Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 10, SDG 12, SDG 13, SDG 14, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Menuju Jaminan Kesehatan Semesta: WHO Dorong Revolusi Pelayanan Kesehatan Mulut Non-Invasif di Kawasan Pasifik Barat

Pernahkah Anda berpikir bahwa setiap kali duduk di kursi gigi untuk menambal gigi yang berlubang, ada jejak lingkungan dan ketimpangan akses kesehatan global yang tertinggal di baliknya? Fakta mengejutkan inilah yang dikupas tuntas oleh Dr. Yuriko Harada, DDS , MPH. Petugas Teknis Bidang Kesehatan Mulut dari Kantor Regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Pasifik Barat.

Dalam sebuah kuliah umum interaktif yang diselenggarakan secara daring oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (UGM) Jum’at (10/7/26), Dr. Harada membawa pesan menohok bagi dunia medis modern. Penyakit mulut yang tidak diobati ternyata menjadi jenis Penyakit Tidak Menular (PTM) yang paling umum terjadi di kawasan Pasifik Barat, termasuk Indonesia, dengan dampak yang mencakup hampir setengah populasi.

5 Proyek Akselerasi WHO Menuju Tahun 2030

Untuk mengejar target tersebut, WHO telah menyusun 5 proyek prioritas nasional yang harus segera dieksekusi oleh negara-negara anggota:

  • Proyek A (Pembagian Tugas Medis): Melatih perawat dan bidan untuk memberikan pelayanan kesehatan mulut dasar. Langkah pengalihan tugas (task shifting) ini krusial untuk mengisi kekosongan dokter gigi di daerah terpencil.
  • Proyek B (Penguatan Puskesmas): Mengintegrasikan layanan gigi ke dalam perawatan primer (Puskesmas) dan memasukkannya ke dalam paket jaminan kesehatan nasional seperti BPJS.
  • Proyek C (Sekolah Sehat): Mewajibkan intervensi kesehatan mulut massal di lingkungan sekolah, tempat kerja, hingga fasilitas lansia.
  • Proyek D (Perang Melawan Gula): Menggandeng unit PTM lain untuk bersama-sama memerangi musuh utama gigi dan tubuh: konsumsi gula berlebih.
  • Proyek E (Cetak Biru Kebijakan): Menyusun kebijakan kesehatan mulut nasional yang kuat dan terarah di setiap negara, termasuk Indonesia.

 Sayonara Amalgam, Selamat Datang Cairan “Ajaib” SDF

Salah satu poin paling revolusioner dalam paparan WHO kali ini adalah komitmen global untuk melakukan penghentian total (phase out) penggunaan amalgam gigi pada tahun 2034. Amalgam yang mengandung merkuri dinilai berbahaya bagi manusia dan lingkungan.

Sebagai gantinya, WHO merilis panduan baru yang mengedepankan perawatan ramah lingkungan dan tidak invasif:

  1. Aplikasi Massal Terarah: Penggunaan fluoride varnish di sekolah setiap 6 bulan sekali yang diaplikasikan langsung di tempat saat skrining, tanpa memandang kondisi awal gigi anak.
  2. Cairan Menghentikan Karies (SDF): Penggunaan Silver Diamine Fluoride (SDF), cairan yang mampu menghentikan pembusukan gigi tanpa perlu kursi gigi, listrik, air, ataupun proses pengeboran yang menakutkan bagi anak-anak.
  3. Restorasi Berkelanjutan: Mengoptimalkan bahan tambalan yang aman seperti Glass Ionomer Cement (GIC) serta membatasi penggunaan bahan resin komposit yang mengandung BPA pada populasi rentan (anak-anak dan ibu hamil).

 Tantangan Nyata: Ego Profesi hingga Budaya Menyirih

Dalam sesi diskusi, Dr. Harada blak-blakan mengenai hambatan terbesar di lapangan. Di kawasan Asia, tantangan terberat justru datang dari resistensi komunitas dokter gigi itu sendiri yang ingin mempertahankan eksklusivitas profesinya dan enggan membagi tugas dasar (seperti mengoleskan fluoride varnish) kepada perawat. Padahal, 30% Puskesmas di Indonesia saat ini tercatat belum memiliki dokter gigi.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan wilayah Kepulauan Pasifik (seperti Palau atau Niue) yang hanya memiliki segelintir dokter gigi karena tidak adanya sekolah kedokteran gigi lokal. Di wilayah Pasifik, tantangan ditambah dengan faktor budaya mengunyah biji pinang dan racikan sirih tembakau sejak usia balita yang memicu tingginya kasus kanker mulut.

 Sengatan untuk Dokter Gigi Masa Depan

Sebelum menutup sesinya, Dr. Harada memberikan refleksi menohok bagi para mahasiswa. Ia mengkritik tren global di mana mayoritas lulusan kedokteran gigi berbondong-bondong mengambil spesialisasi estetika, implan, atau ortodonsi demi mengejar gengsi dan nilai komersial.

WHO mengetuk kesadaran generasi muda untuk berani mengambil jalur kesehatan masyarakat (public health). Bumi dan populasi dunia saat ini tidak sedang kekurangan dokter gigi kosmetik, melainkan sangat kekurangan pemikir makro yang mau bergerak di lapangan untuk memastikan setiap lapisan masyarakat bisa tersenyum sehat tanpa terkendala biaya.

Reporter : Nanda , Andri

Foto : Tangkapan Layar Zoom Meeting

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
21 Juli 2026

FKG UGM Usung Konsep Green Dentistry pada Summer Course 2026

21 Juli 2026

Ketika Karier Mandek, Siapa yang Bertanggung Jawab?

21 Juli 2026

Nanokitosan Lawan Bakteri Tersembunyi di Balik Kawat Gigi

id_ID