Rapat Monitoring dan Evaluasi (Monev) serta Penyusunan Strategi Pencapaian yang dihelat ini bukan sekadar ajang formalitas penyampaian angka-angka di atas kertas. Forum ini menjadi pembuktian dibalik lompatan performa FKG UGM yang siap memperkuat peta akademisi kedokteran gigi global (01/08/2026).
Selama ini, publik akademis selalu mendewakan publikasi di jurnal internasional bereputasi tinggi seperti Q1 atau Q2. Namun, Dekan FKG UGM, Prof. Dr. drg. Suryono, S.H., M.N.G., Ph.D., justru menampar realitas tersebut dengan pernyataan yang sangat menohok.
“Research sebagus apa pun, masuk di jurnal bereputasi Q1 atau Q2, kalau tidak pernah disitasi orang lain itu tidak ada artinya. Kita cuma bangga bisa publikasi, padahal pemeringkatan dunia melihat pada indeks sitasinya,” tegas Prof. Suryono.
Fakta pahit di balik mahalnya biaya publikasi (Article Processing Charge atau APC) yang bisa menembus puluhan juta rupiah per artikel sering kali berakhir tragis riset tersebut hanya tersimpan rapi tanpa ada yang membaca, apalagi mengutipnya. Lantas, bagaimana FKG UGM mematahkan sepinya sitasi ini? Inilah bagian yang paling mengejutkan sekaligus menggelitik. Prof. Suryono secara terbuka membocorkan eksperimen pribadinya yang terbukti sukses mendobrak kejenuhan publikasi ilmiah melalui sebuah pendekatan yang beliau sebut “Metode Ndergil”.

Di tengah suasana rapat yang serius, Prof. Suryono membagikan pengalaman pribadinya yang mengejutkan. Beliau memperkenalkan istilah lokal yang unik “Metode Ndregil” (istilah bahasa Jawa untuk menggambarkan tindakan gigih, cerdik, sedikit nekat namun membuahkan hasil nyata). Menyadari bahwa pola pikir pembaca era digital telah bergeser, beliau melancarkan jurus tak biasa:
- Memotong Intisari (Screenshot Abstract): Beliau mengambil tangkapan layar pada bagian abstrak riset yang paling krusial.
- Infiltrasi Media Sosial: Abstrak visual tersebut diunggah langsung ke akun media sosial pribadi seperti Facebook dan Instagram, lengkap dengan tautan (link) jurnal resminya.
- Memanfaatkan Psikologi Pembaca: Masyarakat dan peneliti muda cenderung menyukai informasi yang cepat, padat, dan langsung pada inti pembahasan.
Hasilnya cukup menakjubkan. Hanya dalam kurun waktu satu bulan pasca eksekusi ndergil tersebut, angka pembaca risetnya meledak hingga lebih dari 300 pembaca (+300 views) dan secara instan meraup 3 sitasi ilmiah pertama!
Melihat keberhasilan eksperimen pribadi ini, FKG UGM kini tidak lagi membiarkan para dosen bergerak sendirian. Fakultas secara resmi mewajibkan setiap riset dosen dikirimkan ke Tim Humas untuk disebar secara masif melalui media sosial institusi sebuah langkah promosi sains agresif yang jarang dilakukan oleh fakultas kedokteran gigi lainnya.
Di balik kesuksesan terobosan tersebut, forum rapat semakin memanas ketika Dekan secara gamblang membeberkan dinamika internalnya. Beliau menceritakan momen saat dirinya dipanggil oleh pihak Rektorat UGM akibat adanya laporan internal yang menuding gaya kepemimpinannya terlalu militeristik, jarang mendengarkan, serta sering membandingkan FKG UGM dengan institusi lain.

Usai paparan Dekan, pembicaraan beralih ke ranah teknis penyusunan strategi evaluasi 5 tahunan yang dipimpin oleh Wakil Dekan FKG UGM Bidang Kerjasama, Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat, drg. Trianna Wahyu Utami, MDSc., Ph.D yang akrab disapa drg. Mamik. Di sinilah teka-teki besar muncul Bagaimana posisi FKG UGM saat ini di kancah global?
“Bapak, Ibu, dan teman-teman sekalian,Evaluasi kinerja 5 tahun ini kita lakukan bukan sekadar melihat capaian angka TCK, tetapi untuk memetakan keunggulan dan kendala yang ada. Harapannya, laporan ini menjadi peta jalan (roadmap) yang jelas bagi Wakil Dekan dan kabinet baru yang akan dilantik 1 Desember 2026 nanti. Ada beberapa fokus utama yang perlu kita garis bawahi Penelitian & QS by Subject,Pengabdian Masyarakat,IDSDC & Regenerasi dan Kerja Sama.Mari kita susun rekomendasi strategi ini dengan baik agar transisi kepemimpinan berjalan mulus. Terima kasih atas kerja keras teman-teman semua.” Papar drg. Mamik
Teka-teki terbesarnya kini tertuju pada target utama fakultas Menembus Peringkat 300 Besar Dunia (QS World University Rankings by Subject). Saat ini, FKG Universitas Indonesia (UI) dan FKG Universitas Airlangga (Unair) telah berada di posisi nyaman di jajaran 150 besar dunia. Sementara itu, FKG UGM sedang mempersiapkan lompatan raksasa untuk menembus batas aman (cut-off) Top 300 Dunia.
Berdasarkan analisis data internal, untuk mencapai target ambisius tersebut, FKG UGM harus melipatgandakan performa sitasinya dari rata-rata 1.000 sitasi per tahun menjadi 3.000 sitasi per tahun (melonjak 3 kali lipat)! Guna menyokong misi besar ini, alokasi anggaran RKAT fakultas akan dialirkan secara khusus untuk mendanai skema riset dan kolaborasi internasional secara masif.
Tidak hanya di lini riset, kejutan lain muncul dari unit Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas). Target kinerja yang mulanya sempat diragukan oleh Senat Fakultas ternyata berhasil dilampaui secara dramatis. Rahasianya? Bukan dengan menambah beban kerja dosen, melainkan cukup dengan mengubah sistem pelaporan data dari yang sebelumnya dicatat berdasarkan nama kegiatan, menjadi pencatatan berbasis per nama dosen.
Sementara itu, untuk memastikan kemandirian finansial dan tidak bergantung pada dana operasional standar, FKG UGM mentransformasi unit Interdisciplinary Dental Skills Development Center (IDSDC). Mengadopsi pola sukses unit bisnis Fisipol UGM, IDSDC kini resmi dirancang menjadi Profit/Revenue Center. Unit ini akan mengomersialkan keahlian para dosen melalui pelatihan-pelatihan kedokteran gigi bersertifikasi resmi yang siap menjadi mesin penghasil pendapatan (income generator) baru bagi fakultas.

Dengan fondasi strategi ndregil yang adaptif, penguatan unit kerja sama, sistem pelaporan pengmas yang solid, serta pengoptimalan IDSDC, FKG UGM optimistis mampu melompati berbagai batasan dan mengukuhkan posisinya tidak hanya sebagai pilar utama kesehatan gigi nasional, tetapi juga sebagai raksasa akademisi kedokteran gigi yang semakin diperhitungkan di panggung dunia.
(Reporter: Andri Wicaksono, Nanda, Foto: Fajar Budi Harsakti)