News

/

Artikel, Latest News, SDG 10, SDG 16, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Gigi Patah, Pulpa Terbuka: Kisah Penanganan Darurat pada Bocah 4 Tahun di RSGM Prof. Soedomo

Dua hari setelah terjatuh saat berlarian di halaman rumah, seorang anak perempuan berusia 4 tahun tiba di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof. Soedomo, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. Ia menangis. Gigi depan atasnya patah, berdarah setiap kali tersentuh, dan ia menolak makan karena takut sakit. Ibunya sudah memberikan obat pereda nyeri, tapi tidak banyak membantu.

Kasus ini kemudian menjadi subjek laporan ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal e-GiGi (Volume 12, Nomor 1, 2024) oleh drg. Suci N. Rahmadani dan drg. Putri Kusuma Wardani Mahendra, M.Kes., Sp.KGA. dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG UGM. Temuan mereka menunjukkan bahwa fraktur mahkota kompleks pada gigi desidui, bahkan pada anak yang tidak kooperatif sekalipun, dapat ditangani dengan hasil yang baik, asalkan pendekatannya tepat dan kolaborasi antara dokter, orang tua, serta pasien berjalan solid.

Ketika Gigi Susu Tidak Bisa Dibiarkan Begitu Saja

Fraktur mahkota kompleks adalah kondisi di mana patahan gigi sudah menembus hingga jaringan pulpa, yakni bagian terdalam gigi yang mengandung saraf dan pembuluh darah. Ini bukan sekadar gigi retak biasa.

Menurut data yang dikutip dalam laporan kasus ini, trauma gigi pada anak usia 2 hingga 4 tahun terjadi dengan frekuensi sekitar 20%, dan gigi insisivus sentral rahang atas adalah yang paling sering menjadi korban. Posisinya yang menonjol di rongga mulut membuatnya rentan saat anak terjatuh. Pada kasus ini, gigi 51 dan 61, keduanya gigi insisivus sentral atas kiri dan kanan, mengalami fraktur mahkota dengan pulpa yang terbuka.

Yang membuat kondisi ini mendesak bukan hanya rasa sakitnya. Jika dibiarkan, pulpa yang terbuka menjadi pintu masuk infeksi bakteri. Infeksi yang tidak tertangani bisa merusak benih gigi permanen yang sedang berkembang di bawahnya, memicu maloklusi akibat tanggal terlalu dini, hingga berdampak pada kemampuan bicara dan psikologis anak.

Pilihan yang Lebih Berani: Pulpektomi Vital

Di hadapan kondisi ini, drg. Putri Kusuma Wardani Mahendra, M.Kes., Sp.KGA. dan tim memiliki beberapa opsi: pulpotomi, pulpektomi vital, atau ekstraksi. Pulpotomi, yakni pengangkatan pulpa bagian mahkota saja, hanya cocok jika peradangan masih bersifat reversibel. Sementara pada kasus ini, fraktur sudah terjadi dua hari sebelumnya dengan riwayat nyeri spontan dan perdarahan terus-menerus, tanda-tanda yang mengarah pada inflamasi ireversibel.

Pilihan jatuh pada pulpektomi vital: pengangkatan seluruh jaringan pulpa di bagian koronal dan radikuler, diikuti pembersihan dan pengisian saluran akar. Sebuah studi yang dikutip dalam laporan ini mencatat tingkat keberhasilan pulpektomi vital mencapai 96%, dibandingkan pulpotomi yang hanya 75% pada kasus fraktur mahkota kompleks.

“Keuntungan dilakukan pulpektomi vital pada gigi desidui yang mengalami fraktur mahkota dengan pulpa terbuka ialah untuk mencegah terjadinya maloklusi akibat premature loss, menjaga fungsi mastikasi, mencegah munculnya masalah dalam berbicara, mencegah efek psikologis, dan mencegah gangguan erupsi gigi permanen.” — Rahmadani & Mahendra, e-GiGi, 2024

Prosedurnya tidak sederhana. Kunjungan pertama diawali dengan sterilisasi, anestesi topikal, lalu anestesi infiltrasi dan intrapulpa. Jaringan pulpa diangkat menggunakan barbed broach, saluran akar diirigasi dengan larutan NaOCl 2,5% dan saline, lalu diisi dressing pasta kalsium hidroksida sebagai obat sementara. Saluran akar baru diobturasi pada kunjungan kedua menggunakan pasta kombinasi kalsium hidroksida dan iodoform (Metapex), bahan yang dipilih karena sifatnya yang biokompatibel, dapat diresorbsi, dan tidak toksik terhadap jaringan periapikal maupun benih gigi permanen.

Anak Menangis, Ibu Mendekap: Manajemen Perilaku yang Jadi Kunci

Tantangan terbesar dalam kasus ini bukan teknis klinis, melainkan psikologis. Sang anak masuk dalam kategori “sangat negatif” berdasarkan skala Frankl, menangis histeris dan menolak semua tindakan. Rontgen foto pun tidak bisa dilakukan pada kunjungan pertama karena kondisi ini.

Tim memilih pendekatan body restrain non-farmakologis: ibu pasien duduk di kursi gigi, anak dibaringkan di pangkuannya, dan tubuh sang ibu memeluk erat tubuh, tangan, serta kaki anak selama prosedur berlangsung. Teknik ini bukan sekadar “menahan paksa”, melainkan cara terstruktur yang diakui secara klinis untuk mencegah cedera pada anak dan memungkinkan prosedur berjalan aman.

Pendekatan ini juga mencerminkan prinsip yang ditegaskan dalam laporan: keberhasilan perawatan trauma gigi pada anak tidak hanya bergantung pada keterampilan klinis dokter, tetapi pada keterlibatan aktif orang tua sejak penjelasan awal, informed consent, hingga pelaksanaan prosedur.

Hasilnya? Pada kunjungan ketiga, tidak ada keluhan. Pemeriksaan klinis menunjukkan hasil negatif untuk perkusi, palpasi, dan kegoyahan. Restorasi akhir menggunakan Glass Ionomer Cement (GIC) tipe II berhasil dipasang. Satu bulan kemudian, anak itu sudah bisa menggigit makanan dengan nyaman menggunakan gigi depannya.

Sumber DOI : https://doi.org/10.35790/eg.v12i1.47582

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
16 July 2026

Bakteri Ini Ditemukan di Semua Jaringan Penderita Periodontitis dan Dampaknya Lebih Serius dari yang Dikira

16 July 2026

Kolaborasi FKG UGM dan Tokushima University Ciptakan Cairan Pembersih Gigi Alami Berbasis Nano Kitosan

16 July 2026

Bur Bulat dan Asam Fosfat: Kombinasi Kunci Meminimalkan Kebocoran Sealant Gigi Anak

en_US