Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Pemindai Digital Lebih Andal dari Kamera: Bukti dari Model Gigi UGM

Selisih 1,38 milimeter mungkin terdengar sepele. Tapi dalam dunia kedokteran gigi, perbedaan sekecil itu bisa menentukan apakah kawat gigi terpasang tepat, apakah gigi tiruan terasa nyaman, atau apakah rencana perawatan berjalan sesuai harapan. Dan itulah yang menjadi inti temuan terbaru dari tim peneliti lintas departemen Universitas Gadjah Mada, yang membandingkan tiga metode pengukuran model studi gigi secara sistematis.

Penelitian ini diterbitkan dalam International Journal of Community Dentistry edisi 2025, melibatkan kolaborasi antara Departemen Teknik Mesin dan Industri, Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak, Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial, Departemen Biomedika, serta Departemen Prostodonsia FKG UGM. Salah satu kontributor dari sisi kedokteran gigi anak adalah Dr. drg. Indra Bramanti, M.Sc., Sp.KGA(K), yang bersama delapan peneliti lainnya merancang studi yang menjawab pertanyaan mendasar: seberapa andal metode digital dibanding cara konvensional?

Tiga Cara Mengukur, Satu Standar Kebenaran

Tim peneliti menggunakan 15 model studi gigi, terdiri dari tujuh model mandibula dan delapan model maksila. Setiap model diukur dengan tiga metode berbeda.

Metode pertama adalah pengukuran manual: lembar asetat transparan diletakkan di atas model, titik anatomis ditandai, lalu diukur dengan kaliper vernier presisi. Metode ini menjadi standar referensi. Metode kedua adalah penilaian fotografis: kamera digital diposisikan tegak lurus 5 sentimeter di atas permukaan oklusal model, dengan penggaris sebagai referensi kalibrasi. Pengukuran dilakukan melalui perangkat lunak pencitraan. Metode ketiga adalah pemindaian digital menggunakan Aoralscan 3 Wireless Intraoral Scanner buatan Shining 3D, yang menghasilkan model 3D terdigitalisasi untuk dianalisis lebih lanjut.

Hasilnya gamblang. Metode pemindaian digital mencatat mean absolute error (MAE) rata-rata sebesar 0,91 mm terhadap pengukuran manual. Metode fotografis? Jauh di atas itu: 2,29 mm. Dalam persentase kesalahan relatif (mean relative error/MRE), pemindaian digital berada di angka 13 persen, sementara metode foto mencapai 31 persen.

Mandibula Lebih Menantang, Maksila Lebih Bersahabat

Tidak semua rahang sama sulitnya untuk dipindai. Salah satu temuan menarik dalam studi ini adalah perbedaan akurasi antara model mandibula dan maksila. Pemindai digital menunjukkan deviasi yang lebih besar pada model mandibula dibanding maksila. Pada model maksila terbaik, MAE pemindaian hanya mencapai 0,40 mm dengan MRE 5 persen. Sementara pada model mandibula terburuk, MAE mencapai 1,85 mm dengan MRE 26 persen.

Para peneliti menduga penyebabnya adalah kompleksitas topografi permukaan mandibula yang lebih tinggi dibanding maksila. Lekukan dan kontur yang lebih rumit membuat proses pemindaian lebih rentan terhadap galat pengukuran.

Metode fotografis, di sisi lain, menunjukkan keterbatasan yang konsisten di seluruh model, baik mandibula maupun maksila. Faktor seperti resolusi gambar dan ketergantungan pada sudut pengambilan foto menjadi sumber utama inkonsistensi. Bahkan pada model terbaiknya pun, MAE metode foto tidak pernah turun di bawah 1,97 mm.

“Intraoral scanning represents a more robust and dependable modality for precise dental model assessment.” — Kesimpulan penelitian, International Journal of Community Dentistry 2025

Dari Cetakan Gipsum ke Dunia Digital

Model studi gigi dari gipsum telah menjadi tulang punggung diagnosis dan perencanaan perawatan selama puluhan tahun. Murah, detail, dan tahan lama. Namun proses pembuatan dan pengukurannya memakan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Pemindaian intraoral hadir menawarkan kenyamanan lebih bagi pasien, waktu prosedur yang lebih singkat, dan eliminasi masalah distorsi bahan cetak.

Studi ini tidak sekadar membuktikan bahwa teknologi digital lebih unggul secara statistik. Ia juga menegaskan bahwa pemindai intraoral memiliki tingkat repeatability yang lebih baik, ditunjukkan oleh standar deviasi yang lebih kecil secara konsisten dibanding metode foto. Artinya, hasil pengukuran yang didapat dari pemindai digital tidak hanya lebih akurat, tapi juga lebih stabil ketika diulang.

Penelitian ini didanai oleh Program Kedaireka Matching Fund, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.

Bagi klinisi yang masih mengandalkan foto oklusal sebagai alat ukur, temuan ini menjadi catatan serius. Kamera mungkin mudah dan murah, tapi selisih 31 persen dalam kesalahan relatif adalah harga yang cukup mahal untuk dibayar di kursi perawatan.

Sumber DOI : https://doi.org/10.56501/intjcommunitydent.v13i1.1280

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Freepik

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
27 Juli 2026

FKG UGM Pacu Akselerasi Budaya Mutu Akademik Melalui Sistem AMI 2026

27 Juli 2026

Tebal Aligner Beda, Nasib Gigi Bisa Berbeda: Riset FKG UGM Ungkap Formula Optimal Clear Aligner

27 Juli 2026

Angka Karies Dua Kali Lipat, Desa Karangtengah Bergerak

id_ID