Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Saat Orang Tua Rajin Melatih, Anak Tetap Kesulitan Menggosok Gigi

Sebanyak 30 anak disabilitas intelektual di SLB Pamardi Putra Banguntapan, Bantul, Yogyakarta menjadi subjek penelitian yang hasilnya cukup mengejutkan: seberapa aktif pun peran orang tua, keterampilan menyikat gigi anak-anak ini tidak serta-merta ikut membaik. Temuan itu dipublikasikan oleh Leny Pratiwi Arie Sandy, S.Kp.G., MDSc., dosen dari Program Studi Higiene Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, dalam jurnal Teknosains UGM edisi Desember 2017. Penelitian yang mendapat dukungan Hibah DAMAS FKG UGM tahun 2012 ini mengungkap bahwa ada faktor lain, jauh lebih mendasar, yang menentukan kemampuan seorang anak disabilitas intelektual dalam menjaga kebersihan giginya.

Anak Berkebutuhan Khusus dan Risiko Gigi yang Sering Terlupakan

Disabilitas intelektual adalah kondisi di mana seseorang memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata, dengan skor IQ 70 atau lebih rendah. Anak-anak dalam kelompok ini menghadapi keterbatasan dalam fungsi intelektual, kemampuan adaptasi sosial, hingga keterampilan motorik tangan yang dibutuhkan untuk kegiatan sehari-hari, termasuk menggosok gigi.

Angka-angka dari berbagai negara bicara keras. Sebuah survei di India terhadap 117 anak dengan kondisi serupa menemukan 67,6 persen di antaranya memiliki kebersihan gigi dan mulut yang buruk. Di Brazil, dari 93 anak yang diperiksa, 91 persen mengalami radang gusi (gingivitis). Di Semarang, studi lokal menunjukkan 83,2 persen anak tunagrahita mengalami karies gigi. Gigi berlubang dan gusi bermasalah bukan sekadar soal estetika — ini menyangkut kualitas hidup yang nyata: rasa sakit, kesulitan makan, hingga infeksi yang bisa menyebar.

Menyikat gigi adalah salah satu cara paling murah dan mudah untuk mencegah semua itu. Tapi bagi anak disabilitas intelektual, gerakan menyikat yang tampak sederhana itu menuntut koordinasi motorik tangan yang justru menjadi kelemahan utama mereka.

Ketika Data Berbicara Berbeda dari Ekspektasi

Leny Pratiwi menggunakan dua alat ukur dalam penelitiannya: kuesioner untuk menilai peran orang tua, dan daftar periksa (check list) dari pedoman Special Care Advocates in Dentistry (SAID) tahun 1995 untuk menilai keterampilan menggosok gigi anak. Hasilnya dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman.

Dari sisi orang tua, sebagian besar, yakni 76 persen, berada pada kategori peran “sedang”. Hanya 7 persen yang dinilai memiliki peran kurang. Dari sisi anak, 52 persen memiliki keterampilan menyikat gigi pada kategori sedang, dan 31 persen masih berada di kategori kurang.

Lalu, apakah kedua hal ini saling berkaitan? Uji statistik menjawab: tidak. Nilai signifikansi yang diperoleh adalah p = 0,185, lebih besar dari batas 0,05 yang biasa digunakan sebagai ambang hubungan bermakna. Artinya, tinggi-rendahnya keterlibatan orang tua tidak terbukti berhubungan langsung dengan seberapa terampil anak dalam menyikat gigi.

“Ketelatenan orang tua yang harus sering terus menerus melatih secara berulang-ulang memberikan dampak pada peningkatan keterampilan bina diri anak disabilitas intelektual.”

Kutipan itu berasal dari literatur yang dirujuk dalam penelitian ini. Dan justru di sanalah letak kerumitannya: latihan berulang memang penting, tapi hasilnya tidak linier. Faktor neurologis dan motorik yang melekat pada kondisi disabilitas intelektual membatasi seberapa jauh latihan saja bisa membawa perubahan.

Lebih dari Sekadar Semangat Orang Tua

Penelitian ini juga menyoroti pola asuh yang kadang justru menjadi hambatan. Sebagian orang tua cenderung over-protective, membantu semua kegiatan anak bahkan ketika anak sebenarnya mampu melakukannya sendiri. Sebagian lain justru menunjukkan sikap acuh, atau menghindari interaksi karena belum sepenuhnya menerima kondisi anak.

Kedua pola ini, meski berbeda arah, sama-sama bisa menghambat perkembangan kemandirian. Anak yang selalu dibantu tidak punya kesempatan berlatih. Anak yang diabaikan kehilangan bimbingan yang ia butuhkan.

Karakteristik dasar anak disabilitas intelektual, yaitu kemampuan motorik yang lambat, keterbatasan komunikasi, dan kesulitan memahami instruksi, menjadi variabel yang jauh lebih dominan dalam menentukan keterampilan menyikat gigi mereka. Ini bukan berarti peran orang tua tidak penting. Justru sebaliknya: peran orang tua perlu dirancang ulang, dari sekadar “melatih” menjadi “mendampingi dengan metode yang tepat untuk kondisi spesifik anak.”

Tantangan yang Menunggu Jawaban Lebih Jauh

Penelitian Leny Pratiwi membuka pintu untuk pertanyaan yang lebih besar: jika peran orang tua saja tidak cukup, intervensi apa yang benar-benar efektif untuk meningkatkan kebersihan gigi dan mulut anak disabilitas intelektual? Apakah perlu pendekatan khusus dari terapis, guru SLB, atau tenaga kesehatan gigi yang terlatih dalam perawatan pasien berkebutuhan khusus?

Kelompok anak ini tidak kekurangan perhatian dari orang-orang yang menyayangi mereka. Yang mungkin masih kurang adalah sistem pendampingan yang lebih terstruktur, berbasis pemahaman mendalam tentang bagaimana otak dan tubuh mereka bekerja. Gigi yang sehat bukan kemewahan. Untuk anak-anak ini, itu adalah bagian dari hak atas kehidupan yang layak.

Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam

Foto: Pexels

Sumber DOI: https://doi.org/10.22146/teknosains.32343

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
23 Juli 2026

Kawat Gigi Bukan Sekadar Meluruskan Gigi: Ini yang Terjadi pada Wajah Anda

23 Juli 2026

Alat Cetak Gigi Digital Lebih Nyaman untuk Anak, Riset UGM Buktikannya

23 Juli 2026

Konsumsi Karbohidrat Berlebih Tingkatkan Risiko Gigi Berlubang 62 Kali Lipat pada Anak Usia Dini

id_ID