Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM), Kamis (08/26) terus meneguhkan posisinya sebagai pilar utama pendidikan kedokteran gigi di Indonesia. Di tengah arus transformasi sistem kesehatan nasional dan dinamika akademik yang makin kompleks, FKG UGM memperkuat komitmen pada penjaminan mutu, penguatan etika, kesiapan mental mahasiswa, serta penyesuaian kurikulum secara transformatif.
Langkah strategis ini tercermin dalam rangkaian agenda akademik penting, mulai dari penyambutan mahasiswa baru Pioneer Dentistry 2026, forum bimbingan etika, hingga penutupan evaluasi dan monitoring Program Studi Spesialis Kedokteran Gigi Anak (KGA) oleh Kolegium Kedokteran Gigi Spesialis Anak dan Konsil Kesehatan Indonesia (KKI).
Apresiasi & Rekomendasi Kolegium Kedokteran Gigi Spesialis Anak. Dalam penutupan kegiatan monitoring dan evaluasi, tim asesor dari Kolegium Kedokteran Gigi Spesialis Anak menyampaikan laporan hasil evaluasi visitasi yang telah berlangsung selama dua hari. Perwakilan asesor, PProf. Dr.drg. Margaretha Suharsini, SU, SpKGA, Subsp.AIBK(K), mengungkapkan rasa bahagia dan impresinya saat kembali ke almamaternya. “Saya bahagia bersama Bapak, Ibu sekalian di sini. Impresi saya adalah seperti pulang ke rumah kalau ke Jogja atau UGM ini. 44 tahun yang lalu saya jadi mahasiswa di sini. Kemajuannya begitu pesat. Hampir semua yang kami lihat itu memuaskan, sangat memuaskan, baik sekali,” ujar Prof. Margaretha.
Dalam penutupan monitoring dan evaluasi (monev) Prodi Spesialis KGA, Dekan FKG UGM, Prof. Dr. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D., menyoroti urgensi fleksibilitas dan keterbukaan wawasan institusi pendidikan tinggi dalam merespons kebijakan anyar Kementerian Kesehatan. Perubahan regulasi termasuk model pelatihan berbasis modul (hospital-based) yang menawarkan pengakuan kompetensi bertahap serta insentif bagi pesertamenuntut perguruan tinggi untuk bergerak cepat dan berpikir adaptif.

“Idealisme itu penting, tapi harus humanistis juga. Karena kalau tidak kayak gitu, yang namanya akademisi kalau diskusi kan ideal sekali, ya… hasil konsepnya ndak bisa diterapkan karena terlalu ideal. Berikanlah solusi yang benar-benar bahwa pendidikan kita itu memberikan dampak pada masyarakat,” tegas Prof. Suryono.
Prof. Suryono mengingatkan agar akademisi tidak terjebak dalam menara gading idealisme yang kaku hingga mengabaikan kebutuhan nyata masyarakat akan pelayanan kesehatan gigi dan mulut, khususnya anak-anak di daerah subur maupun terpencil.
Hasil visitasi dua hari oleh tim asesor Kolegium Kedokteran Gigi Spesialis Anak memberikan apresiasi tinggi atas capaian mutu dan fasilitas FKG UGM. Asesor Prof. Dr.drg. Margaretha Suharsini, SU, SpKGA, Subsp.AIBK(K) mengungkapkan rasa kagumnya atas lompatan teknologi di kampus, termasuk keberadaan fasilitas mutakhir di gedung Dental Learning Center (DLC).
Langkah konkret FKG UGM dalam menjawab kebutuhan masyarakat ditunjukkan melalui penunjukan Person in Charge (PIC) untuk Center of Excellence penanganan Cleft Lip and Palate (CLP / bibir sumbing dan celah langit-langit).

Program ini mengusung pendekatan kolaboratif lintas disiplin yang melibatkan Spesialis Kedokteran Gigi Anak, Ortodonti, Prostodonsia, dan Bedah Mulut. Kolaborasi ini berfokus pada penanganan holistik sejak dini, mulai dari penggunaan Presurgical Obturator (PSO), Nasoalveolar Molding (NAM), asesmen fungsi oral, hingga perawatan rehabilitatif jangka panjang. Sistem rujukan terpadu ini dirancang untuk memastikan penanganan anak dengan celah bibir dan langit-langit dapat dijangkau secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Dengan penguatan pada kualitas SDM, adaptasi kurikulum yang responsif terhadap dunia kerja, penegakan etika, serta perlindungan kesehatan mental, FKG UGM menegaskan kesiapannya untuk melahirkan dokter gigi spesialis dan ilmuwan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga berintegritas dan humanistis.
(Reporter: Andri Wicaksono, Foto: Andri Wicaksono)