News

/

Artikel, Latest News

Serbuk Tulang yang Mempercepat Pulih: Bukti dari Rahang Kelinci

Tiga hari setelah pencabutan gigi, sesuatu yang tak kasat mata mulai terjadi di dalam luka. Serat-serat kolagen — protein struktural paling melimpah di tubuh makhluk hidup — mulai merajut diri membentuk jalinan baru. Namun kecepatan rajutan itu, ternyata, bergantung pada apa yang diisikan ke dalam rongga bekas gigi yang dicabut.

Itulah inti temuan penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. drg. Regina TC. Tandelilin, M.Sc., PBO, dari Departemen Biologi Oral, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. Dalam studinya yang dipublikasikan di The Indonesian Journal of Dental Research, ia membuktikan bahwa augmentasi menggunakan serbuk Demineralized Bone Matrix (DBM) — cangkok tulang yang telah dimineralisasi dan dikeringkan — secara signifikan meningkatkan kepadatan serat kolagen gingiva pada rahang bawah kelinci pascacabut gigi.

Ketika Luka Butuh Lebih dari Sekadar Waktu

Pencabutan gigi bukan prosedur sederhana tanpa konsekuensi. Di balik tindakan yang tampak rutin itu, tulang alveolus — tulang penyangga gigi — berpotensi mengalami kerusakan. Mercier, salah satu otoritas dalam bedah gigi, mencatat bahwa abnormalitas tulang akibat pencabutan gigi adalah kasus yang paling sering ditemui dalam praktik bedah dental.

Untuk mencegah kerusakan berlanjut, salah satu pendekatan yang digunakan adalah augmentasi: mengisi rongga bekas cabut gigi dengan material cangkok tulang guna merangsang pertumbuhan tulang baru. DBM hadir sebagai pilihan yang menarik karena sifatnya yang relatif aman — reaksi imunogeniknya rendah, dapat disimpan pada suhu ruang, dan terbukti mampu menginduksi pembentukan tulang. Material ini mengandung protein bioaktif penting: bone morphogenetic protein (BMP), platelet-derived growth factor (PDGF), dan transforming growth factor-beta (TGF-β).

Namun pertanyaan yang dijawab oleh Prof. Regina bukan sekadar soal tulang. Ia menyasar jaringan lunak di atasnya: gingiva, atau gusi. Seberapa cepat serat kolagen di sana terbentuk? Dan apakah DBM turut memengaruhinya?

Tiga Puluh Enam Kelinci, Empat Belas Hari Pengamatan

Untuk menjawab pertanyaan itu, penelitian ini menggunakan 36 ekor kelinci jantan berusia 2,5 hingga 3 bulan dengan bobot 900–1.100 gram. Mereka dibagi menjadi dua kelompok: kelompok perlakuan yang setelah pencabutan gigi insisivus mandibulanya diaugmentasi dengan serbuk DBM berukuran 370–710 μm, dan kelompok kontrol yang menjalani prosedur serupa tanpa augmentasi DBM.

Gingiva kemudian dijahit dengan benang non-absorbable. Kelinci dikorbankan secara bertahap pada hari ke-1, 3, 5, 7, 10, dan 14 pascaoperasi. Jaringan gingiva selebar 0,5–1 cm² diambil dari area pencabutan, difiksasi dalam paraformaldehida 10%, lalu diwarnai dengan metode Van Geison — teknik pewarnaan histologis yang membuat serat kolagen tampak sebagai pita merah muda di bawah mikroskop cahaya.

Kepadatan kolagen dinilai dengan sistem grading: grade 1 untuk kepadatan tipis, grade 2 sedang, dan grade 3 tebal. Perbandingan statistik antara kedua kelompok menggunakan uji Mann-Whitney.

Hasilnya bicara sendiri. Pada hari ke-3, kelompok DBM sudah menunjukkan kepadatan rata-rata 2,06, sementara kontrol hanya 1,56. Pada hari ke-14, kelompok DBM mencapai skor sempurna: 3,00 dengan standar deviasi nol — artinya seluruh spesimen seragam dalam kepadatan kolagen tertinggi. Kelompok kontrol hanya mencapai 2,43.

“DBM allograft memiliki kemampuan untuk mempercepat rekonstruksi gingiva melalui stimulasi biosintesis serat kolagen dan re-epitelisasi.” — Prof. Dr. drg. Regina TC. Tandelilin, M.Sc., PBO

Mekanisme di Balik Percepatan

Perbedaan ini bukan kebetulan. Secara klinis, pada hari ke-3 pascacabut, kelompok DBM sudah memperlihatkan jaringan granulasi yang tampak sebagai jaringan merah muda — tanda proliferasi sel yang sehat. Kelompok kontrol pada hari yang sama masih didominasi jaringan nekrotik.

Pada hari ke-7, luka kelompok DBM sudah tertutup sempurna oleh jaringan granulasi. Fibrin tidak lagi terlihat, dan warna jaringan sudah menyatu dengan gingiva sekitarnya. Kelompok kontrol baru mencapai kondisi serupa pada hari ke-10 hingga 14.

Di tingkat seluler, mekanismenya melibatkan kerja sama antara faktor pertumbuhan dalam DBM dan sel-sel resipien. PDGF bekerja merangsang kemotaksis fibroblas, neutrofil, dan makrofag, sekaligus mengaktifkan produksi fibronektin dan asam hialuronat. TGF-β, di sisi lain, mendorong deposisi kolagen dan angiogenesis selama fase proliferasi, lalu beralih fungsi mengendalikan komponen ECM berlebih saat fase maturasi.

Satu detail yang menarik: puncak pembentukan serat kolagen pada kelompok DBM terjadi di antara hari ke-5 dan ke-7 — temuan yang selaras dengan laporan Fonseca dan Walker tentang puncak pembentukan serat kolagen pascaluka.

Dari Rahang Kelinci ke Kursi Gigi

Secara statistik, perbedaan kepadatan kolagen antara kedua kelompok signifikan pada semua hari pengamatan kecuali hari pertama. Pada hari pertama, kolagen yang terukur adalah kolagen yang sudah ada sebelumnya, sehingga belum mencerminkan respons terhadap augmentasi.

Temuan ini memperkuat posisi DBM sebagai material augmentasi yang tidak hanya relevan untuk rekonstruksi tulang, tetapi juga berperan aktif dalam penyembuhan jaringan lunak di atasnya. Dalam praktik klinis, ini berarti potensi pemulihan pasca-pencabutan yang lebih cepat dan lebih terorganisir — sesuatu yang sangat bermakna bagi pasien yang membutuhkan rehabilitasi prostetik atau implan gigi setelah pencabutan.

Pertanyaan berikutnya, tentu saja, adalah seberapa jauh temuan dari rahang kelinci ini bisa diterjemahkan ke dalam praktik pada manusia. Jawabannya belum sepenuhnya tersedia. Tapi serbuk putih yang diisikan ke dalam rongga luka itu sudah membuktikan satu hal: penyembuhan bukan hanya soal menunggu. Ia bisa dipandu.

Sumber DOI : https://doi.org/10.22146/theindjdentres.10174

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
17 July 2026

Literasi Kesehatan Gigi Rendah, Gusi Pun Meradang: Temuan Peneliti FKG UGM pada Lansia Yogyakarta

17 July 2026

Filtrat Bawang Putih Ungguli Kalsium Hidroksida: Temuan dari Saluran Akar Gigi Susu

17 July 2026

Saat Komputer Belajar Membaca Rongga Mulut: Kecerdasan Buatan di Balik Kursi Gigi

en_US