Bayangkan seorang nenek berusia 70 tahun yang setiap pagi bangun dengan mulut terasa seperti kertas pasir. Ia sudah minum obat darah tinggi selama bertahun-tahun, dan tidak pernah mengira bahwa kapsul kecil itu perlahan menguras saliva dari rongga mulutnya. Kondisi ini bukan sekadar ketidaknyamanan. Menurut penelitian yang dipublikasikan di Journal of International Oral Health (2021), kondisi tersebut menempatkannya pada risiko 5,68 kali lebih tinggi mengalami kebersihan mulut yang buruk dibandingkan lansia yang produksi salivanya normal.
Penelitian itu dilakukan oleh Prof. Dr. drg. Dewi Agustina, MDSc, bersama Bernadetta Esti Chrismawaty dan Lisdrianto Hanindriyo dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. Mereka memeriksa 158 lansia dari lima Posyandu Lansia di Kota Yogyakarta sebuah kota yang tercatat memiliki angka harapan hidup tertinggi di Indonesia, sekaligus salah satu provinsi dengan proporsi penduduk lansia terbesar di negeri ini.
Ketika Saliva Berhenti Bekerja
Saliva bukan sekadar cairan di mulut. Ia adalah pelindung: menetralkan asam, mengandung antibodi, membantu remineralisasi enamel gigi, dan menjaga keseimbangan mikrobioma oral. Tanpa saliva yang cukup, gigi kehilangan tamengnya.
Dalam studi ini, hiposalivasi didefinisikan sebagai laju aliran saliva tanpa stimulasi di bawah 0,1 ml per menit. Sementara xerostomia adalah sensasi subjektif mulut kering yang tidak selalu disertai penurunan volume saliva secara terukur. Keduanya berbeda, dan perbedaan itu ternyata penting secara klinis.
Dari 158 subjek yang diperiksa, 59,5% mengalami xerostomia dan 25,3% mengalami hiposalivasi. Angka yang tampaknya kecil untuk hiposalivasi, tetapi dampaknya tidak proporsional. Analisis multivariat menunjukkan bahwa lansia dengan hiposalivasi berisiko 5,68 kali lebih besar mengalami kebersihan mulut yang buruk, sedangkan xerostomia “hanya” meningkatkan risiko 2,49 kali lipat.
“Hiposalivasi adalah faktor risiko utama status kesehatan mulut yang buruk pada lansia Indonesia.” Prof. Dr. drg. Dewi Agustina, MDSc, et al., Journal of International Oral Health, 2021
Obat yang Menyembuhkan, Sekaligus Mengeringkan
Salah satu temuan yang paling relevan untuk praktik klinis sehari-hari adalah kaitan erat antara hiposalivasi dan konsumsi obat-obatan jangka panjang. Dari 158 subjek, 45 orang menderita hipertensi dan sebagian besar mengonsumsi obat antihipertensi seperti kaptopril, yang diketahui menghambat enzim pengubah angiotensin dan memicu efek mulut kering. Selain itu, 18 subjek terdiagnosis diabetes melitus, kondisi yang juga berkorelasi kuat dengan penurunan laju aliran saliva.
Fenomena ini berkaitan erat dengan apa yang dikenal sebagai polifarmasi pada lansia: konsumsi lebih dari satu jenis obat secara bersamaan dari berbagai dokter spesialis. Lebih dari 500 jenis obat diketahui dapat memicu hiposalivasi, mulai dari antihipertensi, antihistamin, diuretik, antidepresan, hingga obat penenang golongan benzodiazepin. Semakin tua seseorang, semakin panjang daftar obatnya, dan semakin besar kemungkinan salivanya berkurang.
Kondisi ini menciptakan lingkaran yang sulit diputus. Penyakit sistemik membutuhkan obat, obat memicu hiposalivasi, hiposalivasi memperburuk kesehatan mulut, dan kesehatan mulut yang buruk pada akhirnya menurunkan kualitas hidup lansia secara keseluruhan.
Angka yang Berbicara dari Posyandu Lansia
Tim peneliti memilih pendekatan yang membumi: mereka mendatangi Posyandu Lansia di tiga kecamatan Danurejan, Gedongtengen, dan Jetis. Lima posyandu terpilih secara acak, dan undangan dikirimkan kepada 200 anggota berusia 60 tahun ke atas. Sebanyak 158 orang akhirnya berpartisipasi penuh.
Hasilnya cukup mengejutkan. Kondisi yang paling banyak ditemukan bukan karies atau penyakit periodontal, melainkan jumlah pasangan gigi yang menggigit (natural occluding pairs/NOP) yang sangat sedikit: 73,4% subjek hanya memiliki lima pasang atau kurang. Artinya, sebagian besar lansia itu sudah kehilangan banyak gigi asli mereka. Indeks DMFT tinggi ditemukan pada 71,5% subjek, dan 27,8% memiliki kebersihan mulut yang buruk berdasarkan OHI-S (Oral Hygiene Index-Simplified).
Analisis bivariat memperlihatkan pola yang tegas: proporsi kantong periodontal dan kebersihan mulut yang buruk berbeda secara signifikan antara kelompok dengan dan tanpa hiposalivasi, dengan nilai p < 0,001. Xerostomia, meski lebih umum, hanya menunjukkan perbedaan signifikan pada indikator kebersihan mulut saja.
Dari Posyandu ke Kebijakan Kesehatan Lansia
Penelitian ini bukan hanya soal angka. Ada implikasi praktis yang mendesak. Prof. Dewi dan tim menekankan perlunya kolaborasi interprofesional antara dokter gigi, dokter umum, dan tenaga kesehatan lain dalam menangani pasien lansia. Seorang dokter yang meresepkan antihipertensi perlu tahu bahwa obatnya berpotensi merusak kesehatan mulut pasiennya. Sebaliknya, dokter gigi yang memeriksa seorang lansia dengan kebersihan mulut buruk perlu bertanya: obat apa yang sedang ia konsumsi?
Keterbatasan studi ini diakui oleh para peneliti sendiri. Desain potong lintang (cross-sectional) tidak bisa membuktikan hubungan sebab-akibat secara definitif. Studi lanjutan dengan desain kohort atau kasus-kontrol diperlukan untuk memetakan lebih lengkap bagaimana hiposalivasi, xerostomia, kondisi sistemik, dan kualitas hidup saling bertautan dalam perjalanan panjang proses penuaan.
Namun untuk saat ini, pesannya sudah cukup jelas. Mulut kering pada lansia bukan sekadar keluhan sepele yang bisa diabaikan. Ia adalah tanda peringatan dini yang, jika tidak ditangani, bisa berujung pada kerusakan gigi progresif, kehilangan gigi, gangguan mengunyah, dan penurunan kualitas hidup yang nyata. Di negara yang pada 2050 diperkirakan akan memiliki 72 juta penduduk berusia di atas 60 tahun, memahami risiko ini bukan pilihan melainkan keharusan.
Sumber DOI : http://10.4103/jioh.jioh_255_18
Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Freepik