News

/

Artikel, Latest News

Pare Melawan Radang: Buah Pahit yang Setara Ibuprofen dalam Mengatasi Periodontitis

Buah yang sering dihindari karena rasanya yang pahit itu ternyata menyimpan potensi yang tak kalah dari obat antiinflamasi konvensional. Dalam sebuah studi eksperimental yang dipublikasikan di Indonesian Dentistry Magazine pada April 2019, ekstrak etanol pare (Momordica charantia) terbukti mampu menekan peradangan pada jaringan gusi tikus yang diinduksi periodontitis, dengan efektivitas yang secara statistik sebanding dengan ibuprofen.

Penelitian ini melibatkan Prof. drg. Heni Susilowati, M.Kes., Ph.D., PBO, dari Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, bersama Tetiana Haniastuti dan Aryudhi Armis. Pertanyaan yang mereka ajukan sederhana namun berdampak luas: bisakah tanaman obat tradisional yang mudah ditemukan di pasar ini menjadi alternatif nyata bagi penderita periodontitis?

Ketika Gusi Meradang dan NF-κB Menjadi Musuh

Periodontitis bukan sekadar gusi bengkak. Penyakit infeksi kronis ini melibatkan kerusakan ligamen periodontal, sementum, hingga tulang alveolar, dan semuanya dipicu oleh respons imun tubuh terhadap bakteri periodontopatogen seperti Porphyromonas gingivalis and Aggregatibacter actinomycetemcomitans. Di balik proses kerusakan itu, ada satu “saklar” molekular yang berperan penting: Nuclear Factor-kappa B, atau NF-κB.

NF-κB adalah faktor transkripsi yang mengatur ekspresi sitokin-sitokin proinflamasi. Saat bakteri periodontopatogen melepaskan lipopolisakarida (LPS), NF-κB teraktivasi melalui jalur Toll-Like Receptor pada sel makrofag, dendritik, dan epitel mukosa. Hasilnya: kaskade inflamasi yang merusak jaringan penyangga gigi secara progresif.

Di sinilah pare masuk. Dua komponen bioaktif utama dalam buah ini, yaitu Charantoside C dan Momordicoside G, yang tergolong cucurbitane-type triterpene glycosides, diketahui mampu menghambat aktivasi NF-κB yang distimulasi oleh TNF-α. Penelitian sebelumnya pada sel HepG2 sudah menunjukkan hal ini. Yang belum diketahui adalah apakah mekanisme yang sama bekerja pada model periodontitis in vivo.

Delapan Puluh Tikus, Lima Kelompok, Satu Hipotesis

Tim peneliti menggunakan 80 tikus Wistar jantan yang dibagi ke dalam lima kelompok perlakuan. Periodontitis diinduksi dengan cara memasang ligatur silk ukuran 3.0 di sekitar insisivus mandibula selama 14 hari. Setelah tanda-tanda klinis periodontitis muncul, seperti kemerahan, edema, perdarahan, dan resesi gingiva, masing-masing kelompok mendapatkan perlakuan berbeda: ekstrak pare dosis 500, 250, dan 100 mg/kg berat badan; ibuprofen 100 mg/kg berat badan; serta akuades sebagai kontrol negatif.

Pemberian dilakukan secara oral tiga kali sehari menggunakan oral gavage. Tikus kemudian dikorbankan pada hari ke-1, ke-3, ke-5, dan ke-7 setelah perlakuan. Jaringan mandibula diproses untuk pembuatan preparat histologis, diwarnai dengan hematoxylin eosin (HE) untuk mengamati densitas infiltrat inflamasi, serta dianalisis secara imunohistokimia menggunakan antibodi monoklonal anti-NF-κB untuk menghitung sel yang mengalami aktivasi NF-κB.

Hasilnya cukup mengejutkan. Pada hari ke-7, seluruh kelompok yang mendapat ekstrak pare mengalami penurunan densitas infiltrat inflamasi yang signifikan secara statistik dibandingkan kelompok akuades. Namun, tidak ada perbedaan signifikan antara kelompok ekstrak pare dengan kelompok ibuprofen. Artinya, efek antiinflamasi pare setara dengan obat antiinflamasi nonsteroid yang selama ini menjadi standar pengobatan.

