Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Boba-dan-Bakteri-Ketika-Gelembung-Tapioka-Melawan-Streptococcus-mutans

Minuman yang antre panjang di gerai mall itu ternyata menyimpan pertanyaan ilmiah yang serius: apa yang terjadi pada bakteri penyebab gigi berlubang ketika bersentuhan dengan bubble tea?

Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO, dari Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, tidak puas dengan jawaban asumsi. Bersama dua mahasiswa program studi kedokteran gigi, Britney Amadea Christianty dan Annisa Fadiya Rahmawati, ia merancang penelitian eksperimental yang diterbitkan dalam Journal of International Dental and Medical Research (Volume 15, Nomor 2, 2022). Hasilnya mengejutkan, setidaknya bagi mereka yang selama ini menganggap boba semata sebagai musuh gigi.

Musuh Lama, Pertanyaan Baru

Streptococcus mutans ATCC 25175 adalah nama yang sudah lama dikenal dalam dunia kedokteran gigi. Bakteri ini adalah aktor utama karies, mampu memproduksi enzim glukosiltransferase (GTF) yang mengubah sukrosa menjadi fruktosa dan glukan. Glukan inilah yang membangun matriks biofilm, lapisan lengket yang menempel erat di permukaan gigi dan menciptakan lingkungan asam yang mengikis enamel.

Prevalensi karies di Indonesia mencapai 45,3 persen menurut data Riskesdas 2018. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah gambaran jutaan gigi yang berlubang, jutaan orang yang menanggung nyeri, dan sistem kesehatan yang terus menanggung beban.

Di sisi lain, bubble tea meledak sebagai fenomena konsumsi global. Dalam satu porsi 472 ml, minuman ini mengandung 317,5 kalori, 56 gram karbohidrat, dan 36 gram gula. Kandungan gula itu, secara logis, seharusnya menjadi bahan bakar sempurna bagi S. mutans. Tapi Juni Handajani dan timnya ingin tahu lebih jauh: apakah gelembung tapioka, komponen fisik yang selama ini diabaikan, punya peran tersendiri?

Empat Gelas, Satu Laboratorium

Tim peneliti membagi bahan uji menjadi empat kelompok: bubble tea tanpa gula, tanpa gula dan tanpa bubble, dengan gula tanpa bubble, serta dengan gula dan bubble. Setiap kelompok dipaparkan pada S. mutans ATCC 25175 yang dikultivasi di Laboratorium Penelitian Terpadu FKG UGM, kemudian diinkubasi selama 24, 48, dan 72 jam.

Lima parameter diukur secara ketat: indeks biomassa, biostabilitas, perubahan pH, aktivitas enzim GTF, dan pelepasan fruktosa oleh bakteri. Semua pembacaan dilakukan menggunakan ELISA reader pada panjang gelombang 560 nm dan 590 nm.

Hasilnya berbicara dengan angka yang tajam. Kelompok bubble tea dengan kandungan bubble secara signifikan menurunkan indeks biomassa dan biostabilitas dibandingkan kelompok tanpa bubble (p < 0,05). pH memang turun setelah inkubasi di semua kelompok, pertanda S. mutans tetap memfermentasi karbohidrat. Namun, perubahan pH terendah justru terjadi pada kelompok tanpa gula dan tanpa bubble.

Yang paling menarik terjadi pada pengukuran aktivitas GTF. Setelah 24 jam inkubasi, efek bubble secara signifikan menekan aktivitas enzim GTF S. mutans. Pada inkubasi 72 jam, pengamatan pada media Mitis Salivarius Bacitracin bahkan tidak lagi menunjukkan pertumbuhan bakteri dari kelompok gula.

“Metabolisme S. mutans ATCC 25175 terhambat setelah berinteraksi dengan minuman bubble tea.”

Demikian simpulan yang tertulis dalam artikel ilmiah tersebut, ringkas namun bermakna besar bagi pemahaman kita tentang hubungan antara minuman populer ini dan kesehatan rongga mulut.

Poliphenol Teh dan Rahasia Gelembung

Mekanisme di balik temuan ini tidak berdiri sendiri. Tim peneliti menghubungkannya dengan dua jalur utama: kandungan polifenol teh, khususnya epigallocatechin gallate (EGCG), yang diketahui mampu menekan ekspresi gen gtf pada S. mutans, serta efek fisik gelembung tapioka itu sendiri.

Penelitian sebelumnya dari kelompok yang sama, yang diterbitkan di F1000Research pada 2021, telah menunjukkan bahwa mengunyah mutiara tapioka dapat merangsang sekresi saliva secara mekanis, meningkatkan kadar alfa-amilase dan fosfat saliva, serta memperbaiki kapasitas buffer saliva. Saliva yang baik adalah pertahanan alami gigi yang sering diremehkan.

Dengan demikian, gelembung bukan sekadar tekstur yang menyenangkan di mulut. Ia berpotensi menjadi agen yang secara tidak langsung menciptakan lingkungan yang kurang ramah bagi S. mutans, terutama ketika hadir tanpa kandungan gula.

Satu Catatan yang Tidak Boleh Hilang

Penelitian ini tidak sedang mempromosikan bubble tea sebagai minuman kesehatan. Kandungan gula yang tinggi pada varian manis tetap menjadi faktor risiko karies yang nyata. S. mutans dari kelompok gula terbukti mampu memfermentasi karbohidrat dan menurunkan pH secara signifikan.

Namun ada pesan yang lebih halus dan lebih penting di sini: riset dasar seperti ini membuka pintu pemahaman yang selama ini tertutup. Bahwa komponen minuman yang tampak sepele, seperti gelembung tapioka kenyal di dasar gelas plastik, bisa menjadi titik masuk untuk strategi pencegahan karies yang lebih inovatif.

Bagi dunia kedokteran gigi, pertanyaan bukan lagi sekadar “apakah bubble tea berbahaya?” melainkan “komponen mana yang melindungi, komponen mana yang merusak, dan bagaimana kita bisa memanfaatkan keduanya?”

Jawaban itu masih dalam perjalanan. Dan laboratorium di Sekip Utara, Yogyakarta, tampaknya tidak akan berhenti bertanya.

Sumber DOI : https://doi.org/10.5281/zenodo.20719795

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
13 Juli 2026

MTA Unggul: Bukti Histologis dari Dalam Tulang Rahang Kelinci

13 Juli 2026

Bakteri Perusak Tambalan Gigi: Penelitian Dedy Yulianto Ungkap Musuh Tersembunyi di Mulut

13 Juli 2026

Menyelamatkan Saraf Bocah 11 Tahun: Saat Rahang Diangkat, Rasa Tetap Dijaga

id_ID