News

/

Artikel, Latest News

Telur Ayam Melawan Bakteri Mematikan: Harapan Baru dari Penelitian FKG UGM

Bayangkan sebutir telur ayam biasa menyimpan senjata biologis yang mampu melindungi sel imun manusia dari serangan racun bakteri paling bandel di dunia. Itulah inti temuan mengejutkan dari penelitian yang dipimpin Prof. drg. Heni Susilowati, M.Kes., Ph.D., PBO., Guru Besar Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada — sebuah studi yang membuka jalan baru melawan Pseudomonas aeruginosa, bakteri oportunistik yang sudah lama menjadi mimpi buruk dunia medis.

Racun Biru yang Membunuh Sel Imun

Pseudomonas aeruginosa bukan bakteri sembarangan. Ia hidup hampir di mana-mana, dari tanah hingga permukaan rumah sakit, dan dikenal sebagai salah satu penyebab utama infeksi nosokomial — infeksi yang justru diperoleh pasien selama menjalani perawatan di fasilitas kesehatan. Pada pasien cystic fibrosis, infeksi bakteri ini bisa berujung fatal karena sifatnya yang resistan terhadap banyak jenis antibiotik.

Yang membuat bakteri ini benar-benar berbahaya bukan hanya ketahanannya terhadap obat, melainkan juga senjata kimianya: pyocyanin (PCN). Pigmen biru kehijauan ini adalah metabolit sekunder yang dilepaskan P. aeruginosa sejak awal infeksi. PCN diketahui menekan fungsi sel B, sel T, dan makrofag — tiga komponen krusial sistem imun tubuh. Lebih jauh, PCN menginduksi kematian sel melalui aktivasi caspase 3, enzim yang bekerja seperti “tombol penghancur diri” di dalam sel.

Penelitian sebelumnya dari kelompok yang sama telah membuktikan bahwa PCN membunuh sel B manusia (Raji cells) lewat jalur caspase 3 tersebut. Pertanyaan yang kemudian menggantung: adakah cara untuk menghentikan proses kematian sel itu?

Dari Kandang Ayam ke Laboratorium

Jawaban datang dari arah yang tidak terduga — dari kuning telur ayam Leghorn.

Tim peneliti yang terdiri dari Prof. drg. Heni Susilowati, M.Kes., Ph.D., PBO. bersama Sidna Artanto, Heribertus Dedy Kusuma Yulianto, Wihaskoro Sosroseno, dan Suryani Hutomo merancang sebuah protokol imunisasi yang cermat. Lima ekor ayam Leghorn berusia tiga bulan disuntik dengan PCN yang dicampur adjuvan Freund lengkap, lalu diberikan dua kali booster dalam selang dua minggu. Satu minggu setelah imunisasi terakhir, telur-telur dikumpulkan dan IgY — imunoglobulin yang tersimpan di kuning telur ayam, setara dengan IgG pada mamalia — diekstraksi menggunakan kit purifikasi khusus.

Hasilnya? Kuning telur dari ayam yang diimunisasi mengandung IgY yang sangat spesifik terhadap PCN. Uji presipitasi gel agarosa (AGPT) menunjukkan terbentuknya garis presipitat yang jelas, sementara uji ELISA mengkonfirmasi konsentrasi IgY spesifik yang signifikan — batch pertama mencapai 8,95 μg/μl.

“Antigen-spesifik IgY antibodies were able to inhibit PCN-induced Raji cell death, suggesting that PCN-specific IgY antibodies may be protective against PCN-induced Raji cell death.” — Prof. drg. Heni Susilowati, M.Kes., Ph.D., PBO., dalam laporan penelitian F1000Research, 2019

Sel yang Selamat, Harapan yang Tumbuh

Pengujian dilakukan pada sel Raji — lini sel B manusia yang ditumbuhkan di laboratorium. Sel-sel ini dipapar PCN dalam berbagai konsentrasi, dan hasilnya konsisten: semakin tinggi dosis PCN, semakin banyak sel yang mati. Ketika IgY spesifik anti-PCN ditambahkan ke dalam campuran, gambarannya berubah drastis.

Pada konsentrasi IgY sebesar 28,19 μg/mL atau lebih, kemampuan PCN membunuh sel Raji terhambat secara bermakna secara statistik (p<0,05). Efek protektif ini bersifat dose-dependent — semakin tinggi dosis IgY, semakin besar perlindungan yang diberikan. Pengamatan mikroskopis menggunakan pewarnaan akridin oranye/etidium bromida memperkuat temuan ini secara visual: sel-sel yang terpapar campuran PCN-IgY tampak berwarna hijau cerah (hidup), jauh lebih banyak dibanding sel yang hanya terpapar PCN dan muncul berwarna oranye-merah (mati).

Mekanisme pastinya belum sepenuhnya terurai. Tim peneliti menduga bahwa kompleks PCN-IgY gagal mengaktivasi caspase 3 di dalam sel Raji, sehingga jalur kematian sel terhenti. Namun hipotesis ini masih memerlukan validasi lebih lanjut.

Lebih dari Sekadar Temuan Laboratorium

Penelitian yang didanai hibah Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia ini bukan hanya soal sel di cawan petri. Ia menyentuh persoalan yang jauh lebih luas: bagaimana menghadapi bakteri yang sudah kebal antibiotik?

P. aeruginosa juga ditemukan dalam pulpa gigi dan lesi periapikal, dan kehadirannya dikaitkan dengan kegagalan perawatan endodontik. Artinya, bakteri ini bukan asing dari dunia kedokteran gigi. Imunoterapi berbasis IgY — yang sebelumnya telah terbukti mencegah kolonisasi P. aeruginosa pada pasien cystic fibrosis melalui pemberian oral — kini memiliki satu lapisan bukti tambahan: ia juga bisa melindungi sel imun dari racun yang dilepaskan bakteri itu sendiri.

Bila temuan ini kelak berhasil diterjemahkan ke dalam terapi nyata, maka sebutir telur ayam yang tampak sederhana itu mungkin menyimpan lebih banyak jawaban daripada yang pernah kita bayangkan.

Sumber DOI : https://doi.org/10.12688/f1000research.19327.1

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
17 July 2026

Literasi Kesehatan Gigi Rendah, Gusi Pun Meradang: Temuan Peneliti FKG UGM pada Lansia Yogyakarta

17 July 2026

Filtrat Bawang Putih Ungguli Kalsium Hidroksida: Temuan dari Saluran Akar Gigi Susu

17 July 2026

Saat Komputer Belajar Membaca Rongga Mulut: Kecerdasan Buatan di Balik Kursi Gigi

en_US