News

/

Artikel, Latest News

Nanoemulgel-Nanas-untuk-Sariawan-Ketika-Limbah-Bonggol-Jadi-Obat

Sariawan di mulut — luka kecil yang terasa perih luar biasa setiap kali terkena makanan atau minuman — ternyata bisa diobati dengan sesuatu yang selama ini dibuang: bonggol nanas. Penelitian terbaru dari Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada membuktikan bahwa ekstrak batang Ananas comosus yang diformulasikan sebagai nanoemulgel mampu mempercepat penyembuhan ulkus traumatikus pada fase inflamasi, dengan hasil yang lebih baik dibandingkan gel komersial yang sudah beredar di pasaran.

Temuan ini dipublikasikan dalam Journal of Taibah University Medical Sciences pada Maret 2025, menambah bukti ilmiah bahwa kekayaan hayati lokal Indonesia menyimpan potensi terapeutik yang belum sepenuhnya terjamah.

Dari Bonggol yang Terbuang ke Sediaan Nano

Ulkus traumatikus adalah luka pada mukosa mulut yang terjadi akibat trauma mekanik, termal, kimiawi, maupun elektrik. Menggosok gigi terlalu keras, ujung makanan yang tajam, atau minuman panas yang tidak sengaja menyentuh pipi bagian dalam — semuanya bisa menjadi penyebab. Menurut data yang dikutip dalam penelitian ini, sekitar 83,6 persen orang pernah mengalami kondisi ini. Angka yang jauh lebih tinggi dari yang kita bayangkan.

Proses penyembuhan luka dimulai dari fase inflamasi, yang berlangsung sejak hari pertama hingga beberapa hari sesudahnya. Fase ini melibatkan infiltrasi neutrofil — sel imun garis depan — ke area luka, serta ekspresi enzim COX-2 yang menjadi penanda aktivitas peradangan. Tanpa fase inflamasi yang berjalan baik, proses penyembuhan berikutnya (proliferasi dan remodeling) tidak akan optimal.

Di sinilah bromelain berperan. Enzim proteolitik yang terkandung paling tinggi di batang nanas ini dikenal memiliki efek anti-inflamasi, antiplatelet, fibrinolitik, dan mempercepat debridemen luka. Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO, selaku peneliti utama sekaligus Kepala Departemen Biologi Oral FKG UGM, bersama tim memilih untuk memformulasikan ekstrak batang nanas dalam bentuk nanoemulgel — sediaan berukuran partikel rata-rata 260,65 nm yang mampu membawa bahan aktif hidrofilik maupun hidrofobik secara bersamaan, sekaligus lebih cepat larut dibandingkan krim atau salep konvensional.

Nanas varietas Pasir Kelud dari Kediri, Jawa Timur, dipilih sebagai bahan baku. Batang nanas yang biasanya dianggap limbah pertanian itu diekstraksi, lalu diformulasikan menjadi nanoemulgel dengan konsentrasi bromelain 1 persen.

Neutrofil Melonjak, Luka Menyusut

Untuk menguji efektivitasnya, tim peneliti menggunakan 24 tikus Wistar jantan berusia 2-3 bulan. Pada mukosa bukal masing-masing tikus dibuat luka standar berdiameter 3 mm menggunakan punch biopsy. Dua belas tikus mendapat perlakuan nanoemulgel ekstrak nanas, sementara 12 tikus lainnya menjadi kelompok kontrol positif dengan Aloclair Plus Gel — produk gel ulkus mulut yang telah dikenal secara klinis.

Gel dioleskan sekali sehari selama empat hari. Pada hari ke-0, 1, 2, dan 3, jaringan diambil untuk pemeriksaan histologis menggunakan pewarnaan hematoksilin-eosin (untuk menghitung neutrofil) dan imunohistokimia (untuk mengukur ekspresi COX-2).

Hasilnya cukup mengejutkan. Diameter ulkus pada kelompok nanoemulgel nanas secara signifikan lebih kecil dibandingkan kelompok kontrol (p < 0,05). Jumlah neutrofil mencapai puncak pada hari pertama di kelompok perlakuan, dengan angka yang lebih tinggi secara bermakna dibandingkan kontrol. Ekspresi COX-2 memuncak pada hari ketiga, juga lebih tinggi di kelompok perlakuan pada hari kedua dan ketiga.

“Pineapple stem extract induced the inflammatory phase and accelerated wound healing, as indicated clinically by the decreased diameter of traumatic ulcers, higher neutrophil count, and greater COX-2 expression level in the treatment group compared with the control group.”

— Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO, dan tim, dalam kesimpulan penelitian

Angka yang lebih tinggi pada neutrofil dan COX-2 bukan berarti peradangan memburuk — justru sebaliknya. Ini menunjukkan fase inflamasi berjalan lebih aktif dan terkoordinasi, yang mendorong proses penyembuhan ke tahap berikutnya dengan lebih cepat. Bromelain diduga bekerja bukan sebagai inhibitor COX-2 langsung, melainkan melalui modulasi aktivitas sel imun dan pengurangan sitokin pro-inflamasi — mekanisme yang masih terus diteliti.

Potensi Besar, Optimasi yang Masih Menunggu

Selain bromelain, batang nanas juga mengandung flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, takorin, dan glikosida. Flavonoid diketahui dapat menghambat produksi mediator inflamasi, sementara tanin dan saponin berperan meredakan peradangan. Kombinasi senyawa aktif inilah yang kemungkinan bekerja sinergis dalam mempercepat penyembuhan.

Secara fisik, sediaan nanoemulgel yang dikembangkan tim ini juga memenuhi standar: pH 6,29-6,33 (mendekati pH mulut), daya sebar rata-rata 5,03 cm, dan daya lekat 4,12-4,23 detik. Semua parameter ini penting untuk memastikan gel dapat menempel cukup lama di mukosa mulut yang terus-menerus basah oleh saliva.

Penelitian ini didanai oleh Dana Masyarakat FKG UGM tahun 2024 dan telah mendapat persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian FKG-RSGM UGM dengan nomor 69/UN1/Kep/FKG-RSGM/EC/2024.

Tim sendiri mengakui bahwa masih diperlukan optimasi formulasi untuk penggunaan klinis, serta observasi jangka panjang guna memahami keseluruhan proses penyembuhan mukosa mulut. Namun langkah awal ini sudah cukup untuk menegaskan satu hal: bonggol nanas yang selama ini dibuang petani di Kediri mungkin menyimpan jawaban atas perih kecil yang selama ini kita abaikan — atau obati seadanya dengan gel impor.

Sumber DOI : https://doi.org/10.1016/j.jtumed.2025.02.016

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Tags

Share News

Related News
13 July 2026

MTA Unggul: Bukti Histologis dari Dalam Tulang Rahang Kelinci

13 July 2026

Bakteri Perusak Tambalan Gigi: Penelitian Dedy Yulianto Ungkap Musuh Tersembunyi di Mulut

13 July 2026

Boba-dan-Bakteri-Ketika-Gelembung-Tapioka-Melawan-Streptococcus-mutans

en_US