Seorang perempuan berusia 27 tahun datang ke RSGM Prof. Soedomo, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dengan keluhan yang sudah tiga bulan mengganjal. Gusi langit-langitnya bengkak, dan gigi depan kanan atasnya terasa tidak nyaman saat menggigit. Padahal, gigi itu sudah pernah dirawat saluran akarnya tiga tahun sebelumnya. Perawatan yang seharusnya menjadi solusi, rupanya menyimpan masalah yang belum selesai. Inilah yang mendorong Dr. drg. Yulita Kristanti, M.Kes. dan drg. Praditya Wisang, SpKG dari Departemen Konservasi Gigi FKG UGM untuk mendokumentasikan kasus ini dalam sebuah laporan ilmiah yang diterbitkan di Majalah Kedokteran Gigi Klinik (MKGK) UGM pada Desember 2016.
Perawatan saluran akar, dalam dunia kedokteran gigi, bertujuan menyelamatkan gigi yang sudah mati atau terinfeksi agar tidak perlu dicabut. Prosedurnya mencakup pembersihan, sterilisasi, dan pengisian saluran di dalam akar gigi. Masalah muncul ketika pengisian dilakukan terlalu jauh, melampaui ujung akar gigi, kondisi yang dikenal dengan istilah over filling.
Penelitian Hoen dan Frank yang dikutip dalam laporan ini menyebutkan bahwa meski over filling hanya menyumbang 3% dari total kegagalan perawatan saluran akar, dampaknya tidak bisa dianggap ringan. Material pengisi yang keluar dari ujung akar akan dianggap benda asing oleh tubuh. Sistem pertahanan tubuh pun bereaksi: terjadi peradangan, kerusakan jaringan di sekitar ujung akar, bahkan resorpsi atau pengikisan akar gigi itu sendiri.
Pada kasus pasien ini, foto rontgen menunjukkan pengisian yang berlebih sekitar 2 mm di luar ujung akar gigi seri tengah kanan atas (gigi 11). Di sekitar ujung akar, tampak area gelap berbentuk bulat yang berbatas jelas, tanda khas lesi periapikal, yaitu kerusakan jaringan tulang di ujung akar akibat infeksi atau peradangan yang berkepanjangan. Resorpsi akar eksternal pun sudah terjadi di sana.
Karena kondisi sudah tidak memungkinkan untuk sekadar mengulang perawatan saluran akar, tim dokter memutuskan untuk melakukan apikoektomi, sebuah prosedur bedah minor yang bertujuan memotong ujung akar gigi, membersihkan jaringan yang rusak, lalu menutup kembali ujung akar dari luar.
Prosedur dimulai dengan anestesi lokal, lalu dibuat sayatan berbentuk semilunar pada gusi di sisi bibir gigi tersebut. Tulang alveolar, yaitu tulang yang menopang gigi, dibuka perlahan menggunakan bur khusus hingga ujung akar terlihat. Jaringan granulasi, yaitu jaringan peradangan yang tumbuh di sekitar ujung akar, dikuret hingga bersih. Ujung akar kemudian dipotong sekitar 3 mm dengan sudut 45 derajat ke arah bibir agar dokter bisa melihat dan bekerja dengan baik.
Setelah pemotongan, ujung akar yang baru diisi menggunakan Mineral Trioxide Aggregate (MTA), material biokompatibel yang dikenal mampu merangsang pembentukan jaringan keras baru di sekitar ujung akar. Rongga bekas kuretase kemudian diisi bone graft untuk memicu pertumbuhan tulang baru, ditutup membran pelindung, lalu jahitan diterapkan dan daerah operasi ditutup dengan periodontal pack.
“Apikoektomi merupakan pilihan pertama untuk menangani keluhan nyeri yang diakibatkan oleh over filling pada gigi yang telah dilakukan perawatan saluran akar dan disertai adanya resorpsi akar eksternal.” Dr. drg. Yulita Kristanti, M.Kes. dan drg. Praditya Wisang, SpKG
Tujuh hari setelah operasi, pasien kembali kontrol. Kabar baiknya, bengkak di langit-langit sudah menghilang, rasa nyeri saat perkusi dan palpasi sudah tidak ada, dan luka operasi tampak menutup dengan baik tanpa tanda-tanda infeksi.
Tiga bulan kemudian, foto rontgen menunjukkan lesi periapikal sudah mengecil dibanding sebelum tindakan. Enam bulan pasca operasi, kondisi semakin membaik. Tidak ada keluhan subjektif maupun objektif. Lesi terus mengecil. Apikoektomi dinyatakan berhasil.
Tahap terakhir adalah restorasi permanen: saluran akar dibersihkan, lalu dipasang pasak fiber prefabrikasi dan ditutup dengan restorasi resin komposit pada mahkota gigi bagian palatal. Gigi yang sempat bermasalah selama bertahun-tahun itu pun kembali berfungsi normal.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa kegagalan perawatan gigi tidak selalu berarti gigi harus dicabut. Dengan diagnosis yang tepat dan pilihan prosedur yang sesuai, bahkan gigi yang sudah lama bermasalah masih bisa dipertahankan. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah satu langkah lebih jauh dari perawatan biasa.
Penulis : drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes., Annisa Dwi Noviyanti
Foto : FreePik