Dari kulit batang sebuah pohon yang tumbuh di Kebun Raya Bogor, para peneliti berhasil mengisolasi senyawa yang belum pernah tercatat dalam literatur ilmiah sebelumnya. Senyawa itu mereka namai pentandricine sebuah limonoid baru yang diekstrak dari Chisocheton pentandrus, tanaman anggota famili Meliaceae yang selama ini lebih dikenal sebagai sumber insektisida alami.
Penelitian ini melibatkan Prof. drg. Supriatno, M.Kes, MDSc, PhD dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, bersama tim lintas institusi dari Universitas Padjadjaran, Universiti Sains Malaysia, dan Yamagata University Jepang. Hasilnya diterbitkan dalam jurnal Natural Product Research pada 2018 dan membuka percakapan baru tentang potensi flora tropis Indonesia sebagai sumber senyawa antikanker.
Dari Hutan Tropis ke Meja Laboratorium
Chisocheton pentandrus bukan tanaman sembarangan. Genus Chisocheton tersebar luas di kawasan tropis Asia India, Thailand, Malaysia, dan Indonesia dan sudah lama menarik perhatian para kimiawan alam karena kandungan limonoidnya yang kaya. Limonoid sendiri adalah kelompok senyawa triterpenoid yang dikenal memiliki aktivitas biologis beragam: mulai dari insektisida, antijamur, hingga antikanker.
Tim peneliti mengumpulkan kulit batang C. pentandrus dari Kebun Raya Bogor pada Juni 2016. Sebanyak 1,8 kilogram bahan kering kemudian diekstrak secara bertahap menggunakan metanol, lalu difraksinasi dengan pelarut n-heksana, etil asetat, dan n-butanol. Proses kromatografi berlapis-lapis dilakukan untuk memisahkan senyawa-senyawa target dari campuran kompleks ekstrak tumbuhan.
Hasilnya: empat senyawa limonoid berhasil diisolasi. Satu di antaranya benar-benar baru pentandricine (senyawa 1), berupa padatan amorf tidak berwarna dengan formula molekul C₂₆H₃₂O₆. Tiga senyawa lainnya, yakni ceramicine B, 6-de(acetyloxy)-23-oxochisocheton, dan 6-de(acetyloxy)-23-oxo-7-O-deacetylchisocheton, sudah pernah dilaporkan sebelumnya dari spesies Chisocheton lain.
Membaca Struktur Molekul yang Belum Pernah Ada
Membuktikan bahwa sebuah senyawa benar-benar baru bukan pekerjaan mudah. Tim peneliti menggunakan serangkaian teknik spektroskopi canggih: HR-ESI-TOFMS untuk menentukan massa molekul presisi, NMR satu dan dua dimensi (termasuk HMBC, COSY, dan NOESY) untuk memetakan kerangka karbon dan posisi gugus fungsional, serta spektroskopi UV dan IR untuk mengidentifikasi gugus kromofor dan ikatan kimia spesifik.
Dari analisis tersebut, pentandricine terbukti memiliki enam cincin dalam strukturnya ciri khas limonoid. Yang membedakannya dari senyawa kerabatnya, ceramicine D, adalah kehadiran gugus hemiacetal di posisi C-23, terbentuk dari modifikasi gugus hidroksi baru. Detail konfigurasi relatif senyawa ini pun berhasil ditentukan melalui eksperimen NOESY, yang merekam korelasi spasial antar atom hidrogen dalam molekul.
Aktivitas Sitotoksik: Harapan yang Masih Perlu Diasah
Pertanyaan paling krusial dalam penelitian ini: apakah senyawa-senyawa tersebut mampu membunuh sel kanker?
Keempat senyawa diuji terhadap sel kanker payudara MCF-7 menggunakan metode MTT assay, dengan cisplatin sebagai kontrol positif (IC₅₀ 27,0 μM). Hasilnya menunjukkan aktivitas yang bervariasi namun secara umum masih dalam kategori lemah:
Senyawa 4 (6-de(acetyloxy)-23-oxo-7-O-deacetylchisocheton) mencatatkan nilai IC₅₀ terendah yakni 120,09 μM, diikuti senyawa 2 (150,86 μM), senyawa 3 (208,93 μM), dan pentandricine di angka 369,84 μM. Sebagai perbandingan, senyawa dikatakan memiliki sitotoksisitas kuat apabila IC₅₀-nya di bawah 20 μM.
“Kehadiran gugus asetil, gugus hidroksil dalam cincin lakton, dan cincin eter pada senyawa 4 tampaknya berkontribusi pada peningkatan aktivitas sitotoksik.”
Temuan ini memberi petunjuk penting tentang hubungan struktur-aktivitas: modifikasi gugus fungsional tertentu dalam kerangka limonoid bisa secara signifikan memengaruhi kemampuan senyawa dalam menghambat pertumbuhan sel kanker. Pentandricine sendiri, meski aktivitas langsungnya terhadap MCF-7 masih lemah, tetap bernilai sebagai titik referensi baru dalam peta kimia genus Chisocheton.
Satu Senyawa, Banyak Pertanyaan yang Menunggu
Penelitian ini didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi melalui hibah pascasarjana tahun 2016–2017. Kolaborasi internasional yang melibatkan Malaysia dan Jepang memperkuat kapasitas analisis, khususnya dalam konfirmasi struktur molekul kompleks.
Yang menarik dari studi ini bukan sekadar penemuan senyawa baru. Ini adalah bagian dari proyek panjang pencarian senyawa sitotoksik dari tanaman Chisocheton Indonesia sebuah genus yang keanekaragaman kimianya belum sepenuhnya terpetakan. Setiap spesies bisa menyimpan kombinasi molekul yang berbeda, dan setiap molekul baru seperti pentandricine menjadi batu loncatan untuk memahami logika evolusi kimia tumbuhan tropis.
Nilai IC₅₀ yang masih jauh dari ambang aktivitas kuat mungkin terlihat mengecewakan. Namun dalam dunia penemuan obat, senyawa dengan kerangka baru justru menjadi kanvas. Modifikasi kimiawi, uji pada lini sel kanker lain, atau kombinasi dengan senyawa lain semua itu masih terbuka lebar. Pohon yang tumbuh diam di sudut Kebun Raya Bogor itu, rupanya, belum selesai bercerita.
Sumber DOI : https://doi.org/10.1080/14786419.2018.1428600
Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Freepik