Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Permen Hisap Bakteri Baik: Mungkinkah Probiotik Jadi Senjata Baru Lawan Karies?

Tiga puluh enam remaja di Bantul duduk di kursi periksa dengan mulut terbuka, gigi mereka diukur indeks plak dan kalkulus-nya satu per satu. Sebagian dari mereka, selama dua bulan ke depan, akan menghisap permen kecil berisi bakteri hidup dua kali sehari. Bukan obat kumur, bukan pasta gigi khusus — hanya sebuah lozenge probiotik. Pertanyaannya: apakah bakteri baik itu cukup untuk mengubah nasib gigi mereka?

Itulah titik awal dari penelitian yang dilakukan Prof. Dr. drg. Regina TC. Tandelilin, M.Sc., PBO, bersama tim dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, bekerja sama dengan peneliti dari University of Bari Aldo Moro, Italia. Hasil studi mereka dipublikasikan dalam Journal of International Oral Health edisi Mei-Juni 2018.

Mulut Bukan Sekadar Pintu Masuk

Rongga mulut bukan ruang kosong. Di dalamnya hidup jutaan mikroorganisme, beberapa menguntungkan, sebagian lainnya menjadi biang keladi penyakit. Ketika keseimbangan ekosistem mikrobial itu terganggu, muncullah masalah: karies, gingivitis, halitosis, bahkan kandidiasis.

Karies gigi masih menjadi salah satu penyakit kronis paling umum di dunia, termasuk Indonesia. Prosesnya dimulai dari interaksi antara bakteri patogen, sisa makanan, dan kondisi host yang memungkinkan terbentuknya asam organik — asam inilah yang mengikis enamel dan dentin secara perlahan. Pendekatan konvensional seperti fluoride dan sikat gigi rutin sudah terbukti, tapi para peneliti terus mencari strategi tambahan, terutama untuk kelompok yang berisiko tinggi.

Probiotik oral menjadi salah satu kandidat menarik. Bakteri seperti Streptococcus salivarius M18 diketahui mampu menghasilkan bakteriosin yang dapat membunuh Streptococcus mutans — bakteri kunci dalam pembentukan plak kariogenik. Selain itu, enzim dextranase dan urease yang dihasilkan bakteri ini mampu menghambat pembentukan plak sekaligus meningkatkan pH saliva.

Siswa SMA Bantul Jadi Subjek Penelitian

Tim peneliti memilih sebuah SMA swasta di Kabupaten Bantul secara acak. Dari 96 siswa berusia 15-19 tahun yang memenuhi kriteria, 36 orang yang masuk kategori berisiko tinggi karies berdasarkan metodologi CAMBRA (Caries Management by Risk Assessment) dipilih untuk mengikuti uji klinis selama 60 hari.

Mereka dibagi menjadi dua kelompok: 18 orang kelompok perlakuan yang mengonsumsi dua lozenge probiotik (Hyperbiotics Pro-Dental, USA) setiap hari setelah menyikat gigi, dan 18 orang kelompok kontrol yang hanya menyikat gigi seperti biasa. Studi dirancang secara acak dan tersamar ganda. Pengukuran dilakukan pada hari ke-0, ke-30, dan ke-60 — mencakup indeks plak, indeks debris, indeks kalkulus, OHI-S, pH saliva, kapasitas buffer, serta laju alir saliva.

Protokol penelitian telah mendapat persetujuan dari Komite Etik FKG UGM dengan nomor 001264/KKEP/FKG-UGM/EC/2017, dan seluruh orang tua peserta menandatangani lembar persetujuan.

Yang Berubah Setelah Dua Bulan

Hasilnya tidak dramatis, tapi cukup bermakna secara statistik.

Pada kelompok perlakuan, indeks plak turun secara signifikan dari hari ke-0 hingga hari ke-60 (p = 0,003). Indeks kalkulus juga menunjukkan penurunan bermakna antara hari ke-0 dan ke-30 (p = 0,011). Rata-rata pH saliva pun cenderung meningkat dari 6,4 menjadi 6,7 — mendekati nilai netral yang lebih protektif terhadap demineralisasi gigi.

“Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan probiotik oral secara rutin dapat mengurangi akumulasi plak dan pembentukan kalkulus pada peserta yang mendapat perlakuan, dan aplikasinya dapat diusulkan sebagai agen efektif untuk menghambat akumulasi plak gigi serta kalkulus pada populasi berisiko tinggi karies.”

Namun, ada catatan penting: ketika dibandingkan antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol secara langsung pada hari ke-30 maupun ke-60, perbedaannya tidak mencapai signifikansi statistik. Artinya, efek probiotik nyata terlihat dalam perjalanan waktu di dalam kelompok perlakuan, tapi belum cukup kuat untuk membedakan kedua kelompok secara tajam — kemungkinan karena jumlah sampel yang relatif kecil dan durasi observasi yang singkat.

Tim peneliti mengakui keterbatasan ini secara terbuka: tidak ada kelompok kontrol positif, jumlah peserta terbatas, dan periode pengamatan 60 hari masih tergolong pendek untuk melihat dampak pada karies secara keseluruhan.

Satu Permen Kecil, Satu Pertanyaan Besar

Di tengah meningkatnya resistensi antibiotik secara global, pendekatan berbasis probiotik menawarkan sesuatu yang berbeda: terapi alami yang bekerja dengan cara memperkuat ekosistem mikrobial, bukan menghancurkannya. Probiotik tidak membunuh semua bakteri — ia bersaing, menggeser, dan memodifikasi lingkungan agar lebih tidak ramah bagi patogen.

Penelitian ini membuka peluang bagi studi lanjutan dengan populasi lebih besar, durasi lebih panjang, dan kelompok kontrol positif yang lebih kuat. Jika hasilnya konsisten, lozenge probiotik bisa menjadi bagian dari protokol pencegahan karies — terutama bagi kelompok berisiko tinggi yang membutuhkan strategi perlindungan tambahan di luar sikat gigi dan fluoride.

Pertanyaan yang tersisa bukan lagi soal apakah bakteri baik bisa membantu. Pertanyaannya kini: seberapa jauh kita bisa mengandalkannya?

Sumber DOI : DOI: 10.4103/jioh.jioh_82_18

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
17 Juli 2026

Literasi Kesehatan Gigi Rendah, Gusi Pun Meradang: Temuan Peneliti FKG UGM pada Lansia Yogyakarta

17 Juli 2026

Filtrat Bawang Putih Ungguli Kalsium Hidroksida: Temuan dari Saluran Akar Gigi Susu

17 Juli 2026

Saat Komputer Belajar Membaca Rongga Mulut: Kecerdasan Buatan di Balik Kursi Gigi

id_ID