News

/

Artikel, Latest News

Obat-Jantung-yang-Mengubah-Gusi-Jejak-Protein-Bcl-2-di-Balik-Hiperplasia-Gingiva

Gusi yang membengkak bukan selalu tanda infeksi. Kadang, sumbernya justru datang dari obat yang setiap hari ditelan untuk menjaga jantung tetap berdetak normal.

Itulah paradoks yang diteliti oleh tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, dipimpin oleh Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO bersama kolaborator dari Departemen Biologi Oral, Pedodontik, hingga Patologi Anatomi FK UGM. Studi mereka, yang dipublikasikan di Clinical Oral Investigations pada 2003, menelusuri bagaimana nifedipin, obat golongan calcium channel blocker yang lazim diresepkan untuk hipertensi dan angina, dapat memicu pembesaran jaringan gusi secara berlebihan, dan mengapa protein tertentu tampaknya menjadi pemain kunci di balik proses itu.

Sel yang Menolak Mati

Untuk memahami temuannya, kita perlu berkenalan dengan protein bernama bcl-2. Protein ini adalah anggota dari keluarga besar regulator kematian sel, sebuah keluarga yang terdiri dari setidaknya 16 protein dengan peran berlawanan: ada yang mendorong sel untuk hidup, ada yang mendorongnya untuk mati secara terprogram (apoptosis). Bcl-2 berada di kubu pertama. Ia bekerja dengan menghambat aktivasi caspase 9, enzim yang memicu apoptosis, sehingga sel terus bertahan bahkan saat seharusnya sudah “pensiun”. Overekspresi bcl-2 dikaitkan dengan kelangsungan hidup sel yang berlebihan dan, dalam skenario paling ekstrem, tumorigenesis.

Pertanyaan yang diajukan Prof. Juni Handajani dan timnya sederhana namun tajam: apakah nifedipin meningkatkan ekspresi bcl-2 di jaringan gusi, dan apakah peningkatan itu bergantung pada dosis dan durasi pemberian obat?

Tikus, Nifedipin, dan Bukti Imunohistokimia

Untuk menjawab pertanyaan itu, tim menggunakan tikus jantan Sprague Dawley berusia 6 hingga 8 minggu yang dibagi ke dalam lima kelompok. Kelompok kontrol tidak mendapat nifedipin, sementara kelompok perlakuan menerima nifedipin dengan dosis 15, 30, dan 60 mg per kilogram berat badan melalui sonde lambung, selama 1, 3, dan 6 minggu.

Setelah periode perlakuan, jaringan gusi insisivus labial diambil, diproses secara histologis, dan diperiksa menggunakan teknik imunohistokimia untuk mendeteksi keberadaan protein bcl-2. Hasilnya dibaca di bawah mikroskop cahaya: sel-sel yang mengekspresikan bcl-2 tampak terwarnai, dan jumlahnya dihitung serta dianalisis secara statistik.

Gambarannya kontras. Pada tikus kontrol, hanya sedikit sel gusi yang terwarnai, dan intensitasnya pun lemah. Namun pada tikus yang diberi 60 mg nifedipin selama 6 minggu, sel-sel bcl-2 positif tersebar luas di lapisan suprabasal epitel gingiva dengan pewarnaan yang kuat dan jelas.

“Nifedipine treatment may induce the expression of bcl-2 protein in rat gingival tissue in a dose- and duration-dependent fashion and that this proto-oncogenic protein may play a role in nifedipine-induced gingival hyperplasia.”

Temuan itu konsisten: semakin tinggi dosis nifedipin, semakin banyak sel bcl-2 positif. Semakin lama durasi pemberian, semakin tinggi pula ekspresinya. Keduanya bermakna secara statistik.

Petunjuk Awal Sebelum Gusi Membengkak

Yang paling menarik dari studi ini adalah temuan pada kelompok dosis rendah, 15 mg selama 1 minggu. Pada titik itu, hiperplasia gingiva secara klinis belum terdeteksi. Namun ekspresi bcl-2 sudah mulai meningkat.

Ini mengisyaratkan bahwa disregulasi kematian sel terjadi lebih awal dari perubahan morfologi yang tampak. Nifedipin yang terakumulasi dalam jumlah kecil di jaringan gusi sudah cukup untuk memicu sinyal intraseluler yang mendorong sel-sel epitel gingiva menolak apoptosis.

Tim peneliti menduga bahwa bcl-2 bekerja bersama c-Myc, protein proto-onkogen lain yang diketahui berperan dalam proliferasi dan apoptosis sel. Jika bcl-2 menekan apoptosis yang dipicu c-Myc tetapi tidak menghambat proliferasinya, hasilnya adalah pertumbuhan sel yang tidak terkendali, yang secara klinis akan tampak sebagai pembengkakan gusi. Hipotesis ini, seperti diakui para peneliti sendiri, masih perlu dibuktikan lebih lanjut karena ekspresi c-Myc tidak diperiksa dalam studi ini.

From Laboratory to Clinical Practice

Bagi dokter gigi, temuan ini bukan sekadar kisah biokimia. Hiperplasia gingiva akibat nifedipin adalah kondisi nyata yang dihadapi pasien-pasien dengan penyakit kardiovaskular. Gusi yang membesar bisa menyulitkan kebersihan mulut, meningkatkan risiko periodontitis, bahkan memerlukan tindakan gingivektomi. Memahami mekanisme molekulernya, termasuk peran bcl-2, membuka peluang untuk intervensi yang lebih tepat sasaran di masa depan, baik dalam pemilihan obat pengganti maupun dalam pengelolaan efek sampingnya.

Studi yang lahir dari kolaborasi lintas departemen di UGM ini, dengan dukungan beasiswa pascasarjana dan program Risbin Iptekdok dari pemerintah Indonesia, membuktikan bahwa pertanyaan klinis yang tampak sederhana bisa membawa peneliti ke kedalaman biologi sel yang kompleks. Dan bahwa jawaban atas pertanyaan itu, ketika ditemukan, bisa mengubah cara kita merawat pasien.

Sumber DOI : https://doi.org/10.1007/s00784-003-0194-7

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Tags

Share News

Related News
13 July 2026

MTA Unggul: Bukti Histologis dari Dalam Tulang Rahang Kelinci

13 July 2026

Bakteri Perusak Tambalan Gigi: Penelitian Dedy Yulianto Ungkap Musuh Tersembunyi di Mulut

13 July 2026

Boba-dan-Bakteri-Ketika-Gelembung-Tapioka-Melawan-Streptococcus-mutans

en_US