News

/

Artikel, Latest News

Riset Biomaterial FKG UGM Temukan Cara Baru Percepat Pemulihan Luka Jaringan Gusi

Dosen sekaligus peneliti dari Departemen Ilmu Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM), drg. Margareta Rinastiti, M.Kes., Sp.KG(K)., Ph.D., berhasil memformulasikan inovasi medis baru dalam mempercepat penyembuhan luka pasca-operasi gusi. Melalui riset mendalam, ia menemukan bahwa transplantasi membran amnion manusia atau lapisan tipis dari selaput ketuban bayi mampu memicu regenerasi jaringan gusi (gingiva) secara signifikan, jauh lebih cepat dibandingkan proses penyembuhan alami tanpa penutup luka.

Temuan berharga ini tidak hanya menjadi angin segar bagi dunia kedokteran gigi, tetapi juga telah sukses mempublikasikan kontribusinya di tingkat global lewat jurnal internasional bereputasi, International Journal of Oral and Maxillofacial Surgery. Eksperimen ini membuka peluang besar bagi pemanfaatan selaput ketuban yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah medis pasca-persalinan, untuk diubah menjadi “plester biologis” masa depan yang mempermudah pemulihan pasien bedah mulut.

Secara klinis, luka pada jaringan gusi setelah prosedur bedah periodontal atau rekonstruksi jaringan lunak sering kali menjadi tantangan tersendiri. Agar luka dapat menutup sempurna, tubuh manusia membutuhkan peran dari sel bernama fibroblas. Sel ini bertindak sebagai unit pembangun yang bertugas memproduksi kolagen dan protein khusus guna menambal serta memperbaiki jaringan yang rusak. Pada kondisi normal, fibroblas di dalam mulut merupakan sel yang cenderung pasif. Begitu terjadi luka, sel ini baru akan terbangun, bermigrasi, dan membelah diri pada hari ke-4 atau ke-5. Mengingat rongga mulut adalah lingkungan yang dinamis dan rentan terhadap gesekan makanan serta paparan bakteri, lambatnya pergerakan fibroblas ini sering kali membuat luka gusi terasa perih berhari-hari.

Di sinilah membran amnion hadir sebagai stimulus taktis. Lapisan terdalam selaput ketuban ini kaya akan growth factors atau zat pemacu pertumbuhan alami seperti bFGF, EGF, dan TGF-β. Rangkaian zat aktif tersebut bertindak sebagai sinyal molekuler kuat yang memaksa sel fibroblas untuk bergerak dan bekerja berkali-kali lipat lebih awal dari ritme biologis normalnya. Selain itu, membran ini juga mengandung senyawa laminin, sebuah substrat khusus yang memudahkan sel kulit gusi baru untuk menempel dan menutup area luka dengan lebih cepat.

Dalam membuktikan efektivitas inovasi ini, drg. Margareta melakukan eksperimen terkontrol menggunakan model hewan coba di laboratorium. Penelitian ini juga melibatkan sinergi lintas institusi dan lintas negara yang solid, melibatkan Departemen Patologi Anatomi FK UGM, Departemen Pedodontik FKG UGM, Bank Jaringan RSUD Dr. Soetomo/FK Universitas Airlangga Surabaya, hingga Departemen Biologi Oral dan Imunologi Universiti Sains Malaysia. Membran amnion yang telah melalui proses beku-kering (freeze-dried) diaplikasikan sebanyak lima lapis di atas luka gusi sampel, kemudian dijahit rapi agar posisinya stabil untuk kemudian dievaluasi perkembangannya dari hari ke-1 hingga hari ke-14.

Hasil pengamatan histologis di bawah mikroskop cahaya menunjukkan bahwa respons peradangan langsung terkendali sejak hari pertama. Hal ini dibuktikan dengan jumlah sel radang yang jauh lebih rendah, sehingga pembengkakan dan rasa nyeri bisa lebih teredam. Memasuki hari ketiga, pembuluh darah baru atau proses angiogenesis sudah mulai terbentuk untuk menyuplai nutrisi ke jaringan baru. Kecepatan ini mengungguli kelompok tanpa penutup luka yang pembuluh darah barunya baru muncul di hari kelima.

Titik puncak kesembuhan mulai terlihat jelas pada hari kesepuluh. Pada fase ini, jumlah sel fibroblas pada gusi yang diberi pelindung mencapai angka tertinggi, di mana serat kolagen yang terbentuk tidak hanya melimpah secara kuantitas, melainkan sudah padat dan tersusun sangat rapi atau matang. Fase pemulihan pun akhirnya selesai lebih awal pada hari keempat belas karena gusi dengan membran amnion sudah merampungkan tahap perapian jaringan. Kondisi ini berbanding terbalik dengan kelompok alami yang di hari keempat belas justru baru sibuk memproduksi fibroblas baru, mengindikasikan proses penyembuhan yang tertinggal jauh di belakang.

Selain kaya akan zat penumbuh, membran amnion manusia memiliki keunggulan istimewa lainnya berupa tingkat penolakan organ yang sangat rendah. Hal ini terjadi karena selaput ketuban mengekspresikan molekul imunoregulatori yang membuat tubuh penerima tidak mendeteksinya sebagai ancaman asing, sehingga sangat aman digunakan lintas individu.

Bagi masyarakat luas dan praktisi klinis, penelitian awal ini meletakkan fondasi ilmiah yang sangat penting. Luka gusi pasca-operasi mungkin terlihat minor, namun bagi pasien yang mengalaminya, setiap hari yang bisa dipangkas dari proses pemulihan agar bisa kembali makan, minum, dan berbicara dengan nyaman tentu sangatlah berarti. Berawal dari bangku studi magister di UGM, inovasi pemanfaatan membran fetal ini membuktikan bahwa riset berbasis biomaterial mampu memberikan solusi nyata demi mendukung kehidupan masyarakat yang sehat dan sejahtera.

Penulis : drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes., Annisa Dwi Noviyanti

Foto : FreePik

Tags

Share News

Related News
16 July 2026

Tambal Gigi Retak? Silica Coating Terbukti Jauh Lebih Efektif dari Perekat Biasa

16 July 2026

Scaffold Tulang dari Cahaya: Inovasi Material Berbasis Sinar UV untuk Regenerasi Tulang Periodontal

16 July 2026

Bibir Tak Bisa Menutup Rapat: Solusi Alat Mioungsional untuk Anak

en_US