Berita

/

Berita Terbaru

Revolusi Digital Dentistry: Integrasi Teknologi & Karakter Presisi

Gedung Margono Soeradji Lantai 3 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) menjadi saksi dinamika transfer pengetahuan teknologi kedokteran gigi mutakhir pada Senin (10/8/2026). Kuliah pakar yang menghadirkan Dr. Cortino Sukotjo, DDS., Ph.D., M.MSc., MHPE. tersebut menyoroti urgensi pergeseran paradigma pendidikan dan praktik klinik dari metode analog menuju era digital dentistry berbasis 3D printing serta intraoral scanner.

Dalam pemaparannya, Dr. Cortino menegaskan bahwa adopsi teknologi digital di Indonesia sebaiknya tidak lagi dibatasi hanya untuk jenjang spesialis atau pascasarjana. Menurutnya, pemanfaatan perangkat digital merupakan kebutuhan mendasar yang idealnya sudah diperkenalkan sejak jenjang mahasiswa tingkat sarjana (dental student).

“Digital dentistry itu kan cuma alat. Harusnya dari level dental student, bukan dari level kalian [residen saja]. Kalau kalian menggunakannya untuk high-level cases, dental student untuk low-level cases,” ujar Dr. Cortino di hadapan para akademisi dan mahasiswa FKG UGM.

Paradigma Pendidikan, Perubahan Fondasi Material dan Evaluasi

Teknologi digital menjanjikan efisiensi yang signifikan di ruang klinik, seperti penerapan sistem one day dentistry untuk pembuatan mahkota gigi (crown) hingga penyederhanaan prosedur complete denture yang tadinya membutuhkan 6–7 kali pertemuan menjadi hanya 2–3 kali kunjungan. Namun, otomatisasi perangkat lunak membawa tantangan baru bagi institusi pendidikan, terutama terkait kurikulum dan metode penilaian akademis.

Perubahan mendasar ini tidak hanya mencakup tata cara klinis, melainkan juga restrukturisasi materi keilmuan mendasar seperti dental materials.

Ia menambahkan, kemudahan operasional software digital mewajibkan para pendidik (faculty) untuk merumuskan ulang rubrik penilaian kemampuan mahasiswa.

“Kalau murid saya bikin digital denture, desainnya gampang karena software-nya otomatis set up giginya. Sekarang pertanyaannya, bagaimana cara kita mengevaluasinya? Apakah saya akan kasih full credit atau half credit? Karena dia kan cuma ngeklik saja. Nah, itu kita sebagai faculty mesti pikirkan.”

Riset dan Kedisiplinan Prosedural: Trueness, Precision, dan Kalibrasi

Di samping aplikasi klinis, Dr. Cortino membedah lanskap riset global yang kini didominasi oleh topik kedokteran gigi digital. Beliau menggarisbawahi pentingnya pemahaman mendalam atas parameter trueness (kesesuaian hasil cetak dengan file digital awal) dan precision (reprodusibilitas hasil cetak secara berulang).

Ia mengingatkan bahwa secanggih apa pun teknologi additive manufacturing (3D printing) maupun subtractive (milling), batasan fisikal material serta kedisiplinan pemeliharaan alat tetap menjadi penentu utama kualitas perawatan.

“Ingat, 3D printing itu ada tiga fase yang harus diikuti: print, wash, and cure. Setelah 6 bulan, Anda juga harus reset dan calibrate mesin Anda. Sama seperti light curing, kalau intensitasnya menurun di bawah threshold dan tidak diukur, komposit Anda tidak akan terpolimerisasi 100 persen,” jelasnya.

Kolaborasi Global Tanpa Hambatan Infrastruktur

Menutup sesi pemaparannya sebelum berlanjut ke diskusi interaktif, Dr. Cortino memberikan dorongan kritis sekaligus inspiratif bagi para peneliti muda dan akademisi UGM agar tidak menjadikan keterbatasan fasilitas atau software analisis seperti Geomagic sebagai penghalang untuk berkarya di tingkat internasional.

Ia membuka pintu kolaborasi riset secara terbuka, baik melalui pemanfaatan komputasi awan (cloud) maupun program kunjungan riset langsung.

“Kalau Anda mau melakukan riset soal digital dan memerlukan software ini, tidak apa-apa. Nanti saya sediakan cloud saya, Anda tinggal upload file-nya… Jangan menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk tidak melakukan riset”, pungkasnya.

Kuliah pakar ini memberikan arah baru bagi pengembangan kurikulum serta skema riset di FKG UGM, menggarisbawahi bahwa integrasi teknologi digital bukan sekadar tentang pembaruan mesin, melainkan tentang kesiapan visi akademis dan penguasaan konsep dasar kedokteran gigi secara menyeluruh.

(Reporter: Andri Wicaksono, Foto: Fajar Budi Harsakti)

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
13 Agustus 2026

SI-OBA: Ketika Angka Harus Membuktikan Kompetensi

12 Agustus 2026

Menembus Batas Pembedahan Kanker Mulut: Antara Presisi Bedah, Tantangan Sosiokultural, & Humanisme Rekonstruksi Wajah

12 Agustus 2026

Menyibak Tabir Resistensi Kanker Mulut: Rasio Neutrofil-Limfosit & Era Baru Imunoterapi Presisi

id_ID