu Suryani, M.Biotech., Sp. RKG, Subsp. RDP(K), Ph.D disela kegiatan Pelatihan CBCT batch 3 (17/9).

Keberhasilan diagnosis dan simulasi perawatan sangat didukung oleh pemanfaatan perangkat lunak terkini. Pelatihan ini menggunakan aplikasi ACTEON® Imaging Suite (AIS) yang ramah pengguna sekaligus telah mengintegrasikan fitur Kecerdasan Buatan (AI).

Kehadiran AI di aplikasi ini mampu mempercepat proses pemetaan struktur anatomi gigi dan rahang. Namun, jika posisi yang disarankan oleh AI dinilai kurang tepat secara klinis, maka dokter Sp.RKG tetap memegang kendali penuh untuk melakukan verifikasi dan penyesuaian manual.

“Perangkat lunak generasi terbaru ini juga menghadirkan fitur simulasi abutment serta simulasi penambahan tulang (bone graft) pada kasus rahang yang mengalami resorpsi, yang sangat berguna mulai dari kasus implan tunggal di mandibula hingga multi-implan,” tambah drg. Isti.

Kegiatan ini juga turut dihadiri drg. Trianna Wahyu Utami, MDSc., Ph.D., selaku Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat FKG UGM. Dirinya menyebut bidang radiologi menjadi dasar keilmuan bagi hampir setiap cabang ilmu kedokteran gigi. Hal ini membuka peluang besar bagi para praktisi tidak hanya untuk pengembangan karier klinis, tetapi juga untuk merajut kolaborasi riset lintas disiplin ilmu.

Pada akhirnya masa depan layanan kedokteran gigi tidak hanya bergantung pada seberapa canggih teknologi yang dimiliki, melainkan pada kemampuan sumber daya manusianya dalam menerjemahkan data digital menjadi keputusan klinis yang tepat.

Author and Photo: Fajar Budi Harsakti

Tags

Share News

Related News
18 September 2026

Saatnya Laboratorium Kedokteran Gigi FKG UGM Mutakhirkan Sains & Kembangkan Pusat Inovasi

17 September 2026

FKG UGM Pertajam Kompetensi Pengelola Laboratorium Kedokteran Gigi di Era Digital

17 September 2026

FKG UGM Gelar Kuliah Simulasi DVI Fase 1 Bersama Biddokkes Polda DIY