Skor kerusakan gigi anak usia 12 tahun di Indonesia naik dari 0,9 pada tahun 2007 menjadi 1,4 pada tahun 2014, menurut data Riset Kesehatan Dasar. Angka ini bukan sekadar statistik: ia menggambarkan jutaan gigi anak yang berlubang, nyeri, dan berpotensi mengganggu tumbuh kembang mereka. Padahal, program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) sudah berjalan selama puluhan tahun di seluruh Indonesia. Lalu, ada apa yang salah?
Pertanyaan itulah yang mendorong Dr. drg. Sri Widiati, MPH dari Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Pencegahan dan Ilmu Kedokteran Gigi Masyarakat (IKGP dan KGM) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada untuk melakukan penelitian mendalam. Bersama tim peneliti dari FKG dan Fakultas Kedokteran UGM serta Universitas Kristen Krida Wacana, ia mengkaji hubungan antara program UKGS, perilaku kesehatan gigi, dan kondisi gigi-mulut nyata pada murid sekolah dasar di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, pada tahun 2016.
Menyisir 45 Sekolah di Tiga Wilayah
Penelitian ini tidak dilakukan di satu sekolah saja. Tim memilih 45 Sekolah Dasar Negeri yang tersebar di tiga jenis wilayah: pedesaan dataran tinggi, pedesaan dataran rendah, dan pinggiran kota. Dari 15 puskesmas yang menjadi penanggung jawab program UKGS di wilayah tersebut, masing-masing dipilih tiga SDN secara acak. Hasilnya, sebanyak 1.144 murid kelas 5 terlibat sebagai subjek penelitian, setelah mendapat persetujuan dari orang tua atau wali.
Setiap anak diperiksa kondisi gigi dan mulutnya secara langsung oleh asisten peneliti terlatih. Ada tiga indikator yang diukur: kebersihan gigi (OHI-S), kesehatan gusi (GI atau Gingival Index), dan tingkat karies gigi (DMFT, yang menghitung jumlah gigi berlubang, dicabut, dan ditambal). Selain pemeriksaan klinis, setiap murid juga mengisi kuesioner tentang latar belakang keluarga, tingkat pengeluaran rumah tangga, dan perilaku menjaga kesehatan gigi sehari-hari.
Perilaku Menyikat Gigi Saja Tidak Cukup
Temuan yang paling mengejutkan dari penelitian ini: perilaku kesehatan gigi dan mulut anak hanya berhubungan dengan kondisi gusi (GI), namun tidak terbukti berpengaruh terhadap kebersihan gigi (OHI-S) maupun tingkat karies (DMFT). Artinya, meskipun seorang anak rajin menyikat gigi dan memiliki kebiasaan menjaga kesehatan mulut yang baik, hal itu belum tentu membuat giginya bebas dari karies.
Yang justru berperan besar adalah faktor-faktor di luar kendali anak itu sendiri. Tingkat pendidikan ayah, misalnya, terbukti menjadi prediktor kuat untuk DMFT. Anak-anak dengan ayah berpendidikan perguruan tinggi memiliki skor DMFT rata-rata 0,66 lebih rendah dibanding anak dengan ayah berpendidikan lebih rendah. Faktor jenis kelamin juga berpengaruh: anak laki-laki memiliki skor DMFT rata-rata 0,44 lebih rendah dibanding anak perempuan.
“Sekolah berhubungan dengan OHI-S, DMFT, dan GI, sementara puskesmas tidak berhubungan dengan indikator kesehatan gigi dan mulut manapun.”
Kutipan dari kesimpulan penelitian ini terasa tajam. Puskesmas, yang secara resmi bertanggung jawab atas pelaksanaan UKGS di sekolah-sekolah binaannya, ternyata tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan status kesehatan gigi murid. Sebaliknya, sekolah sebagai institusi justru memiliki pengaruh yang nyata.
Ketika Sekolah Lebih Berpengaruh dari Puskesmas
Hasil analisis multilevel menunjukkan bahwa variasi kondisi gigi anak lebih banyak dijelaskan oleh faktor sekolah daripada faktor puskesmas. Ini bisa berarti bahwa lingkungan sekolah, termasuk budaya, kebiasaan, dan program internal yang diterapkan guru, memiliki dampak lebih langsung terhadap perilaku dan kesehatan gigi murid.
Dukungan keluarga terhadap perilaku kesehatan gigi anak memang awalnya berkaitan dengan kebersihan gigi (OHI-S). Namun, begitu faktor sekolah dimasukkan dalam analisis, hubungan itu menghilang. Artinya, pengaruh keluarga bisa “tertutupi” oleh pengaruh lingkungan sekolah yang lebih dominan.
Pengeluaran rumah tangga juga menjadi penentu. Keluarga dengan pengeluaran antara 1 juta hingga 1,4 juta rupiah per bulan memiliki anak dengan skor kebersihan gigi yang lebih buruk dibanding keluarga dengan pengeluaran di bawah 1 juta rupiah. Pola ini menarik dan perlu ditelaah lebih lanjut, karena tidak selalu sejalan dengan asumsi umum bahwa penghasilan lebih tinggi otomatis berarti kesehatan lebih baik.
Bukan Soal Rajin Sikat Gigi Saja
Penelitian Dr. drg. Sri Widiati, MPH ini membuka perspektif baru tentang mengapa program UKGS belum memberikan dampak yang diharapkan. Masalah kesehatan gigi anak bukan semata-mata soal kebiasaan menyikat gigi dua kali sehari. Ia berakar pada kondisi sosial-ekonomi keluarga, tingkat pendidikan orang tua, dan seberapa kuat institusi sekolah membangun budaya sehat di lingkungannya.
Jika program UKGS hanya mengandalkan kunjungan petugas puskesmas tanpa membangun keterlibatan sekolah secara aktif dan berkelanjutan, hasilnya akan terus terbatas. Gigi berlubang anak Indonesia bukan hanya masalah kesehatan. Ia adalah cermin dari ketimpangan akses, pendidikan, dan perhatian sistemik yang masih perlu banyak perbaikan.
Penulis drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam
Foto: Freepik