News

/

Artikel, Latest News, SDG 10, SDG 16, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Sepuluh Tahun Diam: Kisah Kista Langka di Dasar Mulut Seorang Remaja

Bocah delapan tahun itu merasakan ada yang aneh di dasar mulutnya. Benjolan kecil, tidak nyeri, tidak mengganggu. Ia diam. Keluarganya pun tidak tahu. Tahun demi tahun berlalu, dan benjolan itu tumbuh dalam keheningan — sampai akhirnya, satu dekade kemudian, seorang remaja delapan belas tahun datang ke rumah sakit daerah di Indonesia dengan wajah yang sudah berubah, napas yang sesak, dan cerita tentang perundungan yang tak kunjung berhenti.

Inilah titik awal dari laporan kasus yang dipublikasikan oleh drg. Bramasto Purbo Sejati, Sp.BMM bersama tim dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada di jurnal International Journal of Surgery Case Reports pada Mei 2024. Kasus ini bukan sekadar catatan medis — ia adalah pengingat tentang betapa sebuah lesi jinak yang diabaikan bisa mengubah kualitas hidup seseorang secara dramatis.

Ketika Dasar Mulut Menyimpan Rahasia Selama Satu Dekade

Kista epidermoid adalah jenis kista langka yang terbentuk dari jaringan ektodermal dan dilapisi epitel skuamosa berlapis — mirip kulit, tapi tanpa struktur adneksa seperti folikel rambut atau kelenjar keringat. Secara global, hanya tujuh persen dari seluruh kista epidermoid ditemukan di kepala dan leher, dan hanya 1,6 persen muncul di dalam rongga mulut. Di dasar mulut, angkanya lebih kecil lagi: kista jenis ini hanya menyumbang 0,4 persen dari seluruh lesi kistik di area tersebut.

Pasien dalam laporan ini adalah remaja laki-laki suku Jawa berusia delapan belas tahun. Saat diperiksa, massa sublingual berukuran hampir enam sentimeter dalam lingkar sudah memenuhi lantai mulutnya — lunak, tidak bisa digerakkan, dan berwarna serupa dengan jaringan sekitarnya. Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan lesi isoechoic berbatas tegas tanpa vaskularisasi yang menonjol. Foto polos lateral serviks memperlihatkan massa radiopak yang mempersempit saluran napas. Pemindaian MSCT dengan kontras mengkonfirmasi lesi hipodens berukuran 57,99 × 55,33 × 41,41 milimeter di midline rongga mulut.

Selama dua tahun terakhir sebelum datang ke rumah sakit, pasien mulai kesulitan menelan. Setahun kemudian, napasnya pun terganggu. Ia juga mengalami gangguan bicara. Yang tidak kalah berat: teman-temannya mengolok-olok penampilannya, meninggalkan luka psikologis yang, menurut laporan, turut mendorong pasien dan keluarganya akhirnya mencari pertolongan medis.

Pisau Bedah yang Datang Terlambat, tapi Tepat Sasaran

Tim bedah yang dipimpin drg. Bramasto Purbo Sejati, Sp.BMM memutuskan pendekatan intraoral — bukan ekstraoral — dengan pertimbangan bahwa lesi tidak menembus fasia submandibula dan tidak meninggalkan bekas pada kulit. Pilihan ini juga mempertimbangkan aspek estetika pasien yang masih remaja.

Operasi dilakukan di bawah anestesi umum. Insisi horizontal sepanjang enam sentimeter dibuat dua sentimeter di bawah caruncula sublingualis, diikuti diseksi tumpul menggunakan Kelly curved artery clamp untuk memisahkan mukosa sublingual dari kapsul kista. Tantangan terbesar muncul saat kapsul melekat kuat pada otot geniohioid — tim akhirnya memilih untuk mengosongkan isi kista terlebih dahulu sebelum melanjutkan diseksi kapsul.

Isi kista yang keluar adalah cairan pasta kuning-putih menyerupai keju — gambaran klasik epidermoid cyst yang dipenuhi keratin. Setelah rongga dibersihkan, area operasi diirigasi dengan larutan NaCl 0,9 persen dan dipasang drain kasa sepanjang 60 sentimeter.

Pemeriksaan histopatologi kemudian mengkonfirmasi diagnosis: jaringan ikat dengan ruang yang dilapisi epitel skuamosa kompleks monomorfs, dengan lumen berisi massa keratin eosinofilik. Tidak ada sel ganas. Tidak ada transformasi maligna.

“Sublingual epidermoid cysts may enlarge to a size that interferes with breathing, swallowing, speaking, and bullying.”

— drg. Bramasto Purbo Sejati, Sp.BMM et al., International Journal of Surgery Case Reports, 2024

Pemulihan yang Menjawab Satu Dekade Diam

Lima hari pascaoperasi, jaringan sublingual pasien tampak intak tanpa tanda infeksi. Tujuh hari kemudian, jahitan dilepas. Empat belas hari setelah operasi, jaringan sudah menyatu sempurna.

Yang paling berarti bagi pasien bukan hanya napasnya yang kembali lega atau kemampuannya menelan yang pulih. Dalam catatan evaluasi pascaoperasi, tim mencatat satu kalimat sederhana dari sang pasien: teman-temannya tidak lagi mengejeknya.

Laporan ini juga menyoroti satu fakta yang perlu mendapat perhatian lebih luas: meskipun kista epidermoid adalah lesi jinak, sekitar satu persen kasus dapat mengalami transformasi maligna menjadi karsinoma sel skuamosa atau karsinoma sel basal. Studi terbaru bahkan menyebut angka 70 persen dari transformasi maligna itu berupa squamous cell carcinoma. Artinya, membiarkan lesi ini tanpa penanganan bukan pilihan yang aman — hanya pilihan yang terasa mudah untuk sementara waktu.

Peran Edukasi yang Tak Bisa Diabaikan

Kasus ini memperlihatkan celah yang nyata: seorang anak merasakan kelainan di mulutnya sejak usia delapan tahun, tapi tidak mendapat penanganan selama satu dekade. Penyebabnya bisa bermacam-macam — minimnya pengetahuan, tidak ada gejala nyeri di awal, atau ketidaktahuan tentang kapan harus ke dokter gigi.

drg. Bramasto Purbo Sejati, Sp.BMM dan tim menegaskan dalam simpulan mereka bahwa deteksi dini lesi dasar mulut adalah kunci. Pemeriksaan penunjang seperti ultrasonografi, biopsi aspirasi jarum halus, dan MSCT scan memiliki peran penting dalam menegakkan diagnosis yang tepat sebelum lesi berkembang menjadi ancaman serius. Pendekatan bedah intraoral terbukti feasibel bahkan untuk kista berukuran besar, dan hasilnya secara estetika memuaskan.

Sepuluh tahun adalah waktu yang panjang untuk diam. Laporan ini, yang kini tersimpan dalam jurnal bedah internasional, berharap tidak ada pasien lain yang harus menunggu selama itu.

Sumber DOI : https://doi.org/10.1016/j.ijscr.2024.109729

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Freepik

Tags

Share News

Related News
13 July 2026

MTA Unggul: Bukti Histologis dari Dalam Tulang Rahang Kelinci

13 July 2026

Bakteri Perusak Tambalan Gigi: Penelitian Dedy Yulianto Ungkap Musuh Tersembunyi di Mulut

13 July 2026

Boba-dan-Bakteri-Ketika-Gelembung-Tapioka-Melawan-Streptococcus-mutans

en_US