News

/

Artikel, Latest News, SDG 10, SDG 3, SDG 4, SDG 5, SDG 9

Kista di Balik Senyum: Satu Tahun Tanpa Rasa Sakit, Satu Keputusan Bedah yang Menentukan

Selama hampir setahun penuh, perempuan berusia 63 tahun itu membiarkan gusinya membengkak. Tidak ada rasa nyeri, tidak ada keluhan berarti. Ia baru memeriksakan diri ke RSGM Prof. Soedomo UGM setelah benjolan di area gigi depan atas terasa semakin mengganggu. Hasil foto panoramik menjawab semua tanda tanya: sebuah kista radikuler bersarang di regio anterior maksila, meliputi area akar gigi 11, 12, 13, dan 14.

Temuan itu menjadi titik awal sebuah laporan kasus yang kini dipublikasikan dalam Indonesian Dentistry Magazine edisi Desember 2025. Studi bertajuk Enucleation of Radicular Cyst in the Maxillary Area ini ditulis oleh Tresy Charlotte Marito bersama tim dokter spesialis dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG UGM, yakni drg. Erdananda Haryosuwandito, drg. Pingky Krisna Arindra, Sp.B.M.M.Subsp.Ped.O.M.(K), dan drg. Bramasto Purbo Sejati.

Diam Bertahun-tahun, Tumbuh Perlahan

Kista radikuler adalah salah satu kista odontogenik yang paling sering dijumpai. Angkanya tidak main-main: kista jenis ini menyumbang 52 hingga 68 persen dari seluruh kista odontogenik di rongga mulut, dan 60 persennya berkembang di rahang atas. Paradoksnya, sebagian besar kasus berjalan tanpa gejala. Pasien tidak merasakan nyeri, tidak curiga, dan sering kali baru terdeteksi secara kebetulan melalui pemeriksaan radiologis rutin.

Dalam kasus ini, kista terbentuk dari sisa-sisa epitel Malassez yang teraktivasi oleh kondisi inflamasi kronis pada jaringan periapeks gigi non-vital. Bakteri dan produk sampingannya menyebar melalui foramen apikal, memicu resorpsi tulang alveolar, lalu mendorong proliferasi epitel. Lapisan epitel yang terbentuk bersifat semipermeabel, sehingga cairan masuk ke dalam lumen melalui osmosis, kista pun melebar perlahan seperti balon yang diisi sedikit demi sedikit.

Biopsi aspirasi yang dilakukan di Instalasi Laboratorium Klinik RSGM UGM Prof. Soedomo mengkonfirmasi isi kista: kristal kolesterol. Temuan ini selaras dengan karakteristik kista radikuler yang memang kerap mengandung kristal kolesterol dan jaringan fibrosa.

Pilihan Tindakan yang Tidak Sederhana

Keputusan untuk melakukan enukleasi, yaitu pengangkatan kista secara utuh beserta kapsulnya, tidak diambil begitu saja. Tim dokter mempertimbangkan beberapa faktor secara cermat: ukuran lesi yang mencapai 2 cm, lokasinya yang tidak berasosiasi dengan struktur vital seperti sinus maksilaris, foramen infraorbital, atau kavitas nasal, serta kondisi sistemik pasien yang tidak memiliki komorbiditas.

Usia 63 tahun membawa pertimbangan tersendiri. Penggunaan anestesi umum pada pasien lanjut usia meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas, sehingga pemeriksaan praoperatif yang menyeluruh menjadi keharusan. Karena tidak ditemukan penyakit penyerta, tim memutuskan prosedur dilakukan di bawah anestesi umum, mengingat ukuran kista yang terlalu besar untuk ditangani hanya dengan anestesi lokal.

Insisi dilakukan dengan pola trapezoid, dari sulkus distolabial gigi 21 hingga sulkus distolabial gigi 15. Desain flap trapezoid dipilih karena memberikan akses yang lebih luas dibanding flap triangular, penting untuk memastikan seluruh kapsul kista dapat diangkat tanpa menyisakan jaringan patologis. Setelah kapsul terangkat sempurna, kavitas tulang diirigasi, dikuret, dan spikula tulang dihaluskan sebelum penutupan luka primer dilakukan. Drainase menggunakan kasa yang direndam povidone-iodine 10% dipasang selama tiga hari pascaoperasi untuk mencegah akumulasi cairan dan ruang mati di dalam kavitas.

Tujuh Bulan Kemudian: Tulang yang Pulih, Pasien yang Lega

Pemantauan pascaoperasi dilakukan secara berkala. Pada hari ke-14, soket sudah menutup. Tujuh bulan setelah tindakan, pemeriksaan klinis dan radiologis menunjukkan tidak ada pembengkakan, tidak ada tanda infeksi, dan tidak ada rekurensi.

Hasil ini menegaskan nilai strategis teknik enukleasi: selain memungkinkan pengangkatan jaringan yang tuntas, spesimen yang diangkat dapat dikirim untuk pemeriksaan histopatologi, sehingga diagnosis lebih akurat dan potensi transformasi neoplastik, meskipun sangat jarang, dapat disingkirkan secara definitif. Pembentukan tulang baru di area kavitas, menurut literatur, memerlukan waktu 6 hingga 12 bulan untuk mengisi kembali rongga yang ditinggalkan kista.

Yang tersisa dari kasus ini adalah pengingat yang sederhana namun penting: kista radikuler sering tidak menyakitkan, tapi tidak berarti tidak berbahaya. Gigi yang mati tanpa perawatan, dibiarkan bertahun-tahun, bisa menjadi asal muasal sebuah lesi yang akhirnya membutuhkan tindakan bedah di bawah anestesi umum untuk menyelesaikannya.

Sumber DOI : https://doi.org/10.1016/j.identj.2024.07.1059

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
15 July 2026

Asam Klorogenik dalam Kopi Robusta Terbukti Jadi Biang Keladi Gigi Kuning, Peneliti FKG UGM Ungkap Mekanismenya

15 July 2026

Saat Kecerdasan Buatan Belajar Membaca Foto Rontgen Gigi Bungsu

15 July 2026

Ketika Lima Kali Operasi Belum Cukup: Satu Teknik Bedah yang Akhirnya Menutup Celah di Langit-Langit Mulut

en_US