Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Obat Kumur Antikalkulis Terbukti Efektif Kendalikan Radang Gusi, Bahkan Tanpa Scaling

Selama ini banyak orang mengira bahwa membersihkan karang gigi hanya bisa dilakukan di kursi dokter. Ternyata, sebuah studi klinis yang melibatkan peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Gadjah Mada membuktikan sesuatu yang lebih mengejutkan: obat kumur antikalkulis berbahan dasar bahan pangan terbukti mampu menekan plak, karang gigi, dan peradangan gusi secara signifikan, bahkan tanpa intervensi profesional sama sekali.

Penelitian ini dipublikasikan dalam Journal of International Oral Health edisi Mei-Juni 2018, dengan Prof. Dr. drg. Regina TC. Tandelilin, M.Sc., PBO, dari Departemen Biologi Oral FKG UGM sebagai salah satu penulis utama.

Ketika Gusi Meradang Diam-Diam

Gingivitis, atau radang gusi, kerap dianggap enteng. Padahal kondisi ini merupakan pintu masuk menuju penyakit periodontal yang lebih serius, yang secara global dapat memengaruhi hingga 90 persen populasi dunia dan menjadi penyebab utama kehilangan gigi.

Yang membuat gingivitis berbahaya adalah sifatnya yang sering tidak terasa. Gusi tampak sedikit merah, kadang berdarah saat sikat gigi, lalu dibiarkan begitu saja. Padahal di balik itu, biofilm bakteri terus berkembang, mengeras menjadi kalkulus (karang gigi), dan menciptakan lingkungan ideal bagi kolonisasi mikroba subgingival yang merusak jaringan pendukung gigi.

Karang gigi sendiri bukan sekadar masalah estetika. Permukaannya yang kasar menjadi tempat berlindung bakteri patogen. Studi menunjukkan bahwa kalkulus ditemukan pada 70 hingga 100 persen kasus penyakit periodontal.

Empat Puluh Relawan, Dua Kelompok, Satu Obat Kumur

Studi ini dilakukan di Departemen Biologi Oral dan Program Studi Higiene Gigi FKG UGM, setelah mendapat persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian FKG UGM (No. 00467/KKEP/FKG-UGM/EC/2015). Sebanyak 40 relawan dengan gingivitis sedang dipilih secara ketat, dengan rentang usia 17 hingga 55 tahun, bebas dari penyakit sistemik kronis, dan tidak sedang mengonsumsi obat yang memengaruhi kondisi gingiva.

Setelah melewati periode washout dua minggu, peserta dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok A menjalani scaling profesional sebelum mulai menggunakan obat kumur antikalkulis (Periogen, USA). Kelompok B hanya menggunakan obat kumur yang sama tanpa scaling sama sekali. Keduanya berkumur dua kali sehari selama satu menit, selama dua bulan penuh.

Tiga indeks klinis diukur secara berkala: indeks gingival (GI) berdasarkan metode Loe dan Silness, indeks plak (PI) berdasarkan metode Silness dan Loe, serta indeks kalkulus dari Oral Hygiene Index-Simplified. Pengukuran dilakukan pada awal studi, setelah satu bulan, dan di akhir bulan kedua.

Hasilnya berbicara sendiri.

Angka yang Tidak Bisa Diabaikan

Pada kelompok yang menjalani scaling diikuti penggunaan obat kumur, indeks gingival membaik sebesar 50 persen, indeks plak turun 52,72 persen, dan indeks kalkulus mencapai penurunan 100 persen dari baseline hingga akhir bulan kedua. Hasil yang mengesankan, sekaligus logis, karena scaling mengangkat deposit awal sebelum obat kumur bekerja mencegah pembentukan baru.

Yang lebih menarik justru terjadi di kelompok tanpa scaling. Meski perbaikannya lebih moderat, indeks gingival tetap membaik 21,43 persen, indeks plak turun 25 persen, dan indeks kalkulus berkurang 36,58 persen hanya dengan berkumur rutin dua kali sehari.

“Anticalculus oral rinse can play a major role to decrease plaque development by inhibiting crystal growth.”

Mekanisme kerjanya terletak pada kandungan tetrapotassium pyrophosphate dan sodium tripolyphosphate dalam formula Periogen. Kedua senyawa ini menghambat pertumbuhan kristal mineral pada plak, sehingga mencegah plak mengeras menjadi kalkulus. Yang membedakan Periogen dari banyak obat kumur lain: formulanya berbasis bahan pangan, bebas alkohol, dan aman untuk penggunaan jangka panjang tanpa risiko efek samping yang kerap dikaitkan dengan obat kumur berbasis alkohol.

Uji statistik menggunakan Kruskal-Wallis menunjukkan penurunan yang sangat signifikan pada semua parameter klinis di kedua kelompok. Uji Mann-Whitney pada bulan pertama mengungkap bahwa kondisi plak dan gingival kedua kelompok sudah tidak berbeda bermakna secara statistik, meski indeks kalkulus masih lebih baik pada kelompok scaling. Pada akhir bulan kedua, perbedaan antara kedua kelompok kembali signifikan di semua parameter, mengonfirmasi bahwa scaling tetap memberikan hasil optimal.

Relevansi di Luar Klinik

Temuan ini punya implikasi yang melampaui ruang praktik gigi. Di banyak wilayah dengan akses terbatas ke layanan kesehatan gigi profesional, obat kumur antikalkulis bisa menjadi garis pertahanan pertama yang realistis dan terjangkau. Peneliti menyebutnya secara eksplisit: obat kumur ini berpotensi menjadi “alternatif alami berbasis bahan pangan bagi pasien yang ingin menghindari alkohol, pengawet buatan, perisa buatan, dan pewarna.”

Tentu ada batas yang perlu diingat. Studi ini hanya berlangsung dua bulan dan melibatkan 40 peserta dengan kondisi gingivitis sedang. Peneliti sendiri mengakui perlunya studi multisenter dengan durasi lebih panjang, serta evaluasi pada kondisi periodontal lain seperti periodontitis agresif dan peri-implantitis.

Namun satu hal sudah jelas: berkumur dua kali sehari dengan obat kumur yang tepat bukan sekadar kebiasaan kosmetik. Dalam kondisi tertentu, itu bisa menjadi terapi yang sungguh-sungguh bekerja, sambil menunggu kesempatan duduk di kursi dokter gigi.

Sumber DOI : DOI: 10.4103/jioh.jioh_106_18

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
17 Juli 2026

Literasi Kesehatan Gigi Rendah, Gusi Pun Meradang: Temuan Peneliti FKG UGM pada Lansia Yogyakarta

17 Juli 2026

Filtrat Bawang Putih Ungguli Kalsium Hidroksida: Temuan dari Saluran Akar Gigi Susu

17 Juli 2026

Saat Komputer Belajar Membaca Rongga Mulut: Kecerdasan Buatan di Balik Kursi Gigi

id_ID