News

/

Artikel, Latest News, SDG 10, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Menyelamatkan Saraf di Balik Rahang yang Tumbuh Liar

Bocah laki-laki itu baru berusia sebelas tahun saat dokter di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, memutuskan bahwa separuh rahang bawahnya harus diangkat. Bukan karena kanker. Bukan karena kecelakaan parah. Melainkan karena sebuah kelainan jinak yang tumbuh diam-diam sejak ia terjatuh dan membenturkan dagunya ke batu tiga tahun sebelumnya.

Benjolan itu bermula kecil, lalu membesar. Wajahnya menjadi tidak simetris. Tulang rahang kirinya, dari gigi belakang hingga ke sendi rahang, telah dikuasai jaringan fibrosa yang menggantikan tulang normal. Diagnosis histopatologi menyebutnya: monostotic fibrous dysplasia.

Ketika Tulang Berubah Menjadi Jaringan Ikat

Fibrous dysplasia adalah kelainan di mana jaringan tulang normal digantikan oleh jaringan fibrosa abnormal, menyebabkan tulang membengkak, melemah, dan berubah bentuk. Kondisi ini bukan tumor ganas, bukan pula tumor sejati. Ia tergolong hamartoma atau lesi fibro-osseous, yang pertumbuhannya bersifat self-limiting, artinya akan berhenti dengan sendirinya setelah penderita mencapai kematangan tulang.

Namun “berhenti sendiri” tidak berarti tidak berbahaya. Pada kasus anak ini, lesi telah melibatkan prosesus koronoid dan kondilus mandibula kiri. CT scan menunjukkan gambaran khas ground glass yang homogen, tanda buku dari fibrous dysplasia. Seluruh segmen rahang kiri itu harus dibuang melalui prosedur hemimandibulektomi.

Di sinilah dilema klinis yang sesungguhnya muncul.

Jangan Putus Sarafnya

Hemimandibulektomi berarti mengangkat separuh mandibula. Dalam prosedur standar, saraf alveolar inferior, saraf sensorik utama yang menginervasi gusi, gigi, dagu, dan bibir bawah, ikut terbuang bersama tulang. Akibatnya: paresthesia permanen. Bibir terasa baal. Pasien tidak bisa merasakan apakah ia sedang menggigit bibirnya sendiri.

Bagi pasien dewasa, ini sudah berat. Bagi anak berusia sebelas tahun, dampaknya akan menemani sepanjang hidupnya.

Tim bedah dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, yang terdiri dari drg. Agus Widodo, drg. Muhammad M. Rahmat, drg. Prihartiningsih, dan drg. Cahya Yustisia Hasan, Sp.BM., memilih pendekatan yang lebih rumit namun lebih manusiawi: preservasi saraf alveolar inferior.

Tekniknya tidak sederhana. Saraf dibebaskan secara perlahan dari sepanjang kanalis mandibularis yang telah terdesak oleh massa fibrous dysplasia ke arah inferior. Pembebasan dimulai dari foramen mentale, menggunakan bur tulang yang diarahkan ke posterior, sementara saraf dilindungi dengan selang nelaton agar tidak tergores instrumen tajam. Arteri alveolar inferior diikat dan dipotong di foramen mandibularis. Setelah lesi diangkat dan pelat rekonstruksi (bridging plate) dipasang, saraf dibungkus dalam lapisan otot agar tidak bersentuhan langsung dengan logam pelat.

“Preservasi saraf alveolar inferior pada kasus ini bertujuan mengurangi keluhan paresthesia pascahemimandibulektomi, mengingat pasien masih muda, lesi bersifat jinak, dan memiliki tingkat rekurensi rendah apabila diangkat secara bersih.”

Kriteria untuk melakukan preservasi ini mengacu pada panduan Ishikawa et al. (1986): tidak ada gangguan sensorik sebelum operasi, saraf dapat ditarik bebas tanpa adhesi patologis, elastisitas selubung saraf masih normal, dan tampilan luar saraf mulus serta berkilau.

Delapan Bulan yang Menjawab Segalanya

Satu minggu pascaoperasi, tidak ada infeksi. Tidak ada dehiscens luka. Namun pada evaluasi awal, pasien mengeluhkan rasa baal di bibir bawah kiri. Ini bukan kegagalan, melainkan respons alami saraf yang baru saja mengalami tekanan dan manipulasi. Pasien diberi mekobalamin 250 mg setiap delapan jam untuk mendukung regenerasi mielin.

Satu bulan kemudian, keluhan baal menghilang.

Delapan bulan setelah operasi, evaluasi klinis menunjukkan fungsi rahang pulih, bentuk wajah kembali simetris, dan tidak ada tanda paresthesia. Hanya bekas keloid di sepanjang jahitan yang tersisa sebagai jejak perjalanan panjang itu.

Kasus ini dipublikasikan dalam Journal of Dentomaxillofacial Science (Volume 5, Nomor 3, Desember 2020), dan menjadi salah satu laporan klinis yang mendokumentasikan keberhasilan preservasi saraf alveolar inferior pada kasus hemimandibulektomi akibat fibrous dysplasia di Indonesia.

Ada ironi kecil yang menarik di sini: tulang yang berubah menjadi jaringan fibrosa justru diselamatkan oleh keputusan untuk mempertahankan serabut saraf yang terjepit di dalamnya. Sebuah pengingat bahwa dalam bedah, kadang yang paling sulit dipertahankan adalah hal yang paling tidak terlihat.

Sumber DOI : 10.15562/jdmfs

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Freepik

Tags

Share News

Related News
14 July 2026

Scaffolding Masa Depan: Ketika Implan Bisa Melawan Infeksi Sendiri

14 July 2026

Benjolan di Mulut yang Tak Diketahui Asalnya: Kisah Dua Pasien dan Pentingnya Diagnosis Histopatologi

14 July 2026

Gel Sildenafil untuk Luka Langit-Langit: Terobosan Kecil dari Laboratorium Hewan yang Menyimpan Harapan Besar

en_US