Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 10, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Tujuh Hari Sembuh: Kala Kasa Berklorheksidin Menjawab Tantangan Sariawan Traumatik pada Anak

Seorang anak perempuan berusia lima tahun datang ke klinik dengan bibir membengkak, rewel, dan menolak makan. Dua hari sebelumnya, ia terjatuh saat bermain di sekolah dan membentur lantai. Luka sudah dibersihkan dan diberi obat di klinik sekolah, namun kondisinya tak membaik. Pemeriksaan klinis mengungkap sesuatu yang lebih dari sekadar memar: mukosa labial superior dan inferior dipenuhi ulkus berwarna kuning kecokelatan berdiameter sekitar 5 mm, dengan tepi berkrusta cokelat dan disertai edema.

Inilah titik awal studi kasus yang ditulis oleh drg. Putri Kusuma Wardani Mahendra, M.Kes., Sp.KGA. dari Departemen Kedokteran Gigi Anak Universitas Gadjah Mada bersama Nendika Dyah Ayu Murika Sari dari Universitas Muhammadiyah Surakarta, dan diterbitkan dalam Journal of Holistic Nursing Science (2023).

Ketika Kortikosteroid Saja Tidak Cukup

Sebelum tiba di klinik, anak ini telah menerima kortikosteroid topikal selama dua hari. Obat ini lazim digunakan untuk lesi atrofik mukosa oral dan telah dipakai selama lebih dari 50 tahun dalam penanganan lesi rongga mulut. Namun pada kasus ini, hasilnya nihil: edema tidak surut, ulkus tidak membaik, dan anak tetap kesakitan.

Para penulis mencatat, kortikosteroid topikal bekerja dengan menekan inflamasi dan mengendalikan gejala, bukan menyembuhkan luka. Efektivitasnya juga bergantung pada ketepatan diagnosis, pemilihan obat yang sesuai, dan waktu pemberian yang tepat. Dalam kasus ini, ulkus kemungkinan besar telah terinfeksi bakteri, mengingat trauma terjadi di lokasi yang tidak steril. Kortikosteroid, yang bukan agen antibakteri, tidak mampu mengatasi akar masalah tersebut.

Kondisi ini bukan pengecualian. Anak-anak usia prasekolah memiliki kecenderungan tinggi mengalami trauma mekanis karena aktif bergerak dan bermain. Prevalensi trauma akibat jatuh pada anak tercatat antara 31,7 hingga 64,2 persen. Mukosa labial menjadi salah satu area paling rentan, sebab membran basalnya tipis dan mudah rusak saat terkena benturan.

Kasa Basah, Solusi Sederhana yang Bekerja Keras

Penanganan yang kemudian diterapkan tergolong sederhana namun bertumpu pada mekanisme kerja yang kuat secara ilmiah: kasa yang dibasahi larutan klorheksidin glukonat 2% dan dioleskan pada area ulkus dua kali sehari.

Klorheksidin glukonat larut dalam air pada pH fisiologis dan melepaskan komponen klorheksidin bermuatan positif. Muatan positif ini berinteraksi dengan gugus fosfat bermuatan negatif pada dinding sel mikroba, mengubah keseimbangan osmotik sel dan meningkatkan permeabilitas dinding sel. Pada konsentrasi 2%, efeknya bersifat bakterisidal, bukan sekadar bakteriostatik.

Lebih dari itu, klorheksidin glukonat juga terbukti mempercepat penyembuhan luka dengan cara menekan reaksi inflamasi dalam 48 jam pertama, merangsang produksi sel plasma, menginduksi angiogenesis, dan menyelesaikan proses remodeling jaringan dalam tujuh hari pascaaplikasi.

“Chlorhexidine gluconate can be an alternative treatment for labial mucosal ulcers in traumatic children. Healthcare professionals working in the hospital can use this treatment to treat ulcers as chlorhexidine gluconate has antibacterial properties.”

Demikian simpulan yang ditulis Sari dan Mahendra dalam paper tersebut.

Tujuh Hari, Tanpa Bekas Luka

Hasilnya berbicara sendiri. Dua hari setelah aplikasi pertama, anak sudah tidak mengeluhkan sakit dan mau makan kembali. Bibir tidak lagi bengkak. Pada kunjungan kontrol di hari ketujuh, pemeriksaan objektif menunjukkan ulkus telah sembuh sempurna, edema menghilang, dan tidak ada jaringan parut yang tersisa pada mukosa labial.

Penyembuhan tanpa bekas ini bukan kebetulan. Fase penyembuhan luka yang lengkap, meliputi inflamasi, proliferasi, dan remodeling, tampaknya berjalan optimal berkat kombinasi pembersihan mekanis oleh kasa dan aktivitas antibakteri serta imunomodulasi dari klorheksidin glukonat.

Para penulis tetap berhati-hati dalam menarik kesimpulan. Studi ini adalah laporan kasus tunggal, dan mereka menyerukan penelitian lanjutan untuk mengevaluasi efektivitas klorheksidin pada jenis ulkus mulut lainnya. Namun sebagai modalitas yang murah, mudah diterapkan orang tua di rumah, dan tidak memerlukan peralatan khusus, kasa berklorheksidin 2% menawarkan sesuatu yang sering kali paling dibutuhkan dalam perawatan anak: kesederhanaan yang bisa diandalkan.

Bagi para klinisi dan orang tua, temuan ini menjadi pengingat bahwa tidak semua solusi membutuhkan kompleksitas. Kadang, sepotong kasa yang dibasahi dengan tepat sudah cukup untuk membawa seorang anak kembali mau makan.


Sumber DOI : https://doi.org/10.31603/nursing.v10i2.8954

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
16 Juli 2026

Tambal Gigi Retak, Apakah Cukup Hanya Ditambal Ulang?

16 Juli 2026

Obat Kumur Antikalkulis Terbukti Efektif Kendalikan Radang Gusi, Bahkan Tanpa Scaling

16 Juli 2026

Permen Hisap Bakteri Baik: Mungkinkah Probiotik Jadi Senjata Baru Lawan Karies?

id_ID