Bertanggung Jawab4Pendidikan Berkualitas15Ekosistem Daratan
Sebuah bahan yang selama ini dibuang begitu saja di pabrik cokelat ternyata menyimpan kemampuan mengejutkan: menghambat pertumbuhan bakteri penyebab plak gigi pada anak. Kulit biji kakao, limbah yang dihasilkan dari proses pengolahan biji Theobroma cacao setelah fermentasi dan pemanggangan, kini menjadi objek penelitian serius di Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada.
Penelitian yang dipublikasikan di Padjadjaran Journal of Dentistry pada Juli 2022 ini menguji seberapa kuat ekstrak kulit biji kakao mampu menahan laju pertumbuhan Streptococcus alpha, bakteri yang paling umum ditemukan dalam plak gigi anak-anak dan berperan sebagai “pionir” dalam pembentukan plak.
Dari Limbah Pabrik ke Laboratorium Mikrobiologi
Tim peneliti dari Program Pascasarjana Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG UGM, terdiri atas drg. Vonny Gunawan Siswanto, drg. Putri Kusuma Wardhani Mahendra, M.Kes., Sp.KGA., dan Prof. Sri Kuswandari, mengambil bahan baku dari pabrik cokelat di Desa Nglanggeran, Kecamatan Pathuk, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Kulit biji kakao yang biasanya terbuang itu diolah menjadi ekstrak etanol dengan berbagai konsentrasi: 12,5%, 25%, 37,5%, dan 50%.
Bakteri uji diisolasi dari cara yang cukup teliti: plak gigi pada permukaan bukal gigi seorang anak perempuan berusia sembilan tahun yang bebas karies. Isolat tersebut ditumbuhkan di medium blood agar, lalu diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. Koloni S. alpha yang tumbuh ditandai dengan zona kehijauan khas pada medium, kemudian digunakan dalam uji hambat pertumbuhan bakteri.
Pengujian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Masing-masing konsentrasi ekstrak ditempatkan dalam sumur berdiameter 6 mm pada medium Mueller Hinton Agar, bersama kontrol positif berupa Chlorhexidine Gluconate (CHX) 0,2% dan kontrol negatif berupa aquades. Zona hambat diukur menggunakan kaliper pada tiga titik diameter yang berbeda, dengan enam kali replikasi.
Zona Hambat yang Memberi Harapan
Hasilnya menunjukkan perbedaan yang signifikan antar kelompok perlakuan. Konsentrasi tertinggi, 50%, menghasilkan zona hambat rata-rata 17,07 ± 1,01 mm. Konsentrasi 37,5% menghasilkan 13,40 mm, konsentrasi 25% menghasilkan 11,45 mm, dan konsentrasi terendah 12,5% menghasilkan 10,12 mm. Semua konsentrasi ini, menurut standar klasifikasi Cockerill, masuk dalam kategori antibakteri “kuat” karena zona hambatnya berada di rentang 10-20 mm.
Meski demikian, CHX 0,2% sebagai standar emas obat kumur tetap unggul dengan zona hambat 24,59 mm. Artinya, kemampuan antibakteri ekstrak kulit kakao konsentrasi 50% baru mencapai sekitar 70% dari efektivitas CHX.
Kandungan aktif dalam kulit biji kakao, antara lain flavonoid, polifenol, terpenoid, dan alkaloid, diyakini bekerja dengan cara merusak membran sel bakteri sehingga menghambat pertumbuhannya. Studi kromatografi awal menemukan kadar flavonoid sebesar 0,52% dalam ekstrak ini.
“Penggunaan CHX jangka panjang menimbulkan efek samping seperti noda pada gigi dan rasa yang tidak nyaman, sehingga tujuan penelitian ini adalah membuat obat kumur dengan efek samping minimal yang sesuai untuk anak-anak.”
Kutipan dari diskusi penelitian ini menegaskan bahwa motivasi di balik studi bukan sekadar membandingkan dua bahan, melainkan mencari alternatif yang lebih aman dan ramah bagi pasien anak.
Antara Potensi dan Tantangan Formulasi
Ada satu hambatan praktis yang perlu diatasi sebelum ekstrak ini bisa menjadi produk nyata: konsentrasi 50% terasa sangat pahit. Peneliti menyebutkan bahwa untuk dikembangkan menjadi obat kumur, ekstrak ini perlu dikombinasikan dengan bahan lain agar dapat diterima oleh anak-anak. Alternatif lain yang disarankan adalah menggunakannya sebagai aplikasi topikal untuk menghambat perlekatan bakteri pada permukaan gigi.
Penelitian sebelumnya oleh Babu dan kawan-kawan menunjukkan bahwa obat kumur berbahan kulit kakao sama efektifnya dengan CHX dalam menghambat Streptococcus mutans pada anak-anak. Sementara studi Matsumoto menemukan bahwa ekstrak kulit kakao dapat menghambat perlekatan S. mutans pada hidroksiapatit secara in vitro and in vivo. Dua temuan itu memperkuat relevansi penelitian dari FKG UGM ini.
S. alpha sendiri bukan satu spesies tunggal, melainkan kelompok yang mencakup S. mutans, S. sanguis, S. mitis, S. salivarius, dan beberapa spesies lain. Pengujian terhadap strain campuran ini membuat hasil penelitian lebih mencerminkan kondisi rongga mulut yang sesungguhnya, meski juga membuat perbandingan langsung dengan CHX menjadi sedikit lebih kompleks.
Karies gigi masih menjadi masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan pada anak-anak di Indonesia. Jika limbah dari pabrik cokelat di lereng bukit Gunungkidul suatu hari bisa menjadi bahan aktif obat kumur anak yang terjangkau dan aman, maka perjalanan panjang dari kulit biji yang terbuang itu akan menemukan maknanya yang paling utuh.
Sumber DOI : http://10.24198/pjd.vol34no2.37050
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels