Setiap pagi, mereka berdiri di bawah atap kanopi, menggenggam selang pompa bahan bakar, menghirup udara yang sudah bercampur uap bensin sejak jam pertama shift. Bagi pekerja stasiun pengisi bahan bakar umum (SPBU), rutinitas itu terasa biasa. Tapi di dalam rongga mulut mereka, ada sesuatu yang jauh dari biasa.
Penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Teknosains Universitas Gadjah Mada mengungkap temuan yang mengusik: sel-sel epitel mukosa bukal pekerja SPBU di Kota Yogyakarta mengalami kerusakan sitogenetik yang secara statistik jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Bukan sekadar angka di atas kertas, ini adalah sinyal awal bahwa paparan kronis terhadap bensin dan turunannya sedang meninggalkan jejak nyata di tingkat seluler.
Mulut sebagai Gerbang, Sel sebagai Saksi
Penelitian yang dipimpin oleh Prof. Dr. drg. Regina TC. Tandelilin, M.Sc., PBO dari Departemen Biologi Oral FKG UGM ini melibatkan 60 responden: 30 pekerja SPBU dan 30 orang dari kelompok kontrol. Sampel diambil dari sel epitel mukosa bukal menggunakan cytobrush, alat usap non-invasif yang sederhana namun informatif. Sel-sel itu kemudian diwarnai dengan teknik Papanicolaou dan diamati di bawah mikroskop cahaya.
Yang diamati adalah tiga jenis kerusakan nukleus: piknosis (inti sel mengecil dan mengeras menjadi massa padat), karioreksis (inti terfragmentasi), dan kariolisis (inti larut hingga tampak seperti bayangan). Ketiganya merupakan biomarker kerusakan sitogenetik yang telah diakui secara ilmiah sebagai penanda kematian sel akibat paparan agen genotoksik.
Hasilnya berbicara tegas. Frekuensi sel yang mengalami piknosis pada pekerja SPBU mencapai rerata 21,8, sementara kelompok kontrol hanya 14,4. Untuk karioreksis, angkanya 21,5 berbanding 16,0. Perbedaan ini signifikan secara statistik (P<0,05). Hanya kariolisis yang tidak menunjukkan perbedaan bermakna antar kelompok.
Benzena, Senyawa Kecil dengan Dampak Besar
Bensin bukan cairan tunggal. Ia adalah campuran kompleks yang mengandung komponen aromatik seperti benzena, toluena, dan xilena. Benzena secara khusus telah diklasifikasikan oleh International Agency for Research on Cancer (IARC) sebagai senyawa karsinogenik bagi manusia.
Pekerja SPBU terpapar senyawa ini terutama melalui inhalasi uap volatil yang muncul setiap kali bahan bakar dipompa. Mereka rata-rata bekerja 47,1 jam per minggu, dan pengambilan sampel dilakukan pada akhir shift, saat akumulasi paparan harian berada di puncaknya.
“Paparan berulang terhadap agen sitotoksik dapat mengakibatkan trauma kronis pada sel, proliferasi sel yang terkompensasi, hingga berakhir pada kanker.”
Inhalasi uap bensin membuat rongga mulut menjadi titik kontak pertama. Mukosa bukal, yang tidak berkeratin dan sangat permeabel, menyerap zat kimia lebih cepat dibandingkan jaringan mulut lainnya seperti palatum atau gingiva. Zat yang terserap pun dapat langsung masuk ke sirkulasi sistemik, melewati jalur metabolisme hati.
Temuan menarik lain dalam penelitian ini: lama bekerja berkorelasi positif dan signifikan dengan peningkatan piknosis dan karioreksis. Semakin panjang jam kerja per minggu, semakin tinggi frekuensi sel yang rusak. Faktor-faktor lain seperti usia, jenis kelamin, dan kebiasaan merokok tidak menunjukkan keterkaitan signifikan dengan kerusakan sitogenetik dalam studi ini.
Deteksi Dini dari Tempat yang Tidak Terduga
Yang membuat penelitian ini penting bukan hanya temuannya, melainkan pendekatannya. Analisis sitogenetik pada sel epitel bukal adalah metode non-invasif, murah, dan relatif mudah dilakukan. Tidak perlu pengambilan darah, tidak perlu prosedur invasif. Cukup usapan singkat di pipi bagian dalam.
Metode ini membuka peluang untuk pemantauan rutin kesehatan pekerja yang terpapar bahan kimia berbahaya di lingkungan kerja, termasuk di SPBU yang tersebar luas di seluruh Indonesia. Penelitian ini juga mencatat bahwa penggunaan masker terbukti berkaitan dengan penurunan paparan benzena pada pekerja, sebuah intervensi sederhana yang dampaknya bisa sangat berarti.
Penelitian ini menegaskan perlunya kajian lanjutan yang lebih mendalam, termasuk data dosis paparan, status nutrisi, dan fungsi imun pekerja, untuk memahami mekanisme lengkap di balik kerusakan yang teramati. Tapi satu hal sudah jelas: sel-sel kecil di dalam mulut para pekerja itu sudah lama mencatat apa yang terjadi setiap hari di bawah atap SPBU. Pertanyaannya adalah, kapan kita mulai benar-benar mendengarkan.
Sumber DOI : https://doi.org/10.22146/teknosains.43852
Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels