Seorang remaja 13 tahun tiba di Unit Bedah Mulut RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo, Purwokerto, dengan rahang yang tak lagi utuh. Ia jatuh dari sepeda motor tanpa helm. Selain cedera otak sedang, CT scan tiga dimensi mengungkap sesuatu yang jarang ditemui pada anak-anak: fraktur komunitif simfisis mandibula, yakni patahan yang memecah tulang rahang menjadi lebih dari dua fragmen sekaligus, dengan pola segitiga basal di bagian bawah simfisis.
Kasus ini kemudian menjadi subjek laporan ilmiah yang diterbitkan dalam Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) edisi Maret 2025, dengan korespondensi utama oleh drg. Poerwati Soetji Rahajoe, Sp.BM., dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG Universitas Gadjah Mada. Pertanyaan klinisnya sederhana, tapi jawabannya tidak mudah: bagaimana memperbaiki rahang yang hancur pada anak yang masih tumbuh, tanpa meninggalkan bekas di wajah, dan tanpa mengorbankan perkembangan tulangnya di masa depan?
Rahang Anak Bukan Sekadar Versi Kecil Rahang Dewasa
Fraktur maksilofasial pada anak terbilang jarang, hanya 1 hingga 15 persen dari seluruh kasus fraktur wajah. Namun dari yang sedikit itu, 44,4 persen terjadi di mandibula. Yang membuat penanganannya rumit bukan sekadar ukuran tulang yang lebih kecil, melainkan karena tulang rahang anak masih aktif tumbuh. Ada benih gigi permanen yang bersembunyi di dalam tulang, ada pusat pertumbuhan yang sensitif, ada saraf mental yang berjalan berdekatan.
Fraktur komunitif, di mana tulang pecah menjadi serpihan-serpihan kecil di area yang sama, bahkan lebih langka lagi pada anak. Tulang anak relatif elastis, lapisan lemak wajahnya tebal, dan benih gigi bertindak seperti “lem biologis” yang menahan fragmen agar tidak terlalu bergeser. Tapi pada kasus ini, benturan cukup keras untuk merobohkan semua perlindungan alami itu.
Pemeriksaan intraoral menemukan hematoma sublingual (tanda Coleman), mobilitas segmen pada gigi 31, 32, dan 33, serta maloklusi gigitan terbuka anterior yang jelas. Pasien tidak bisa menggigit dengan benar. Di luar mulut, tampak edema dan hematoma di daerah submental kiri, tanpa luka terbuka di kulit wajah.
Pilihan yang Diperdebatkan, Keputusan yang Terukur
Penanganan fraktur mandibula pada anak masih menjadi perdebatan di kalangan ahli bedah mulut dan maksilofasial. Untuk fraktur tanpa pergeseran, pendekatan konservatif sudah cukup: diet lunak, fiksasi intermaksiler, atau bidai akrilik. Tapi bila ada pergeseran signifikan dan mobilitas fragmen, open reduction and internal fixation (ORIF) menjadi pilihan, meski tetap kontroversial karena dampak implan logam terhadap pertumbuhan rahang anak belum sepenuhnya dipahami.
Tim bedah memilih ORIF dengan pendekatan intraoral, yaitu sayatan dibuat di dalam mulut, di vestibulum labial anterior, sekitar 5 mm di bawah mucogingival junction. Flap mukoperiosteal diangkat untuk mengekspos garis-garis fraktur yang berliku di antara gigi 31, 41, 33, dan 34. Sebelum reduksi, pemasangan Erich arch bar dan fiksasi intermaksiler (IMF) dilakukan untuk memastikan oklusi tercapai lebih dahulu.
Rekonstruksi dilakukan dengan sistem plate locking 2,4 mm yang dipasang di tepi inferior mandibula menggunakan lima sekrup bikortikal, ditambah miniplate 2,0 mm tujuh lubang untuk menyederhanakan fragmen-fragmen kecil. Pendekatan ini memanfaatkan prinsip load-bearing osteosynthesis, di mana plate menanggung beban mekanik selama penyembuhan, bukan tulang yang masih rapuh.
“Pendekatan intraoral tidak menghasilkan jaringan parut pada wajah dan memiliki risiko cedera saraf wajah yang kecil. Selain itu, pendekatan ini memungkinkan visualisasi langsung terhadap konfirmasi oklusi selama penempatan plate.” — drg. Poerwati Soetji Rahajoe, Sp.BM., et al., Dental Journal, 2025
Dua Bulan Kemudian: Wajah Simetris, Gigitan Pulih
Dua hari pascaoperasi, foto rontgen Waters menunjukkan reduksi fragmen yang cukup akurat. Pasien dipulangkan dengan diet cair. Pada evaluasi tujuh hari, penyembuhan jaringan lunak berjalan baik, meski sempat ada masalah gigitan ringan yang diatasi dengan pemasangan traksi elastik selama dua minggu.
Pada minggu keempat, arch bar dilepas. Pemeriksaan panoramik tidak menemukan tanda infeksi atau nekrosis tulang. Dua bulan setelah operasi, wajah pasien tampak simetris, oklusi pulih ke kondisi pra-trauma, dan tidak ada keluhan nyeri atau mobilitas fragmen.
Yang menarik dari kasus ini adalah alasan mengapa pendekatan “orang dewasa” bisa diterapkan pada pasien berusia 13 tahun. Pada usia ini, gigi permanen di regio simfisis dan parasimfisis sudah erupsi sempurna, sehingga risiko cedera terhadap benih gigi tidak ada. Lebih dari itu, mandibula pada usia ini sudah hampir mencapai maturitas skeletal, dengan pertumbuhan tersisa yang minimal. Kematangan penuh mandibula baru tercapai di usia 14 hingga 16 tahun pada perempuan, dan 16 hingga 18 tahun pada laki-laki.
Meski demikian, paper ini menegaskan satu catatan penting: plate direncanakan dilepas tiga bulan pascaoperasi untuk mencegah gangguan pertumbuhan yang mungkin tersisa. Sayangnya, pasien tidak datang untuk kontrol lanjutan. Evaluasi jangka panjang, yang seharusnya menjadi penentu keberhasilan sesungguhnya, tidak dapat dilakukan.
Ketika Luka di Dalam Lebih Baik daripada Bekas di Luar
Laporan kasus ini menawarkan lebih dari sekadar teknik bedah. Ia menyentuh pertanyaan yang lebih mendasar dalam bedah anak: seberapa jauh kita boleh intervensi pada tubuh yang masih dalam proses menjadi dirinya sendiri?
Pada kasus ini, jawabannya terletak pada kombinasi antara penilaian klinis yang cermat dan pemilihan akses yang tepat. Pendekatan intraoral bukan hanya soal estetika, tidak ada bekas luka di pipi atau dagu. Ia juga memberi ahli bedah kontrol langsung atas posisi plate dan konfirmasi oklusi, dua hal yang krusial dalam rekonstruksi fraktur kompleks.
Kasus komunitif mandibula pada anak memang langka, dan literatur yang tersedia masih terbatas. Tapi setiap kasus yang terdokumentasi dengan baik menambah satu bata lagi pada fondasi konsensus yang masih terus dibangun. Rahang yang tumbuh punya cara sendiri untuk memaafkan trauma, asalkan tangan yang menanganinya cukup hati-hati untuk tidak meninggalkan beban baru.
Sumber DOI : 10.20473/j.djmkg.v58.i1.p81–87
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels