News

/

Artikel, Latest News, SDG 10, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Pemindai Digital Mengungguli Kamera: Temuan Mengejutkan dari Riset Model Gigi UGM

Selisihnya tidak kecil. Rata-rata kesalahan pengukuran metode fotografi pada model gigi mencapai 2,29 milimeter, sementara pemindai digital hanya menghasilkan deviasi 0,91 milimeter dari standar manual. Angka-angka itu mungkin terdengar kecil, tapi dalam dunia kedokteran gigi, perbedaan kurang dari satu milimeter bisa menentukan apakah sebuah mahkota gigi pas sempurna atau harus diulang dari awal.

Itulah temuan utama riset kolaboratif lintas departemen yang melibatkan tim peneliti dari Fakultas Teknik dan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. Studi ini diterbitkan di International Journal of Community Dentistry pada 2025, dan menempatkan tiga metode pengukuran model studi gigi dalam satu arena perbandingan: pengukuran manual dengan kaliper, penilaian fotografis, dan pemindaian digital intraoral.

Tiga Cara Mengukur, Satu Standar Kebenaran

Penelitian ini menggunakan 15 model studi gigi, terdiri dari tujuh model mandibula (rahang bawah) dan delapan model maksila (rahang atas). Setiap model diukur dengan tiga pendekatan berbeda.

Metode manual menjadi acuan: lembaran asetat transparan diletakkan di atas model, titik-titik anatomis ditandai, lalu jarak antartitiik diukur dengan vernier kaliper presisi. Sederhana, tapi dianggap paling mendekati kebenaran fisik.

Metode fotografi menempatkan kamera digital pada jarak tetap lima sentimeter tegak lurus terhadap permukaan oklusal model, dengan penggaris sebagai referensi kalibrasi. Titik-titik anatomis kemudian diidentifikasi dan diukur menggunakan perangkat lunak pencitraan.

Metode ketiga menggunakan Aoralscan 3 Wireless Intraoral Scanner buatan Shining 3D untuk menghasilkan model tiga dimensi digital, yang selanjutnya dianalisis dalam lingkungan perangkat lunak khusus.

Tim peneliti melibatkan drg. Pingky Krisna Arindra, Sp.B.M.M.Subsp.Ped.O.M.(K) dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG UGM, bersama kolega dari berbagai disiplin ilmu termasuk teknik industri, kedokteran gigi anak, prostodonsia, dan biomedika.

Angka yang Berbicara Sendiri

Hasil perbandingan cukup tegas. Rata-rata mean absolute error (MAE) pemindaian digital terhadap pengukuran manual adalah 0,91 mm, jauh di bawah metode fotografis yang mencatat 2,29 mm. Dalam ukuran mean relative error (MRE), pemindai digital menghasilkan kesalahan rata-rata 13 persen, dibanding 31 persen untuk metode foto.

“Intraoral scanning provides not only greater accuracy but also higher consistency in dental model measurements when benchmarked against photograph methods.”

Konsistensi juga menjadi pembeda. Standar deviasi kesalahan pada metode pemindaian digital lebih kecil dibanding fotografi di hampir semua model yang diuji, menandakan hasil yang lebih dapat diulang dan diandalkan.

Ada satu catatan menarik: akurasi pemindai ternyata lebih tinggi pada model maksila dibanding mandibula. Model mandibula secara konsisten menunjukkan MAE dan MRE yang lebih besar. Para peneliti menduga hal ini berkaitan dengan topologi permukaan rahang bawah yang lebih kompleks, yang dapat mempengaruhi kualitas pemindaian.

Mengapa Ini Penting bagi Klinik Gigi

Model studi gigi bukan sekadar replika. Ia adalah alat diagnosis, fondasi perencanaan perawatan, acuan desain prostesis, dan basis asesmen ortodontik. Ketika pengukuran pada model meleset, seluruh rantai perawatan bisa terdampak.

Selama ini, kesan umum mungkin bahwa fotografi digital sudah cukup sebagai alternatif praktis dari pengukuran manual. Riset ini mematahkan asumsi itu. Faktor resolusi gambar dan ketergantungan pada sudut pengambilan foto menjadi sumber inkonsistensi yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Pemindaian intraoral digital, meski tergolong teknologi yang relatif baru dalam praktik kedokteran gigi, menawarkan akurasi yang lebih dekat ke standar manual sekaligus kenyamanan prosedur yang lebih baik bagi pasien. Tidak ada material cetak yang berisiko distorsi, tidak ada waktu tunggu pengeras gips, dan representasi tiga dimensi tersedia dalam hitungan menit.

Riset ini didanai melalui Program Kedaireka Matching Fund, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.

Presisi Bukan Pilihan, Melainkan Keharusan

Dalam kedokteran gigi, toleransi kesalahan hampir tidak ada ruangnya. Mahkota yang terlalu longgar, jembatan yang tidak pas, atau analisis ortodontik yang meleset bermula dari pengukuran yang tidak akurat. Studi ini bukan hanya membandingkan alat, melainkan menegaskan bahwa pilihan metode pengukuran adalah keputusan klinis yang berdampak langsung pada kualitas perawatan.

Pertanyaan yang tersisa bukan lagi apakah pemindaian digital lebih baik dari fotografi. Pertanyaannya kini: seberapa cepat klinik-klinik gigi di Indonesia siap mengadopsinya, dan bagaimana mengatasi tantangan akurasi pada anatomi mandibula yang lebih rumit itu?

Sumber DOI : https://doi.org/10.56501/intjcommunitydent.v13i1.1280

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Freepik

Tags

Share News

Related News
14 July 2026

Cara Menyinar Resin Komposit Ternyata Menentukan Kuat Lemahnya Tambalan Gigi

14 July 2026

Instrumen Banyak File Terbukti Lebih Bersih Bersihkan Ujung Akar Gigi

14 July 2026

Dari Yogyakarta ke Chennai: Ilmuwan FKG UGM Bicara di Panggung Bioseramik Asia

en_US