Bayangkan seorang anak usia sebelas tahun yang tidur dengan mulut terbuka setiap malam, terbangun dengan tenggorokan kering, dan di sekolah sulit berkonsentrasi. Kondisi itu bukan sekadar kebiasaan buruk. Sebuah studi berbasis pencitraan tiga dimensi yang diterbitkan dalam Journal of Oral Biology and Craniofacial Research (2025) mengungkapkan bahwa pernapasan melalui mulut pada anak usia 10–12 tahun meninggalkan jejak struktural yang terukur: rahang atas yang lebih sempit dan saluran napas atas yang lebih kecil secara signifikan dibanding anak-anak yang bernapas normal lewat hidung.
Penelitian ini digagas oleh tim dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, dengan drg. Anrizandy Narwidina, MDSc, Sp.KGA, Ph.D sebagai peneliti utama dan korespondensi dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak. Bersama Rani Satiti dan drg. Hendri Susanto, tim ini menjawab pertanyaan yang selama ini belum terjawab di Indonesia: seberapa besar, tepatnya, kerusakan yang ditimbulkan oleh kebiasaan bernapas melalui mulut pada struktur kraniofasial anak?
Ketika Mulut Mengambil Alih Tugas Hidung
Pernapasan melalui mulut bukan anomali langka. Pada populasi perkotaan Indonesia, kondisi ini diperkirakan cukup umum, namun data berbasis pencitraan presisi tinggi untuk konteks lokal nyaris tidak ada. Studi ini mengisi kekosongan itu dengan merekrut 30 anak dari sekolah dasar di Kecamatan Kotagede, Yogyakarta, dibagi rata menjadi 15 anak dengan pola napas melalui mulut dan 15 anak dengan pola napas hidung sebagai kontrol.
Diagnosis pernapasan mulut tidak dilakukan sembarangan. Tim menggunakan pendekatan berlapis: Airway Index, Quinn’s Nasal Competency Test, Mallampati Classification, penilaian tonsil, Mirror Test, serta kuesioner tervalidasi yang diisi orang tua. Setelah terseleksi, setiap anak menjalani pemindaian Cone Beam Computed Tomography (CBCT), teknologi pencitraan tiga dimensi yang mampu merekam detail anatomi tulang dan ruang udara dengan akurasi tinggi.
Hasilnya berbicara keras. Semua parameter lebar lengkung rahang atas yang diukur, mulai dari lebar di regio molar hingga regio kaninus, lebih sempit secara bermakna pada kelompok pernapasan mulut. Penyempitan paling dramatis terlihat pada jarak interkaninus: anak-anak yang bernapas melalui mulut memiliki lebar rata-rata hanya 21,99 mm, dibanding 30,13 mm pada kelompok kontrol. Selisih itu setara dengan penyempitan 27 persen.
Ruang Napas yang Menghilang Diam-Diam
Temuan yang tak kalah mengejutkan datang dari pengukuran volume dan luas penampang saluran napas atas. Volume orofaring pada anak-anak pernapasan mulut hanya 24.342 mm³, sementara pada kelompok nasal breather mencapai 68.005 mm³. Artinya, ruang udara di bagian orofaring menyusut hingga 64 persen.
Luas penampang nasofaring juga berkurang hampir separuhnya: 100,92 mm² dibanding 194,06 mm² pada kelompok kontrol, atau penurunan 48 persen. Seluruh perbedaan ini signifikan secara statistik dengan nilai p di bawah 0,001.
“Pernapasan melalui mulut pada anak usia sekolah berkaitan dengan pengurangan terukur pada lebar lengkung rahang atas dan dimensi saluran napas faring atas.” — Rani Satiti, Hendri Susanto, Anrizandy Narwidina, Journal of Oral Biology and Craniofacial Research, 2025
Para peneliti menjelaskan mekanisme di balik temuan ini. Saat anak bernapas melalui hidung, lidah bertumpu di langit-langit mulut dan menciptakan tekanan lateral yang mendorong rahang atas berkembang ke samping. Ketika pola napas beralih ke mulut, kontak lidah dengan palatum menghilang. Tekanan pipi dari luar tidak lagi diimbangi, sehingga lengkung rahang terdorong menyempit ke dalam. Inilah yang disebut gangguan keseimbangan muskulatur orofasial.
CBCT Membuka Apa yang Mata Klinis Lewatkan
Salah satu kontribusi metodologis penting dari studi ini adalah demonstrasi keunggulan CBCT sebagai alat diagnosis. Rekonstruksi tiga dimensi memperlihatkan secara visual apa yang data numerik sudah tunjukkan: pada anak-anak pernapasan mulut, lengkung rahang terlihat lebih sempit, dan ruang udara nasofaring serta orofaring tampak mengecil dibanding rekan-rekan mereka yang bernapas lewat hidung.
Analisis oklusal dalam studi ini juga menemukan bahwa semua anak dengan pola napas hidung memiliki hubungan molar Kelas I yang normal, sementara kelompok pernapasan mulut menunjukkan variasi pola, termasuk maloklusi Kelas II Divisi 1. Ini memperkuat argumen bahwa pernapasan mulut bukan sekadar kebiasaan, melainkan faktor fungsional yang aktif membentuk, atau lebih tepatnya, mengubah bentuk wajah dan rahang anak selama masa pertumbuhan.
Para peneliti menegaskan bahwa usia 10–12 tahun adalah jendela kritis untuk intervensi interseptif. Pada fase ini, struktur kraniofasial masih sangat responsif terhadap stimulus fungsional. Penanganan yang tertunda berpotensi membawa konsekuensi jangka panjang: dari maloklusi permanen hingga gangguan tidur dan defisit neurokognitif akibat hipoksia intermiten.
Peringatan Dini yang Membutuhkan Respons Lintas Profesi
Studi ini memiliki keterbatasan yang diakui oleh penelitinya sendiri: desain potong lintang tidak memungkinkan inferensi kausal, sampel terbatas pada satu wilayah, dan potensi bias seleksi tidak sepenuhnya dapat dihindari. Studi longitudinal dan multisenter di masa depan diperlukan untuk memperkuat temuan ini.
Namun, pesan utamanya tidak menunggu konfirmasi lebih lanjut. Ketika seorang anak bernapas melalui mulut secara kronis, proses tumbuh kembang rahang dan saluran napasnya tidak berjalan sebagaimana mestinya. CBCT menawarkan cara untuk melihat ini sebelum kerusakannya menjadi permanen.
Penanganannya, seperti yang ditekankan tim peneliti, membutuhkan kolaborasi dokter gigi anak, dokter spesialis ortodonti, dokter THT, dan dokter anak. Bukan karena masalahnya rumit secara prosedural, melainkan karena tubuh anak tumbuh sebagai satu kesatuan, dan mulut yang terbuka setiap malam itu memengaruhi jauh lebih banyak hal dari yang terlihat.
Sumber DOI : https://doi.org/10.1016/j.jobcr.2025.07.009
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels