News

/

Artikel, Latest News

Kumur Povidone-Iodine Bisa Tekan Penularan COVID-19 di Klinik Gigi, Ini Temuannya

Pasien datang ke klinik gigi tanpa gejala apa pun. Tidak demam, tidak batuk, tidak sesak. Tapi di dalam rongga mulutnya, virus SARS-CoV-2 bisa saja sudah bersarang diam-diam. Itulah skenario yang paling mengkhawatirkan bagi dokter gigi selama pandemi COVID-19. Penelitian yang diterbitkan di Indonesian Dentistry Magazine pada April 2020 oleh drg. Heribertus Dedy Kusuma Yulianto, M.Biotech., Ph.D. bersama tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM), Yogyakarta, mengungkap seberapa besar risiko penularan silang COVID-19 di lingkungan praktik kedokteran gigi, sekaligus menawarkan strategi pencegahan berbasis bukti ilmiah. Riset ini dilakukan melalui telaah sistematis terhadap 52 artikel ilmiah yang dipublikasikan antara Januari 2015 hingga Mei 2020, saat pandemi tengah berada di puncak ketidakpastiannya.

Mulut Sebagai Pintu Masuk yang Sering Dilupakan

Selama ini, perhatian publik tertuju pada hidung dan saluran pernapasan sebagai jalur utama infeksi SARS-CoV-2. Namun penelitian tim FKG UGM ini menegaskan bahwa rongga mulut memainkan peran yang tidak kalah krusial.

Virus SARS-CoV-2 menempel pada reseptor angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2), yaitu semacam “kunci pintu” yang ada di permukaan sel tubuh manusia. Reseptor ini ditemukan dalam jumlah besar pada jaringan epitel mukosa rongga mulut, termasuk lidah, gusi, dan jaringan lunak lainnya. Saliva, cairan yang selalu membasahi rongga mulut, menjadi media utama tempat virus ini hidup dan menyebar.

Yang menarik, sel epitel lidah ternyata memiliki ekspresi ACE2 tertinggi dibandingkan jaringan mulut lainnya. Ini menjelaskan mengapa salah satu gejala awal COVID-19 adalah hilangnya kemampuan mengecap rasa, atau dalam istilah medisnya disebut ageusia. Selain itu, pasien positif COVID-19 juga dilaporkan mengalami manifestasi oral lain seperti nyeri, gingivitis deskuamatif, ulser, dan lepuhan pada mukosa mulut.

Aerosol di Kursi Perawatan: Ancaman Tak Kasat Mata

Di sinilah letak keunikan risiko di klinik gigi. Hampir semua prosedur perawatan gigi, mulai dari pengeboran kavitas dengan high-speed air-turbine handpiece, ultrasonic scaling, hingga perawatan saluran akar, menghasilkan percikan droplet dan aerosol dalam jumlah besar.

Droplet berukuran lebih dari 5 mikrometer dapat menular dalam jarak kurang dari satu meter. Aerosol yang lebih kecil, berukuran 5 mikrometer atau kurang, bahkan mampu melayang di udara dan menempuh jarak lebih dari satu meter. Bagi dokter gigi yang bekerja dalam jarak sangat dekat dengan rongga mulut pasien, ini adalah paparan yang nyaris tidak bisa dihindari tanpa protokol yang ketat.

Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa pasien yang terinfeksi COVID-19 bisa tidak menunjukkan gejala sama sekali, namun tetap menularkan virus. Tanpa skrining yang baik, pasien semacam ini bisa duduk di kursi perawatan dan tanpa sadar menyebarkan virus ke seluruh ruangan melalui aerosol yang terbentuk selama prosedur berlangsung.

“Cross-infection of COVID-19 via oral transmission of SARS-CoV-2 virus in the salivary droplets and aerosol has become a ‘novel challenge’ for dental professionals.” — Yulianto et al., Majalah Kedokteran Gigi Indonesia, 2020

Povidone-Iodine: Solusi Sederhana dengan Bukti Kuat

Dari seluruh strategi pencegahan yang dianalisis, satu temuan menonjol: penggunaan obat kumur povidone-iodine (PVP-I) terbukti secara signifikan mampu menekan risiko penularan silang dari pasien COVID-19 yang tidak bergejala.

PVP-I yang diencerkan hingga konsentrasi 0,23% terbukti efektif secara in vitro sebagai agen antivirus terhadap MERS-CoV dan SARS-CoV-1, dengan kemampuan membunuh virus hingga 99,99%. Untuk penggunaan klinis sehari-hari, PVP-I diencerkan dengan perbandingan 1:20 dalam air steril atau air suling, menghasilkan konsentrasi akhir 0,5%. Pasien atau tenaga kesehatan dianjurkan berkumur setiap dua hingga tiga jam, atau empat kali sehari selama 60 detik.

Keunggulan lain PVP-I adalah profil keamanannya. Uji sitotoksisitas menunjukkan bahwa PVP-I memiliki efek toksik yang lebih rendah terhadap sel mukosa dibandingkan obat kumur lain seperti klorheksidin diglukonat dan oktenidine dihidroklorida. Meski begitu, peneliti mengingatkan bahwa konsentrasi 5% dan 10% PVP-I bersifat siliototoksik terhadap sel epitel saluran pernapasan, sehingga penggunaan harus mengacu pada konsentrasi yang direkomendasikan.

Selain obat kumur PVP-I, riset ini juga merekomendasikan penerapan rubber dam selama prosedur, penggunaan alat isap saliva, kotak aerosol untuk preparasi kavitas, serta sterilisasi rutin saluran air unit gigi (Dental Unit Waterlines).

Skrining Pasien dan Protokol Baru untuk Era Normal Baru

Tim peneliti menyusun alur manajemen pasien yang komprehensif, mulai dari skrining awal berbasis kuesioner daring sebelum kunjungan, pemeriksaan suhu tubuh dengan termometer nirsentuh, hingga pemisahan pasien suspek COVID-19 ke ruangan berventilasi baik dengan jarak minimal dua meter dari pasien lain.

Prosedur non-darurat direkomendasikan untuk ditunda setidaknya 14 hari bagi pasien suspek. Untuk kasus darurat seperti abses apikal akut, abses periodontal, atau pulpitis ireversibel, penanganan tetap bisa dilakukan dengan protokol ketat menggunakan alat pelindung diri (APD) sesuai standar CDC, mencakup masker N95, pelindung wajah, gaun, dan sarung tangan.

Penelitian ini menjadi pengingat bahwa kursi dokter gigi bukan sekadar tempat menambal gigi atau mencabut geraham. Di tengah pandemi, kursi itu adalah titik pertemuan antara risiko dan kehati-hatian, antara ilmu pengetahuan dan tindakan nyata. Protokol yang lahir dari riset seperti ini bukan hanya melindungi pasien, tapi juga menjaga dokter gigi dan seluruh staf klinik agar tetap bisa bekerja dan melayani.

Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam

Photo: Freepik

Sumber DOI: http://doi.org/10.22146/majkedgiind.56588

Tags

Share News

Related News
6 August 2026

Penutupan Monev Kolegium & KKI Kedokteran Gigi Anak di Prodi Spesialis Kedokteran Gigi Anak FKG UGM

6 August 2026

dr. Hasto Wardoyo Menantang Mahasiswa Baru FKG UGM Menjadi Insan Kedokteran Gigi Berintegritas

6 August 2026

Satu Wajah, Banyak Tangan: Penanganan Celah Bibir dan Langit-Langit dengan Pendekatan Lintas Spesialisasi

en_US