Sebuah peta jalan ambisius tengah digelar oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM). Bukan sekadar target akademik biasa, visi yang diusung dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2027 ini membentang hingga 2031. Tujuannya tegas: menjadikan FKG UGM sebagai World Class Dental Edusociopreneur Center, pusat pendidikan kedokteran gigi berkelas dunia yang mengakar pada inovasi, kewirausahaan sosial, dan dampak nyata bagi masyarakat. Hal itu disampaikan oleh tim FKG UGM dalam rapat pembahasan RKAT yang dilaksanakan pada Senin, 5 oktober 2026 di Ruang Sidang Satuan Penjaminan Mutu dan Reputasi Universitas (SPMRU) UGM.
Pembahasan RKAT ini dipimpin langsung oleh Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia dan Keuangan UGM Prof. Dr. Supriyadi, M.Sc. didampingi Direktur Direktorat Sumber Daya Manusia UGM Prof. Suadi, S.Pi., M.Agr.Sc., Ph.D., Direktur Direktorat Keuangan UGM Prof. Syaiful Ali, MIS., Ph.D.,Ak., CA., serta Kepala Kantor Pengadaan UGM Teguh Sudibyo, S.T., M.T., Ph.D.
Sementara itu dari Fakultas Kedokteran Gigi, hadir dalam kegiatan ini yaitu Dekan FKG UGM Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D., Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FKG UGM Prof. drg. Rosa Amalia, M.Kes.,Ph.D., Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia FKG UGM drg. Heribertus Dedy Kusuma Yulianto, M.Biotech., Ph.D, Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni FKG UGM drg. Trianna Wahyu Utami, M.D.Sc., Ph.D., serta Kepala Kantor Administrasi FKG UGM Wulansari, S.S.
Berawal dari Pengakuan Global, Melangkah ke Hilirisasi
Langkah ini bukan tiba-tiba. FKG UGM telah menorehkan rekognisi internasional melalui kehadirannya dalam The World University Rankings for Innovation (WURI) 2024, sebuah pemeringkatan bergengsi yang secara khusus mengukur kapasitas inovasi perguruan tinggi, bukan sekadar output publikasi. Capaian itu menjadi pijakan penting untuk menyusun agenda besar berikutnya: hilirisasi riset yang benar-benar terekognisi global, ditargetkan terwujud pada 2026.
Dua tonggak konkret telah dicanangkan untuk tahun 2026. Pertama, penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Pembangunan Gedung Baru, yang telah berlangsung pada 30 September 2026. Gedung ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan infrastruktur yang dirancang untuk menopang ekosistem riset dan layanan klinis yang lebih terintegrasi. Kedua, pada 1 Oktober 2026, FKG UGM bersama RSGM UGM Prof. Soedomo akan meluncurkan komitmen bersama berupa subsidi pelayanan klinis bagi mahasiswa ko-asisten (koas), senilai Rp 9,5 miliar per tahun. Angka ini bukan angka kosong: ia merepresentasikan komitmen institusi bahwa pendidikan klinik yang berkualitas tidak boleh terhambat oleh beban biaya.
“Bagi kami, pembangunan gedung baru dan subsidi pelayanan klinis bukanlah dua agenda yang berdiri sendiri. Keduanya merupakan investasi jangka panjang untuk memperkuat pendidikan, riset, dan layanan FKG UGM sekaligus memastikan mahasiswa koas memperoleh kesempatan belajar klinik yang berkualitas. Ini adalah bentuk tanggung jawab institusi untuk hadir dan memberikan dukungan nyata bagi proses pendidikan mereka.” ungkap Prof. Suryono.
Lima Tahun, Lima Lompatan
Inti dari RKAT 2027 adalah sebuah roadmap lima tahun yang dirancang secara bertahap, dengan logika yang runtut: dari fondasi menuju skala dunia.
Tahun 2027 difokuskan pada pembangunan fondasi, yakni pembentukan klaster riset dan tata kelola kolaborasi yang solid. Ini adalah tahap paling krusial, karena tanpa ekosistem riset yang terstruktur, seluruh ambisi berikutnya akan kehilangan pijakan.
Tahun 2028 menjadi fase hilirisasi, ketika teaching industry mulai beroperasi. Konsep ini menempatkan FKG UGM tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi sebagai entitas yang mampu menghasilkan produk dan layanan berbasis riset yang siap masuk ke rantai industri.
Memasuki 2029, fokus bergeser ke socio-edupreneurship: produk-produk inovasi mulai memasuki pasar, sementara semangat kewirausahaan sosial diintegrasikan ke dalam kultur akademik. Pada 2030, skala diperluas ke tingkat regional, dengan pembentukan konsorsium riset ASEAN yang menempatkan FKG UGM sebagai simpul jaringan riset kedokteran gigi di Asia Tenggara. Dan pada 2031, babak akhir dari peta jalan ini, dilakukan review eksternal dan regenerasi, sebuah proses evaluasi menyeluruh untuk memastikan keberlanjutan dan relevansi institusi di panggung global.
Koas, Gedung, dan Ekosistem yang Saling Menopang
Yang menarik dari visi ini adalah cara FKG UGM merangkai elemen-elemen yang tampak berbeda, subsidi koas, pembangunan gedung, kolaborasi riset, dan pasar, ke dalam satu narasi yang koheren. Subsidi Rp 9,5 miliar per tahun untuk koas bukan program sosial yang berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan klinik yang kuat: ketika mahasiswa koas tidak terbebani biaya, mereka bisa lebih fokus pada kualitas praktik, dan pada gilirannya, kualitas layanan kepada pasien pun meningkat.
Demikian pula dengan pembangunan gedung baru. Infrastruktur fisik adalah prasyarat bagi teaching industry yang diimpikan pada 2028. Tanpa ruang laboratorium, klinik, dan fasilitas riset yang memadai, kolaborasi dengan industri dan konsorsium ASEAN hanya akan tinggal sebagai butir presentasi.
“Yang sedang kami bangun bukan sekadar gedung, tetapi ekosistem. Ekosistem yang memungkinkan pendidikan, riset, layanan, dan kolaborasi tumbuh bersama untuk menghasilkan dampak yang lebih besar bagi masyarakat.” pungkas Prof. Suryono.
Dari Yogyakarta, Menatap ASEAN
Peta jalan ini menempatkan FKG UGM dalam posisi yang jarang dilihat dari luar: sebuah fakultas kedokteran gigi yang berpikir tidak hanya soal gigi, tetapi soal bagaimana ilmu dan inovasi tentang gigi bisa menggerakkan ekonomi, memberdayakan masyarakat, dan membangun jaringan pengetahuan lintas batas.
Konsorsium riset ASEAN yang ditargetkan pada 2030 adalah sinyal bahwa FKG UGM tidak ingin berhenti sebagai pemain lokal yang baik. Ada ambisi untuk menjadi rujukan regional, tempat di mana peneliti dari berbagai negara bertemu, bertukar data, dan bersama-sama menghasilkan solusi untuk persoalan kesehatan gigi dan mulut yang masih menjadi beban besar di kawasan ini.
Jika semua fondasi yang diletakkan hari ini berdiri kokoh, 2031 bukan sekadar tahun evaluasi. Ia adalah cermin yang akan memantulkan seberapa jauh sebuah fakultas kedokteran gigi di Yogyakarta mampu mengubah cara dunia memandang inovasi, pendidikan, dan pelayanan kesehatan gigi.
Penulis: Hazra Alifia, Annisa, Dody Hendro | Foto: Dok. Panitia
Editor: Shinta