News

/

Artikel, Latest News

Tulang Rahang Perempuan Menopause Bicara Lewat Gambar: CBCT dan Penanda Resorpsi Tulang

Satu dari tiga perempuan akan menghabiskan sepertiga hidupnya dalam kondisi menopause. Bukan sekadar soal hormon yang berubah, tapi juga soal tulang yang diam-diam melemah, rapuh, dan berisiko patah. Pertanyaannya: bisakah kita mendeteksi perubahan itu lebih awal, sebelum kerusakan terjadi?

drg. Silviana Farrah Diba, Sp. RKG. Subsp. RP (K), dari Departemen Radiologi Dentomaxillofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, mencoba menjawab pertanyaan itu dari sudut yang tidak biasa: melalui citra CBCT (Cone Beam Computed Tomography) rahang bawah. Bersama tim dari Universitas Padjadjaran, ia meneliti apakah gambaran mikrostruktur trabekula tulang mandibula pada perempuan menopause bisa mencerminkan kadar Beta-CrossLaps (β-CTx), sebuah penanda biokimia resorpsi tulang yang direkomendasikan oleh International Osteoporosis Foundation.

Hasilnya, yang dipublikasikan di Journal of International Dental and Medical Research pada 2020, membuka perspektif baru tentang peran radiografi gigi dalam deteksi dini osteoporosis.

Dari Darah ke Gambar: Mencari Korelasi yang Bermakna

β-CTx adalah fragmen kolagen tipe 1 yang dilepaskan ke aliran darah saat tulang mengalami resorpsi. Semakin tinggi kadarnya, semakin aktif proses penghancuran tulang berlangsung. Selama ini, pemeriksaan β-CTx dilakukan melalui laboratorium klinis dengan pengambilan darah setelah puasa 12 jam, menggunakan metode Electrochemiluminescence Immunoassay (ECLIA).

Di sisi lain, CBCT sudah lama digunakan di klinik gigi untuk keperluan diagnosis, perencanaan implan, hingga evaluasi rahang. Alat ini mampu menampilkan citra tiga dimensi dengan harga yang lebih terjangkau dibanding CT konvensional. Yang menarik, CBCT ternyata bisa dimanfaatkan untuk menganalisis parameter mikrostruktur trabekula tulang, sesuatu yang sebelumnya hanya bisa dilakukan dengan micro-CT atau HR-pQCT yang tidak praktis untuk pasien klinis.

Dalam penelitian ini, 17 perempuan menopause berusia 55 hingga 79 tahun menjalani pemeriksaan CBCT mandibula. Dari setiap radiograf, dipilih Region of Interest (ROI) berukuran 3 x 3 mm di area trabekula sekitar foramen mentale, menghasilkan total 34 ROI yang dianalisis menggunakan perangkat lunak BoneJ. Tiga parameter trabekula diukur: fraksi volume tulang (BV/TV), ketebalan trabekula (Tb.Th), dan jarak antar trabekula (Tb.Sp).

Jarak Antar Trabekula, Penanda yang Paling Bicara

Dari tiga parameter yang diteliti, hanya Tb.Sp yang menunjukkan korelasi signifikan dengan β-CTx.

“Tb.Sp adalah parameter mikrostruktur yang paling sensitif dalam mendeteksi resorpsi tulang atau adanya kehilangan tulang melalui CBCT pada perempuan menopause yang dihubungkan dengan β-CTx.”

Nilai korelasi positif yang ditemukan (r = 0,452, p < 0,05) berarti: semakin lebar jarak antar trabekula, semakin tinggi kadar β-CTx dalam darah. Secara biologis, ini masuk akal. Defisiensi estrogen pada perempuan pascamenopause memicu peningkatan resorpsi tulang, yang secara bertahap mengubah arsitektur trabekula dari bentuk lempeng menjadi batang tipis, lalu saling kehilangan konektivitas. Akibatnya, ruang antar trabekula melebar.

Sebaliknya, BV/TV dan Tb.Th tidak menunjukkan korelasi yang signifikan dengan β-CTx, meski arahnya logis: BV/TV berkorelasi negatif lemah (r = -0,252), artinya semakin tinggi β-CTx, persentase volume tulang cenderung menurun. Sementara Tb.Th justru berkorelasi positif lemah (r = 0,227), sebuah temuan yang dijelaskan oleh efek teknis: ukuran voxel CBCT yang relatif besar membuat trabekula tipis tidak terdeteksi dengan baik, sehingga pengukuran Tb.Th cenderung overestimasi akibat partial volume effect.

Potensi Besar, Dengan Catatan Penting

Temuan ini membuka peluang yang menarik: dokter gigi, yang sehari-hari bekerja dengan radiograf rahang, berpotensi menjadi garda terdepan dalam skrining awal kehilangan massa tulang pada perempuan menopause. Alat yang sudah ada di klinik gigi bisa dimanfaatkan lebih jauh, melampaui diagnosis gigi dan rahang semata.

Namun, penelitian ini juga datang dengan kehati-hatian. Jumlah sampel yang terbatas (hanya 17 subjek), ukuran ROI yang kecil, serta faktor nutrisi yang tidak dikendalikan menjadi keterbatasan yang diakui oleh tim peneliti. Ukuran voxel CBCT yang digunakan juga memengaruhi akurasi pengukuran Tb.Th dan Tb.Sp, sehingga hasil perlu diinterpretasikan dengan mempertimbangkan spesifikasi alat.

Meski demikian, arah penelitian ini jelas: integrasi antara pemeriksaan radiografi rutin di klinik gigi dengan penanda laboratorium klinis bisa menjadi pendekatan yang lebih holistik dan terjangkau dalam menilai kualitas tulang, terutama pada populasi perempuan lanjut usia yang angkanya terus bertambah.

Tulang memang tidak bersuara. Tapi lewat gambar yang tepat, ia bisa bercerita jauh lebih banyak dari yang kita duga.

Sumber DOI : https://doi.org/10.5281/zenodo.20719795

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
17 July 2026

Bibir yang Tak Bisa Menutup: Alat Sederhana di Balik Masalah Tumbuh Kembang Anak

17 July 2026

Tekanan Cairan Gigi Ternyata Bisa Memicu Regenerasi Dentin: Bukti dari Sel Punca Gigi Susu

17 July 2026

Sel Punca Tersembunyi di Kelenjar Ludah: Temuan Mengejutkan dari Eksperimen Ligasi

en_US