“The anti-inflammatory effectiveness of ethanolic extract of Momordica charantia 500 mg/kg BW is the best compared to the ethanolic extract of bitter gourd fruit 250 mg/kg BW, 100 mg/kg BW, and ibuprofen 100 mg/kg BW.”

Dosis 500 mg/kg berat badan konsisten menunjukkan performa terbaik: pada hari ke-7, seluruh tikus dalam kelompok ini memiliki densitas infiltrat inflamasi pada kategori “rendah”, sementara kelompok akuades tetap bertahan di kategori “padat” sepanjang pengamatan.

Semakin Tinggi Dosis, Semakin Sedikit Sel yang Teraktivasi

Pola yang sama terlihat pada data aktivasi NF-κB. Jumlah sel inflamasi yang mengalami aktivasi NF-κB, meliputi neutrofil, makrofag, dan limfosit, menurun seiring bertambahnya hari pengamatan di semua kelompok perlakuan aktif. Kelompok dosis 500 mg/kg berat badan secara konsisten mencatat jumlah sel teraktivasi paling sedikit dibandingkan kelompok lainnya, termasuk ibuprofen.

Analisis two-way ANOVA mengonfirmasi bahwa baik dosis maupun durasi pemberian berpengaruh signifikan terhadap jumlah sel yang mengalami aktivasi NF-κB (p<0,05). Pola ini menunjukkan hubungan dosis-respons yang jelas: semakin tinggi konsentrasi ekstrak pare, semakin efektif penghambatan NF-κB yang terjadi.

Mekanismenya diyakini melibatkan kerja Charantoside C dan Momordicoside G dalam memblokir sinyal TNF-α yang memicu aktivasi NF-κB. Ketika aktivasi NF-κB terhambat, produksi mediator inflamasi seperti IL-1β, IL-6, TNF-α, dan PGE2 ikut berkurang, sehingga kerusakan jaringan periodontal dapat ditekan.

Satu catatan penting dari penelitian ini: penggunaan ekstrak pare hingga dosis 2.000 mg/kg berat badan tidak menunjukkan efek toksik maupun perubahan perilaku pada hewan coba, sehingga dianggap aman sebagai kandidat obat herbal antiinflamasi.

Dari Warung Sayur ke Laboratorium

Temuan ini bukan hanya menarik secara ilmiah. Di Indonesia, pare adalah tanaman yang tumbuh di pekarangan, mudah didapat, dan harganya terjangkau. Jika potensi antiinflamasinya dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi formulasi klinis yang terstandarisasi, ia bisa membuka akses pengobatan periodontitis yang lebih merata, terutama bagi populasi yang sulit menjangkau fasilitas kesehatan gigi atau obat-obatan konvensional.

Tentu, perjalanan dari meja laboratorium ke klinik gigi masih panjang. Uji klinis pada manusia, standardisasi ekstrak, hingga formulasi yang tepat masih harus ditempuh. Tapi di sinilah nilai penelitian seperti ini: meletakkan fondasi ilmiah yang kokoh untuk sesuatu yang selama ini hanya dikenal sebagai “obat nenek moyang” tanpa bukti yang terukur.

Pare sudah lama dianggap sekadar pelengkap sayur bening. Kini, setidaknya di level molekular, ia terbukti bisa melawan lebih dari sekadar selera.

Sumber DOI : http://doi.org/10.22146/majkedgiind.31579

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
16 July 2026

Berlian Nano Jadi Mata untuk Mengintip Radikal Bebas di Dalam Sel Hidup

16 July 2026

Rahasia Tulang Leher: Kunci Tepat Waktu Perawatan Ortodonti pada Anak

16 July 2026

Gigi Patah, Pulpa Terbuka: Kisah Penanganan Darurat pada Bocah 4 Tahun di RSGM Prof. Soedomo

en_US