Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 10, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Suntikan Kecil untuk Masalah Besar: Mencegah Gigi Kembali ke Posisi Semula

Bayangkan menjalani perawatan kawat gigi selama dua hingga tiga tahun, lalu beberapa bulan setelah alat dilepas, gigi perlahan-lahan bergerak kembali ke posisi awal. Fenomena ini bukan kegagalan pasien — ini adalah salah satu tantangan paling frustrasi dalam ortodonsia, yang dikenal sebagai relapse. Sebuah penelitian dari Universitas Gadjah Mada mencoba menjawab pertanyaan lama itu dengan pendekatan yang tak terduga: menyuntikkan kombinasi material biokeramik dan plasma darah langsung ke jaringan gusi.

Ketika Tulang Belum Siap Melepas Kenangan

Relapse terjadi karena tulang alveolar — tulang yang menopang gigi — belum sepenuhnya menyesuaikan diri dengan posisi baru gigi setelah kawat dilepas. Dalam kondisi ini, tubuh justru merespons dengan cara yang berlawanan dari yang diinginkan. Protein RANKL meningkat tajam, memicu aktivitas osteoklas yang mengikis tulang, sementara OPG (osteoprotegerin) yang seharusnya menghambat proses perusakan itu justru menurun.

Penelitian yang dipublikasikan di Key Engineering Materials ini melibatkan Prof. Dr. drg. Pinandi Sri Pudyani, SU., Sp.Ort(K) dari Departemen Ortodonsia FKG UGM bersama Ananto Ali Alhasyimi, Widya Asmara, dan Ika Dewi Ana. Tim ini merancang solusi berlapis: menggabungkan carbonated hydroxy apatite (CHA) dalam bentuk hidrogel dengan advanced platelet-rich fibrin (aPRF) yang kaya faktor pertumbuhan.

CHA adalah biokeramik dengan struktur berpori yang menyerupai tulang kanselus. Sifat ini membuatnya ideal sebagai pembawa (carrier) zat bioaktif sekaligus pendorong regenerasi tulang. Sementara itu, aPRF merupakan modifikasi terbaru dari PRF — diperoleh dari sentrifugasi darah dengan kecepatan lebih rendah dan durasi lebih lama — yang menghasilkan konsentrasi trombosit jauh lebih tinggi. Dalam penelitian ini, konsentrasi trombosit aPRF mencapai 4,78 kali lipat dibanding darah utuh, angka yang melampaui temuan serupa sebelumnya.

Hidrogel, Sentrifugasi, dan Empat Puluh Lima Kelinci

Proses pembuatan hidrogel CHA dimulai dari gelatin tulang sapi dan kalsium karbonat yang diformulasikan dalam tiga komposisi berbeda: 30-CHA, 40-CHA, dan 50-CHA. Analisis FTIR mengonfirmasi bahwa apatit berkarbonat berhasil terbentuk dalam proses fabrikasi. Dari ketiga komposisi, 30-CHA menunjukkan profil degradasi paling ideal — tidak terlalu cepat luruh sehingga faktor pertumbuhan dapat dilepaskan secara terkontrol ke area target.

Empat puluh lima ekor kelinci New Zealand kemudian dibagi dalam tiga kelompok: kelompok kontrol tanpa injeksi, kelompok yang mendapat CHA saja, dan kelompok CHA-aPRF. Gigi seri bawah kelinci digerakkan secara ortodontik menggunakan open coil spring nikel-titanium selama satu minggu, diretensikan dua minggu, lalu dibiarkan relapse selama 21 hari. Selama masa retensi, hidrogel disuntikkan ke sulkus gingiva sisi mesial setiap tujuh hari.

“Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa inkorporasi hidrogel CHA berpotensi meningkatkan remodeling tulang alveolar dan mencegah relapse ortodontik dengan menstimulasi ekspresi OPG serta menekan ekspresi RANKL.”

Hasilnya bicara dengan angka yang cukup jelas. Pada hari ke-21 setelah pelepasan alat, kelompok CHA-aPRF mencatat persentase relapse terendah: hanya 29,95 persen, dibanding kelompok kontrol yang jauh lebih tinggi. Ekspresi RANKL pada kelompok ini secara signifikan paling rendah di hari ke-0, 3, dan 7, sementara ekspresi OPG justru paling tinggi di hari ke-14 dan 21.

Ketika Darah Sendiri Menjadi Obat

Yang menarik dari pendekatan ini bukan hanya hasilnya, melainkan prinsip kerjanya. aPRF berasal dari darah kelinci itu sendiri — autologus — sehingga tidak memerlukan bahan tambahan seperti trombin bovine atau kalsium klorida yang selama ini menjadi kelemahan generasi sebelumnya, PRP. Tanpa antikoagulan eksternal, risiko pembentukan antibodi yang dapat menyebabkan koagulopati pun dihindari.

PRF juga terbukti melepaskan faktor pertumbuhan secara bertahap selama periode yang lebih panjang dibanding PRP. Dalam sistem hidrogel CHA, pelepasan itu menjadi semakin terkendali — GF tidak habis sekaligus, melainkan bekerja secara bertahap tepat di lokasi yang dibutuhkan. OPG yang meningkat akan mengikat RANKL dan memblokir interaksinya dengan RANK, sehingga diferensiasi osteoklas terhambat dan resorpsi tulang melambat.

Bagi dunia ortodonsia, implikasi penelitian ini cukup signifikan. Retensi pasca perawatan selama ini sangat bergantung pada pemakaian retainer oleh pasien — yang notabene tidak selalu konsisten. Jika injeksi lokal CHA-aPRF suatu hari dapat diintegrasikan ke dalam protokol klinis, maka stabilitas hasil perawatan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kepatuhan pasien memakai alat.

Tentu masih ada jarak antara model hewan dan aplikasi klinis pada manusia. Namun langkah pertama itu sudah diambil — dengan suntikan kecil, dan pertanyaan yang jawabannya terus dicari.

Sumber DOI : http://10.4028/www.scientific.net/KEM.758.255

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
5 Agustus 2026

Prodi IKGA FKG UGM Menjawab Tantangan & Hadirkan Inovasi Orofasial, Dalam Monev Kolegium KGA

4 Agustus 2026

FKG UGM Bersama POTMAGI Bangun Sinergitas Pendidikan yang Kuat, Transparan, & Berorientasi Global

4 Agustus 2026

FKG UGM Pecahkan 3 Rekor MURI Sekaligus

id_ID